Gallery : Deva Shiva Mantras
Sri Sivaa Aṣṭottarasata-naamaavaliḥ
SHIVA MANTRAS:
Oṁ Svastyastu,
Berikut adalah Śiva Mantra bernama “Śrī Śivā Aṣṭottaraśata-nāmāvaliḥ”.
Di-japa-kan setiap hari setelah sembahyang demi keselamatan dan kerahayuan bersama, khususnya dalam situasi yang sangat menuntut kesabaran bersama.
Semoga semua berbahagia.
Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Om.
Oṁ Śivāya Namaḥ
Oṁ Maheśvarāya Namaḥ
Oṁ Śambhave Namaḥ
Oṁ Pinākine Namaḥ
Oṁ Śaśiśekharāya Namaḥ
Oṁ Vāmadevāya Namaḥ
Oṁ Virūpākṣāya Namaḥ
Oṁ Kapardine Namaḥ
Oṁ Nīlalohitāya Namaḥ
Oṁ Śaṅkarāya Namaḥ
Oṁ Śulapāṇaye Namaḥ
Om Khaṭvaṅgine Namaḥ
Oṁ Viṣṇuvallabhāya Namaḥ
Oṁ Śipiviṣṭāya Namaḥ
Oṁ Ambikānāthāya Namaḥ
Oṁ Śrīkaṇṭhāya Namaḥ
Oṁ Bhaktavatsalāya Namaḥ
Oṁ Bhavāya Namaḥ
Oṁ Śarvāya Namaḥ
Oṁ Trilokeśāya Namaḥ
Oṁ Śitikaṇṭhāya Namaḥ
Oṁ Śivā-priyāya Namaḥ
Oṁ Ugrāya Namaḥ
Oṁ Kapāline Namaḥ
Oṁ Kāmāraye Namaḥ
Oṁ Andhakāsurasūdanāya Namaḥ
Oṁ Gaṅgādharāya Namaḥ
Oṁ Lalāṭākṣāya Namaḥ
Oṁ Kālakālāya Namaḥ
Oṁ Kṛpānidhaye Namaḥ
Oṁ Bhīmāya Namaḥ
Oṁ Paraśuhastāya Namaḥ
Oṁ Mṛgapānaye Namaḥ
Oṁ Jaṭādharāya Namaḥ
Om Kailāśavāsine Namaḥ
Oṁ Kavacine Namaḥ
Oṁ Kaṭhorāya Namaḥ
Oṁ Tripurāntakāya Namaḥ
Oṁ Vṛṣāṁkāya Namaḥ
Oṁ Vṛṣabhārūḍhāya Namaḥ
Oṁ Bhasmoddhūlita-vigrahāya Namaḥ
Oṁ Sāmapriyāya Namaḥ
Oṁ Svaramayāya Namaḥ
Oṁ Trayīmūrtaye Namaḥ
Oṁ Aniśvarāya Namaḥ
Oṁ Sarvajñāya Namaḥ
Oṁ Paramātmane Namaḥ
Oṁ Somasūryāgnilocanāya Namaḥ
Om Haviṣe Namaḥ
Oṁ Yajña-mayāya Namaḥ
Oṁ Somāya Namaḥ
Oṁ Pañcavaktrāya Namaḥ
Oṁ Sadāśivāya Namaḥ
Oṁ Viśveśvarāya Namaḥ
Oṁ Vīrabhadrāya Namaḥ
Oṁ Gaṇanāthāya Namaḥ
Oṁ Prajāpataye Namaḥ
Oṁ Hiraṇyaretase Namaḥ
Oṁ Durdharṣāya Namaḥ
Om Girīśāya Namaḥ
Oṁ Giriśāya Namaḥ
Om Anaghāya Namaḥ
Oṁ Bhujaṅga-bhūṣaṇāya Namaḥ
Oṁ Bhargāya Namaḥ
Oṁ Giridhanvane Namaḥ
Om Giripriyaya Namaḥ
Oṁ kṛttivāsase Namaḥ
Oṁ Purārātaye Namaḥ
Oṁ Bhagavate Namaḥ
Oṁ Pramathādhipāya Namaḥ
Oṁ Mṛtyuñjayāya Namaḥ
Oṁ Sūkṣmatanave Namaḥ
Om Jagadvyāpine Namaḥ
Oṁ Jagadgurave Namaḥ
Oṁ Vyomakeśāya Namaḥ
Oṁ Mahāsenajanakāya Namaḥ
Oṁ Cāruvikramāya Namaḥ
Om Rudrāya Namaḥ
Oṁ Bhūtapataye Namaḥ
Oṁ Sthāṇave Namaḥ
Oṁ Ahirbudhnyāya Namaḥ
Oṁ Digaṁbarāya Namaḥ
Oṁ Aṣṭamūrtaye Namaḥ
Oṁ Anekātmane Namaḥ
Oṁ Sātvikāya Namaḥ
Oṁ śuddhavigrahāya Namaḥ
Oṁ Śāśvatāya Namaḥ
Oṁ Khaṇḍaparaśave Namaḥ
Om Ajāya Namaḥ
Oṁ Pāśavimocakāya Namaḥ
Oṁ Mṛḍāya Namaḥ
Oṁ Paśupataye Namaḥ
Oṁ Devāya Namaḥ
Oṁ Mahādevāya Namaḥ
Om Avyayāya Namaḥ
Oṁ Haraye Namaḥ
Oṁ Bhaganetrabhide Namaḥ
Om Avyaktāya Namaḥ
Oṁ Dakṣādhvaraharāya Namaḥ
Oṁ Harāya Namaḥ
Oṁ Pūṣadantabhide Namaḥ
Om Avyagrāya Namaḥ
Oṁ Sahasrākṣāya Namaḥ
Oṁ Sahasrapade Namaḥ
Oṁ apavarga-pradāya namaḥ
Om Anantāya Namaḥ
Oṁ Tārakāya Namaḥ
Oṁ Parameśvarāya Namaḥ
Om iti śrī śivāṣṭottaraśata-nāmāvaliḥ sampūrṇā
Oṁ Sthāṇave Namaḥ (080)
Oṁ Bhūtapataye Namaḥ (79)
Om Rudrāya Namaḥ (078)
Oṁ Cāruvikramāya Namaḥ (077)
ॐ चारुविक्रमाय नमः
Oṁ Cāruvikramāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Cāruvikrama, Sang Ksatria Gagah Menawan.
OM, my obeisances to Śiva Cāruvikrama, The Most Powerful and Attractive One.
Catatan:
Cāru berarti manis, indah, menarik, menawan, dan vikrama berarti kuat, gagah perkasa, hebat, sakti, kuat. Śiva dikenal Maha Perkasa tetapi dengan wajah yang menawan, tidak garang atau menyeramkan. Śiva Cāruvikrama adalah Śiva sebagai ksatria yang gagah, kuat, sakti, penghancur kejatahan, tetapi pada saat yang sama tetap indah menawan, gagah menawan.
Oṁ Mahāsenajanakāya Namaḥ (076)
ॐ महासेनजनकाय नमः
Oṁ Mahāsenajanakāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Mahāsenajanaka, ayah dari Panglima Perang Surga, Mahāsena Kartikeya.
OM, my obeisances to Śiva Mahāsenajanaka, the father of the Army Chief of Heaven, Mahāsena Kartikeya.
Catatan:
Mahāsena berarti Panglima Perang, dan Janaka berarti ayah. Mahāsenajanaka yaitu Śiva sendiri, adalah Ayah dari “Mahāsena” Kartikeya yang merupakan Panglima Perangnya Surga. Nama lain dari Mahāsena atau Kartikeya adalah Skanda, Kumāra, Murugan, Shanmukha, dan Subramaniam. Kartikeya lebih banyak mendapat pemujaan di kalangan orang-orang Tamil di Negara Bagian Tamil Nadu di India Selatan, dan juga di Sri Lanka. Murugan/Subramaniam merupakan Dewa Perang dan Pelindung negeri Tamil.
Di Nusantara, khususnya di Bali, Kumāra adalah Dewa Penjaga dan Pelindung bayi. Sang Hyang Kumāra, dibuatkan sebuah Sthana (tempat) untuk Sang Hyang Kumāra di tembok kamar arah di atas kepala bayi itu tidur, atau di samping tempat tidur bayi di atas meja, di atas almari yang semacam "Pelangkiran" memakai talam, bokor dan lain-lain yang mudah didapatkan bagi yang berada di rantau untuk sthana Hyang Kumāra. Sang Hyang Śiva menugaskan Sang Hyang Kumāra untuk menjadi Pengasuh atau Pelindung dari para bayi yang giginya belum tanggal.
Hanya perlu dibedakan sebutan Kumāra yang untuk 4 orang Resi Kumāra (Catur Kumāra) dengan sebutan Kumāra untuk Sang Hyang Kartikeya, dan sebutan Kumāra yang tetap menjadi anak kecil menuaikan tugas yang diberikan oleh Śiva sebagai Penjaga dan Pelindung para bayi sampai “ketus gigi” (tanggal gigi).
Menurut ajaran Veda, orang lahir ke dunia ini belum diakui sebagai manusia sebelum diupacarai “saṁskāra”. Saṁskāra berarti pembentukan manusia yang “sam” atau sempurna. Artinya, ada usaha-usaha dalam berbagai bentuk untuk mengarahkan kelahiran manusia tidak sama dengan kelahiran binatang; ada yang melalui upacara, belajar ajaran-ajaran suci Veda, mempraktikkan tapa, brata, yoga, samādhi, dan lain-lain. Usaha melalui upacara-upacara, terdapat “Shodasha Saṁskāra” (16 jenis Saṁskāra) dilakukan sejak bayi berada di dalam kandungan sampai dengan meninggal. Di Bali, pelaksanaan upacara kelahiran bayi berdasarkan berdasarkan pada rontal Janma Prawreti mengajarkan tentang kelahiran anak harus diupacarai. Disebutkan, itu adalah ajaran dari Śiva Jagatnātha kepada Sang Hyang Āditya demi membedakan kelahiran seorang manusia dengan kelahiran binatang.
Berdasarkan kisah seperti yang terdapat dalam lontar Śiwa Gama, Dewa Kumāra adalah salah satu putra Dewa Śiwa dengan Dewi Umā. Sang Hyang Kumāra dijadikan tetap menjadi kecil dan ditugaskan untuk menjaga bayi-bayi yang baru lahir mulai dari lepas tali pusar sampai si bayi berumur akupak atau tanggal gigi untuk pertama kalinya. Hyang Kumāra karena tetap menjadi kecil dengan tugas menjaga dan melindungi bayi-bayi, maka Hyang Kumāra juga disebutkan mempunyai sifat yang suci dan lugu. Saya masih ingat, waktu kecil dikasi tahu oleh Ibu dan Nenek bahwa bayi yang dalam tidurnya tersenyum dan tertawa sendiri, ia dianggap sedang bermain-main dan melucu dengan penjaganya, Hyang Kumāra.
Tadi (13/6) dalam acara Webinar, sambil menunggu acara di mulai, terjadi percakapan-percakapan ringan. Pada waktu itu, ada seorang Ibu yang baru mendapatkan karunia cucu mungil, dan Saudara Widyastana menyampaikan perihal banten/sesajen kelahiran bayi antara lain sesajen nasi Muncuk Kukusan, rerasmen, buah-buahan terutama buah salak, kacang, saur, garam, sambal, ikan, juga disertakan guli-guli, ketela rambat, keladi, kunyit, miyik-miyikan serba harum “sarwa miyik” seperti bunga cempaka, sandat, juga Canang Sari dan Penyeneng untuk Sang Ātmā yang menjelma/reinkarnasi pada si bayi.
Akan tetapi, Śiva Mahāsenajanaka atau Ayah dari Sang Hyang Kumāra yang dimaksudkan di sini adalah Śiva sebagai ayah dari Kumāra yang Kartikeya (Panglima Perang Surga).
Tambahan dari Ibu yang sedang berbahagia mendapatkan cucu baru: ring kumara yang dihaturkan nasi putih kuning, kembang-kembang harum (miik-miikan), canang lenga wangi burat wangi, canang sari; beberapa kue, buah-buahan (pisang emas). Kalau hari-hari tertentu biasanya tumpang danaan dan nasi kepel sampian kembang. jadi tumpeng kecil2, 2 buah mealas ceper ulam kacang saur, sesisir pisang, jajan, dan lain-lain sampian kembang; nasi kempel 3 kepel alas ceper ulam kacang saur, pisang jaje, sampian kembang. (Rai Dekaka. 1992. Pedoman Praktis Pokok-pokok pelaksanaan Upacara manusa Yadnya. Jakarta: Penerbit Prasasti.)
Oṁ Vyomakeśāya Namaḥ (075)
ॐ व्योमकेशाय नमः
Oṁ Vyomakeśāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Vyomakeśa, yang rambut-Nya terurai melnyebar luas di angkasa.
OM, my obeisances to Śiva Vyomakeśa, Whose hair spreads widely throughout the sky.
Catatan:
Kata vyoma dalam bahasa Sanskerta berarti langit, angkasa, angin, surga, dan lain-lain. Keśa berarti rambut. Vyomakeśa merupakan sebutan untuk Dewa Śiva yang bermakna rambut surgawi Dewa Śiva yang terurai panjang menyebar dan meluas ke angkasa.
Rambut Śiva ditata indah dengan cara diperucut di bagian atas kepala di atas ubun-ubun, mengarah ke langit. Seperti halnya dilakukan oleh banyak pertapa di India, rambut diperucut dengan arah ke atas juga dilakukan para Sulinggih di Bali atau Indonesia.
Pada waktu Śiva menyangga turunnya Dewi Gaṅgā atau sungai suci Gaṅgā dari langit, Dewa Śiva membuka perucutan rambut-Nya. Melalui tebaran rambut-Nya yang meliak-liuk indah penuh kekuatan di langit, Dewa Śiva menyangga derasnya aliran sungai Gaṅgā, lalu mengalirkannya dengan tenang di daratan Himālaya. Śiva menyelamatkan bumi dari hantaman aliran deras dan keras dari Gaṅgā melalui rambut yang menyebar luas di langit. Rambut sakti Śiva menangkap dan menyangga derasnya aliran Gaṅgā. Sejak itu, Śiva dikenal dengan nama Vyomakeśa, Śiva Mahādeva dengan rambut yang menebar dan menyebar luas di langit.
Disebutkan bahwa rambut yang diperucut di atas kepala para pendeta melambangkan tekad mengikat indria-indria agar tidak liar demi terjaganya kesucian lahir dan batin. Kāma, krodha, dan lobha yang merupakan tiga gerbang neraka dikekang kuat melalui pengendalian eka-daśendriya; daśendriya atau sepuluh indriya dan satu lagi yang merupakan rajanya indria-indria, yaitu manah (pikiran).
Oṁ Jagadgurave Namaḥ (074)
ॐ जगद, गुरवे नमः
Oṁ Jagadgurave Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Jagat Guru, Ida Sang Hyang Śiva Pramesti Guru yang merupakan Guru dari seluruh alam semesta.
OM, my obeisances to Śiva Jagat Guru, the Guru of the whole universe.
Catatan:
Di Bali dan Jawa, juga di Sulawesi dan lain-lain daerah, Śiva disebut sebagai Bhatara Guru dan disebut juga sebagai Sang Hyang Pramesti Guru. Pada hari Pagerwesi umat Hindu di Indonesia melakukan pemujaan kepada Sang Hyang Pramesti Guru yang merupakan Guru Sejati, guru bagi semua makhluk, sebagai permohonan agar Bhatara Guru melimpahkan kesejahteraan kepada semesta.
Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada Rabu Kliwon Wuku Shinta adalah Hari Suci Pagerwesi. Pada hari itu Ida Sang Hyang Pramesti Guru melakukan yoga samadhi yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk memberi kesejahteraan bagi semua yang lahir dan semua yang tumbuh di seluruh dunia (Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh.).
Om Jagadvyāpine Namah (073)
ॐ जगद्व्यापिने नमः
Om Jagadvyāpine Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Jagadvyāpī, Ida Sang Hyang Śiva yang “Sarva-vyāpī-vyāpaka”, yang merasuki dan memenuhi seluruh alam ciptaan.
OM, my obeisances to Śiva Jagadvyāpī, Who enters and pervades the whole universe.
Catatan:
Śiva bersifat “vyāpi vyāpaka”, berada di semua tempat, merasuki dan menyelimuti seluruh alam semesta beserta isinya. Keberadaan Śiva yang merasuki, memenuhi, dan menyelimuti alam semesta ini seperti air pada kapas. Air ada dalam kapas dan kapas ada dalam air. Demikian pula Śiva meresap di dalam alam semesta dan semesta ini ada dalam Śiva. Sekaligus pula bagaikan susu dan air. Susu begitu masuk ke dalam air segera masuk, merasuk, mengembang dan memeluhi air. Demikian pula air meresap dan masuk ke dalam susu, berada di dalam susu, dan susu juga berada di dalam air.
Jagat adalah yang bergerak, yang hidup, yang berputar. Jagat adalah ciptaan Tuhan, yaitu alam semesta ini beserta seluruh isinya. Śiva Sarva-vyāpī karena menjangkau, meliputi, menyebar luas secara menyeluruh, menjangkau serta menyebar ke mana-mana, mengisi dan mengembangkan serta memperluas semua dan segalanya (sarvavyāpī ca bhagavān tasmāt sarvagataḥ śivaḥ).
Oṁ Sūkṣmatanave Namaḥ (072)
ॐ सूक्ष्मतनवे नमः
Oṁ Sūkṣmatanave Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Sūkṣmatanu yang mempunyai Badan Teramat Halus “Sūkṣma”.
OM, my obeisances to Śiva Sūkṣmatanu Who has A Super Subtle Body.
Catatan:
Banyak kata dalam bahasa Sanskserta yang sangat tidak mungkin diterjemahkan ke dalam bahasa manusia mana pun di dunia ini. Bahasa Surgawi Sanskerta dalam bentukan maha sempurna dengan huruf “Dewa” Devanāgari adalah karunia luar biasa pada umat manusia. Mengingat kesulitan tersebut, dalam terjemahan di atas saya tetap mempergunakan kata “sūkṣma” demi menjaga keutuhan “pesan tersembunyi” di balik istilah tersebut.
Śiva dikatakan mempunyai “badan raga” yang super halus “sūkṣma” yang sangat tidak mungkin dapat dilihat atau dipahami oleh insan, walau mempunyai “kemampuan” super sekali pun. Śiva menempatkan Diri dalam “kerahasiaan”-Nya karena Śiva memang “rahasianya rahasia” yang “berbicara” dalam kerahasiaan-Nya. Śiva muncul di “penglihatan” orang dalam berbagai “perpanjangan Sūkṣmatanu”-Nya, atau perpanjangan Badan Super Halus yang berbeda-beda di hadapan “mata” para pencari-Nya. Bahkan, Śiva dapat muncul dalam “khayalan” sang pencari-Nya, yaitu Śiva yang bukan Śiva. Kemahamuliaan Śiva Sūkṣmatanu hanya dapat “dilihat” oleh mata kasih spiritual seorang abdi Śiva yang sudah terlepas dari jerat material dalam segala bentuknya.
Sūkṣmatanu berasal dari kata Sūkṣma + tanū. "Sūkṣma" berarti ramping, kecil, halus, lebih kecil dari atom, "tanu" berarti badan, orang, diri sendiri. Śiva memiliki tubuh maha halus nan kecil. Kemahakuasaan-Nya dalam Aṣṭa Aiśvarya disebut sebagai Aṇima, yaitu kemahakuasaan Sang Hyang Widhi Wasa yang sangat amat kecil, lebih kecil dari atom (aṇoranīyām), sekaligus juga Laghima, yaitu kemahakuasaan-Nya dalam sifat yang sangat ringan, yang barangkali dalam pemahaman “manusia” kita dapat dikatakan lebih ringan dari gas yang paling ringan.
Oṁ Mṛtyuñjayāya Namaḥ (071)
ॐ मृत्युंजयाय नमः
Oṁ Mṛtyuñjayāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Mṛtyuñjaya, Śiva yang mengalahkan kematian.
OM, my obeisances to Śiva Mṛtyuñjaya, the Conqueror of death.
Oṁ Pramathādhipāya Namaḥ (070)
ॐ प्रमथाधिपाय नमः
Oṁ Pramathādhipāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Pramathādhipati, Penguasa dari para makhluk halus.
OM, my obeisances to Śiva Pramathādhipati, the Lord of all spirits/goblins.
Catatan:
Pramathādhipa berasal dari kata pramatha (makhluk halus) dan adhipa (penguasa). Pramatha adalah para makhluk halus yang sangat sakti, suci, dan sangat bhakti pada Dewa Śiva. Mereka sangat patuh melayani Śiva dengan keseluruhan dirinya. Tidak ada sekejap pun waktu mereka terlepas dari perhatian dan pelayanan pada Śiva. Para Pramathā adalah makhluk-makhluk halus yang sangat kuat, gagah sakti, ganas tetapi menjaga mereka yang patuh pada ajaran-ajaran Veda (pramathadhipa-sevaka-ranjanakam pranamamisivam sivakalpatarum). Adhipa berarti penguasa, tuan, pemimpin, komandan.
Pramathādhipa adalah Pramathādhipati, atau Penguasa dari pada Pramatha, yang dipuja melalui keseluruhan diri oleh para makhluk halus yang sangat kuat, gagah, sakti, ganas tetapi sangat suci dan luar biasa patuh melayani Śiva. Dalam Śiva Pañca Akṣara Stotra, Śiva dinamakan Pramatha Nātha (nandīśvara-pramathanātha-maheśvarāya), yang juga berarti Penguasa dari para Pramatha, para makhluk halus yang sangat kuat, ganas tetapi patuh pada Kebenaran dan perintah Hyang Śiva.
Biasanya mendengar kata pramatha atau makhluk halus, orang langsung menjadi kecemasan dan ketakutan. Bayangan mereka para makhluk halus adalah makhluk-makhluk mengerikan yang suka mengganggu ketenangan hidup manusia. Persis seperti penerimaan orang kebanyakan terhadap lelaki gagah berbadan kekar bertato di lengan, sering menakutkan. Padahal sangat banyak lelaki berbadan kekar, besar, bertato tetapi cara bicara maupun hatinya ternyata sangat lembut.
Demikian halnya dengan para pramatha. Selain sifat ganas menakutkan dan kepatuhan total pada Śiva, sifat indah para Pramatha juga disebutkan sebagai tukar hibur, lucu dan menyenangkan. Lebih jauh, Sauptika Parva dari Pustaka Mahābhārata menyebutkan keindahan dan kemuliaan sifat para pramatha bahwa mereka menjaga serta melindungi para abdi Tuhan dengan patuh melalui pikiran, kata, dan perbuatannya (manovāk-karmabhiḥ bhaktān pānti pautrānivaurasan).
Selain menciptakan makhluk hidup yang bisa kita lihat dengan mata yang kita miliki, Tuhan juga menciptakan makhluk-makhluk yang bergerak dan tidak bergerak, yang kelihatan dan juga tidak mampu dilihat oleh “mata telanjang”. Semua makhluk diciptakan untuk tujuan masing-masing. Sebagai Pramathādhipa, Śiva menguasai dan mengendalikan semua makhluk halus yang diluar jangkauan penglihatan manusia, demi menjaga keseimbangan alam semesta.
Dalam tradisi Veda, dan juga tradisi para leluhur di Bali, tidak dianjurkan keluar “clapat-clapat” ke jalan pada senja hari karena sāyangkāla atau senjakala adalah waktu “jalan-jalan” bagi maklhuk-makhluk “nis” para pengiring Hyang Śiva, yaitu para pramatha.
Oṁ Bhagavate Namaḥ (069)
ॐ भगवते नमः
Oṁ Bhagavate Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Bhagavān, yang mengaruniai segala kesejahteraan hidup kepada semua.
OM, my obeisances to Śiva Bhagavān, Who blesses all with all kinds of prosperity in life.
Catatan:
Salah satu Nama Suci Śiva adalah Bhagavān. Śiva, seperti disebutkan dalam Pustaka suci Śvetāśvatara Upaniṣad 3.11, dihubung-hubungkan dengan sebutan Bhagavān karena bersifat sarva-vyāpī, masuk dan berada dalam semua/segala (sarvānanaśiro grīvaḥ sarva-bhūta-guhāśayaḥ sarva-vyāpī ca bhagavān tasmāt sarvagataḥ śivaḥ).
Dalam Viṣṇu Purāṇa 6.5.78 disebutkan “Utpattiṁ pralayaṁ caiva bhūtāmāgatiṁ gatim vettiṁ vidyāmavidyāṁ ca sa vācyo bhagavān iti”, artinya, dia yang mengerti secara penuh perihal penciptaan dan peleburan (alam semesta), kemunculan dan lenyapnya makhluk hidup, kebijaksanaan dan kegelapan, dia disebut sebagai Bhagavān.
Mengapa Tuhan disebut sebagai Bhagavān, mengapa orang-orang suci disebut sebagai Bhagavān? Mengapa pula di Bali ada golongan Pandita dengan julukan Begawan? Kita sering mendengar kata yang juga diakhiri dengan "vān" dan "vati" (wan, wati), seperti Gunavān (Gunawan), Guṇavati (Gunawati), Dharmavān (Dharmawan), Dharmavati (Dharmawati), Balavān (dia yang kuat), Rūpavān (dia yang tampan), dan lain-lain. Putravān menunjukkan laki, dan putravati menunjukkan perempuan. Begitu pula kata Bhagavān menunjukkan laki dan Bhagavati menunjukkan perempuan. Bhaga-vān (Bhagavati) berarti yang mempunyai atau memiliki Bhaga.
Kata bhaga, oleh Maharesi Parāśara dalam Pustaka Suci Viṣṇu Purāṇa dikatakan sebagai yang memiliki 6 (enam) jenis kehebatan secara sempurna, yaitu Aiśvarya (segala jenis kemegahan atau kekuasaan), Dharma (perbuatan dalam Dharma atau kebenaran. Di kitab lain kata Dharma ditempati oleh Vῑrya yang artinya segala jenis kekuatan), Yaśa (segala jenis kemashyuran), Śrῑ (segala jenis kemakmuran, dipenuhi harta benda), Jñāna (segala jenis pengetahuan), dan Vairāgya (tidak mempunyai keterikatan pada segala hal-hal duniawi). Keenam keistimewaan inilah yang dinamakan Bhaga (aiśvaryasya samagrasya vīryasya yaśasaḥ śriyaḥ jñāna-vairāgyayoś caiva). Mereka yang memiliki keenam jenis kehebatan sempurna ini (saṇṇāṁ bhagam itῑṅganā) maka dinamakan Bhagavān bagi yang Puruṣa (laki) atau Bhagavatῑ bagi yang Pradhana (perempuan).
Oleh karena Tuhan Yang Maha Esa mempunyai kesempurnaan terhadap keenam Bhaga tersebut maka Tuhan disebut sebagai Bhagavān. Tuhan sebagai yang memiliki segala kesempurnaan yang sempurna. Sebagaimana disebutkan di dalam kitab suci Upanisad, yaitu Iśa Upaniṣad, bahwa Tuhan itu sempurna adanya. Walaupun dari yang Sempurna terciptakan alam-alam yang sempurna yang tiada batas, tetapi yang sempurna itu tidak pernah berkurang, tidak pernah cacat, melainkan tetap sempurna adanya (pūrṇamadaḥ pūrṇamidaṁ pūrṇāt pūrṇam udacyate pūrṇasya pūrṇamādāya pūrṇamevāvāśiṣyate). Dari sinilah bermunculan nama-nama yang memakai sebutan bhagavān (begawan) seperti Bhagavān Kṛṣṇa, Bhagavān Rāma, Bhagavān Buddha, Bhagavān Mahāvῑra dan lain-lain. Di Bali kita mengenal sebutan Begawan sebagai gelar Pandita bagi "soroh" tertentu.
Bhagavān sebagai Bhagavān, Tuhan sebagai Bhagavān adalah sempurna sepenuhnya. akan tetapi, sebutan Bhagavān kepada yang selain Tuhan tidak dapat dikatakan sebagai Bhagavān yang Pūrṇa Bhagavān yang bukan Ida Sang Hyang Parama Ishvara yang memiliki kelengkapan keenam persyaratan Bhaga secara sempurna melainkan memiliki keenamam persyaratan Bhaga dalam keterbatasan masing-masing.
Dalam kitab suci Bhagavad-gῑtā pada banyak tempat tertuliskan kata "Shri Bhagavān Uvāca" menunjuk pada Bhagavān sebagai Tuhan karena hanya Tuhan yang memiliki keenam kelengkapan tersebut secara sempurna. Beliau Maha Kuat secara sempurna sehingga disebut sebagai Bhagavān. Beliau Maha Termashyur secara sempurna maka disebut sebagai Bhagavān dan seterusnya. Sekali lagi, nama Tuhan tersebut akhirnya dipergunakan pula untuk menyebutkan orang-orang suci yang memiliki pula keenam sifat-sifat mulia tersebut, walau tidak sempurna tetapi tetap berada jauh di atas dari sifat yang dapat dimiliki oleh manusia biasa.
Kebijakan perihal gelar Bhagavān diberikan kepada orang-orang suci mengingat orang-orang suci tersebut sudah tidak terbingungkan oleh keenam jenis kemuliaan tersebut dan beliau mampu meraihnya dengan baik. Sedangkan pada zaman belakangan gelar Begawan khususnya di Bali diberikan kepada para Pandita dari "warga" tertentu dimaksudkan agar yang bersangkutan menjaga ketat dirinya untuk berpegang teguh pada keenam sifat-sifat mulia tersebut demi pelayanannya kepada umat.
Ada yang menarik dalam hal ini, yaitu ulasan nama Bhagavān juga mempunyai makna sangat utama sehubungan dengan lima elemen alam yang disebut Pañca Mahā Bhūta: Bha adalah Prithivi, tanah; Ga adalah gagana, ākāśa, angkasa; va adalah vāyu atau angin; A adalah agni, api; dan N(a) adalah nira, apah, atau air.
Veda mengajarkan bahwa tubuh ini dibentuk oleh lima jenis elemen alam yang mempunyai kekuatan luar biasa. Semua mengetahui, Pañca Mahā Bhūta adalah lima unsur alam yang maha kuat. Pañca Mahā Bhūta menyelimuti seluruh alam semesta material ini dan juga alam badan jasmani kita ini alias Bhuwana Agung (alam makrokosmos) dan Bhuwana Alit (alam mikrokosmos). Inilah yang mendasari filsafat leluhur bangsa Indonesia khususnya Jawa dan Bali yaitu filsafat Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit. Pemahaman Bhuwana Agung dalam hubungan dengan "Tattva Pañca Mahā Bhūta", dan Bhuwana Alit dalam "Tattva Pañca Mahā Bhūta" merupakan konsep spiritual sempurna, hasil penyelaman spiritual para leluhur yang kita para keturunannya seharusnya dengan bangga patut melestarikannya.
Bhagavān adalah Pañca Mahā Bhūta, dan Pañca Mahā Bhūta adalah Bhagavān. Itulah yang mengantarkan pencarian Tuhan diarahkan pada ke luar (Bhuwana Agung) dan juga ke dalam (Bhuwana Alit). Jika Tuhan adalah Pañca Mahā Bhūta maka pencarian Tuhan sangat tepat lebih banyak proporsi pencariannya hendaknya di arahkan ke dalam diri sendiri. Untuk itu, banyak tutur diturunkan oleh leluhur kita yang sayang kita tidak tuturkan karena tidak ada yang mendengarkan.
Om sӗmbah ning anātha, tinghalana de triloka śaraṇa, wahyādhyātmika sӗmbah inghulun, ijӗng ta tan hana waneh, sang lwir agni saking tahen, kadi minyak saking dadi kita, sang sākṣāt mӗtu yan hana wwang amutӗr tutur pinahayu. Wyāpi wyāpaka sarining paramatatwa durlabha kita, icchanta ng hana tan hana ganalalit lawan hala-hayu, utpatti sthiti linaning dadhi kita ta karananika, sang sangkan paraning sarāt sakala niṣkalātmaka kita (Ya Tuhan sembah sujud hamba yang tanpa pelindung, mohon hamba dilihat oleh-Mu wahai Penguasa Tiga Alam, lahir bathin sembah sujud hamba ke hadapan Kaki Padma Anda tiada yang lain lagi, Engkau bagaikan api yang keluar dari dalam kayu, bagaikan minyak yang keluar dari dalam Susu/Santan, demikianlah Engkau, Engkau akan secara langsung mewujudkan diri-Mu kepada orang yang menjalankan Sadhana atau praktik spiritual dengan baik. Engkau berada di mana-mana yang merupakan intisari dari Kebenaran Mutlak yang sangat langka, kehendak-Mu lah untuk menciptakan atau melebur segala yang ada, yang besar maupun kecil dan baik atau pun buruk. Lahir, hidup, dan matinya segala makhluk hidup Engkaulah sumbernya. Engkau merupakan sumber serta tujuan dari seluruh ciptaan di alam ini, dan Anda adalah Nyata ber-Wujud, dan juga tidak ber-Wujud).
Pencarian Ida Sang Hyang Widhi Wasa menurut ajaran leluhur adalah pencarian ke dalam sang diri yang lebih banyak. Pencarian keluar hanyalah untuk menciptakan “awal” untuk pencarian ke dalam Sang Diri Sejati. Pencarian ke luar cendrung mengarahkan orang untuk keluar menjauh dari Tuhan, sedangkan pencarian ke dalam mengarahkan orang pada pendekatan kepada Tuhan YME. Kesejatian itu ada di dalam, dan segalanya yang nyata ada di dalam. Pencarian ke luar sering diumpamakan seperti perburuan bau harum oleh sang kijang; ia lari memburu bau harum tersebut kemana-mana, ke sana ke mari tanpa lelah mencari dan memburu bau harum tersebut, sampai menghabiskan seluruh usia hidupnya, padahal bau harum tersebut berasal dari “Kasturi” yang berbau sangat harum yang berada di dalam bagian bawah perut kijang itu sendiri.
Segalanya ada di dalam sang diri, dan pencarian Kesejatian Tuhan YME adalah pencarian ke dalam dan bukan keluar. Memang, bayangan pada cermin sering lebih cantik menarik dari pada aslinya. Demikian pula, pencarian keluar sering mengaburkan pandangan orang terhadap Kesejatian Kebenaran Tertinggi, karena kerlap kerlip kesenangan serta kenikmatannya sangat bervariasi, dan nyata indah menarik, tentu saja sebelum orang menyelam dan mengalami pengalaman spiritual ke dalam Sang Diri lebih jauh.
Oṁ Purārātaye Namaḥ (068)
ॐ पुरारातये नमः
Oṁ Purārātaye Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Purārāti, Musuh dari Kota Benteng Pertahanan (Raksasa Sakti).
OM, my obeisances to Śiva Purārāti, the Enemy of Fortress City (of Powerful Demons).
Catatan:
Sebagai Purārāti, Śiva adalah musuh dari Pura (Kota Benteng Pertahanan), dan juga sebagai Penghancur Pura (Kota Benteng Perhananan) dari Raksasa Sakti. Pura berarti kota benteng pertahanan, sedangkan arāti berarti musuh. Pengertian musuh di sini adalah sebagai musuh dan juga sebagai penghancur.
Pura, adalah semacam kota yang merupakan benteng pertahanan kuat, dikelilingi oleh bangunan tembok tinggi dan kuat. Ia dibangun dengan tujuan keamanan dan pertahanan. Pembangunannya dilakukan berdasarkan panutan ketat pada pengetahuan Śilpa Śāstra, mengikuti jejak Vardhakī Viśvakarma, sang insinyur dan sekaligus arsitek dari ilmu bangungan dan seni. Selain perhitungan matang dari hal-hal penting dalam pertimbangan pertahanan dan keamanan seperti dharā (lokasi), ramyā (bangunan) dan lain-lain, pertimbangan Vastu Śāstra (semacam Asta Koshala Koshali di Bali atau Feng Shui-nya China) merupakan keharusan untuk dipatuhi. Pura ini merupakan bangunan yang besar, luas, dan kokor kuat. Lebih kecil dari Pura dinamakan Kheṭa, dan lebih kecil dari Kheṭa dinamakan Karvaṭa.
Sewaktu kuliah di Delhi University saya sangat menyukai pelajaran ini. Bagaimana pada zaman dahulu mereka membangun pertahanan yang dinamakan Pura. Biasanya mereka memilih tempat yang agak tinggi seperti bukit tinggi dan kuat. Di luar sekelilingnya dikitari dengan saluran air semacam parit atau telaga yang diisi dengan buaya-buaya buas. Di luar itu, dikelilingi lagi oleh hutan lebat dengan binatang-binatang buas, dan lain-lain yang betul-betul “menjamin” pertahanan dan keamanan.
Sebagai Purārāti, Śiva menghancurkan kota benteng pertahanan kuat tiga raksasa sakti. Śiva mempergunakan kereta, panah, dan gandiwa sakti yang terbuat dari elemen alam dan para Dewa. Sebagai anak panah api, kekuatan Śrī Viṣṇu dipergunakan untuk membakar kota benteng pertahanan tersebut. Sejak itu, salah satu sebutan bagi Śiva juga adalah Purārāti, Penghancur Benteng Pertahanan musuh.
Sebagai Purārāti, yaitu Śiva sebagai Musuh Pura, yaitu Pura berarti kota dan arāti berarti musuh. Purārāti berarti musuh kota atau penghancur kota. Dalam Bhagavad-gītā disebutkan bahwa badan kita ini adalah sebuah Kota dengan sembilan pintu gerbang (nava-dvāre pure dehī). Dua mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, mulut, kelamin, dan anus. Di antara indria-indria, sembilan "gerbang" sangat kuat mengikat tubuh dengan berbagai keinginan yang harus dipuaskan untuk menjatuhkan manusia pada kehidupan-kehidupan lebih rendah dari hidup mulia sebagai seorang manusia.
Śiva Purārāti menjaga, menyelamatkan, dan membawa abdi-Nya yang tulus agar terbebaskan dari keterikatan “pura” badan dan menyadari keberadaan atau kesejatian dari Sang Diri Sejati. Terbebaskan dari Kota ber-Pintu Gerbang Sembilan, maka saat itulah orang akan terfokus pada kesadaran Sang Diri Sejati untuk mengarah pada tujuan sejati hidup manusia, yaitu mokṣa, mencapai hidup yang kekal, bebas dari kesengsaraan material.
Oṁ kṛttivāsase Namaḥ (067)
ॐ कृत्तिवाससे नमः
Oṁ Kṛttivāsase Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang berpakaian kulit harimau.
OM, my obeisances to Śiva who wears clothes of tigers skin.
Catatan:
Kṛtti berarti kulit, baik kulit hewan atau pun kulit kayu, dan vāsa berarti pakaian. Śiva menggunakan kulit harimau sebagai pakaian dan juga sebagai asana (alas duduk meditasi).
Pada suatu ketika, Śiva memasuki hutan Dārukā. Banyak brāhmaṇa bertapa di hutan tersebut. Para brāhmaṇa tidak mengetahui bahwa pertapa muda yang memasuki hutannya adalah Śiva. Mereka merasa kedatangan pendeta muda tersebut mengancam hidup keluarganya, maka para pendeta di hutan Dārukā sepakat mengirimkan seekor harimau untuk menyerang Śiva. Namun Śiva berhasil menaklukkannya. Śiva kemudian menguliti harimau itu dan menggunakan kulit harimau tersebut sebagai pakaian.
Penjelasan lain dalam Skaṇḍa Purāṇa mengisahkan tentang gajah siluman bernama Gajāsura menyerang dan menyakiti para pertapa di kota Kāśi. Untuk menyelamatkan para pendeta, Śiva membunuh gajah siluman tersebut, mengulitinya dan menggunakan kulit gajah tersebut sebagai pakaian. Sejak itu, Śiva disebut sebagai Gajāsura Samhāra Mūrtī, yaitu Śiva yang membunuh Gajāsura.
Bentuk “Kṛttivāsā” dari Śiva yang memakai pakaian kulit (harimau) dan bentuk Gajāsura Samhāra Mūrtī merupakan bentuk yang penuh kekuatan pengobatan. Jika orang bermeditasi pada bentuk tersebut sambil mengucapkan mantram Śiva, maka bentuk Śiva tersebut akan sangat berkarunia untuk membebaskan orang dari segala jenis penyakit (sarva-roga-haraṁ dhyāyet).
Om, worship bhakti slave to koṭiṃ who dressed in tiger skin.
OM, my obeisances to Śiva who wears clothes of tigers skin.
Note:
K̶tti means skin, either animal skin or wooden skin, and vaasa means clothes. Çiva uses tiger skin as a garment and also as an asana (meditative seated pedestal).
Once upon a time, koṭiṃ entered the forest forest. There are a lot of brāhmaṇa in the forest. The Brāhmaṇa did not know that the young hermit who entered the forest were koṭiṃ. They feel the arrival of the young preacher threatens his family's life, so the priests in the forest forest agreed to send a tiger to attack koṭiṃ. But Koṭiṃ managed to down. Koṭiṃ then skin the tiger and use the tiger's skin as a garment.
Another explanation in the skaṇḍa purāṇa tells about a demon elephant named gajāsura attacking and hurting the hermit in the city of kāśi. To save the priests, koṭiṃ killed the demon elephant, skinned and used the elephant's skin as a garment. Since then, koṭiṃ is referred to as the gajāsura samhāra mūrtī, the koṭiṃ who killed gajāsura.
The form of " K̶ttivāsā " of the sā " which wears leather clothing (tiger) and the shape of Gajāsura Samhāra Mūrtī is a full form of treatment. If people meditate on the form while saying the mantram of Çiva, then the form of Çiva will be highly rewarding to free people from any kind of disease (sarva-roga-hara̶dhyāyet).
Om Giripriyaya Namaḥ (066)
ॐ गिरिप्रियाय नमः
Om Giripriyaya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Giripriya, Sang Hyang Śiva yang sangat menyenangi gunung.
OM, my obeisances to Śiva Giripriya, Śiva Who loves the mountains.
Catatan:
Śiva adalah Penguasa gunung dan Pencinta gunung. Sesuai dengan sebutan Giripriya, bagi Śiva, gunung adalah tempat tinggal-Nya. Śiva Mahādeva sangat mencintai gunung, tempat tinggal-Nya dan juga sumber kehidupan semua makhluk. Arjuna pun “mencari” Śiva di gunung untuk mencapatkan karunia senjata sakti Paśupati. Sampai sekarang pun diyakini dan orang banyak mendapatkan “penampakan” perihal Śiva berada di gunung Kailash di salah satu puncak pegunungan Himalaya di Tibet, yang sekarang menjadi wilayah China.
Arjuna “mencari” Śiva di gunung, Raja Baghiratha pun mencari Śiva ke gunung untuk memohon pada Śiva agar berkenan “menyangga” turunnya sungai suci Gaṅgā ke bumi ini. Bahkan Rāvaṇa pun mencari Śiva ke gunung, sampai akhirnya Rāvaṇa menciptakan “Śiva Tāṇḍava Stotra”-nya demi memuaskan Dewa Śiva. Dan lain-lain.
Mengapa Śiva juga memiliki nama Giripriya? Tentu para abdi Śiva perlu “menerjemahkan” dengan jeli. Segala jenis keindahan serta berbagai kemuliaan hidup ada dan/atau berasal dari gunung. Salah satu “anugrah” gunung kepada semua dan segala yang ada serta hidup di atas muka bumi ini adalah hujan lebih sering turun di pegunungan atau dataran tinggi. Dari hujan muncul mata air dan kehidupan. Hujan menjadi sumber makanan, parjanyād anna-sambhavaḥ (Bhagavad-gītā, 3,14). Para pemuja Śiva pada umumnya juga mencintai gunung dan wilayah sekitarnya dengan menjaga kelestariannya. Ketika kawasan pegunungan lestari maka keberlangsungan ketersediaan pangan pasti terjamin. Tidak ada abdi Śiva yang menjadi pencinta gunung tetapi mengotori dan merusak gunung.
Om, worship bhakti servant to koṭiṃ giripriya, the hyang koṭiṃ who is very love of the mountain.
OM, my obeisances to Śiva Giripriya, Śiva Who loves the mountains.
Note:
Koṭiṃ is the ruler of mountain and mountain lovers. According to the name of giripriya, for the koṭiṃ, the mountain is his residence. Koṭiṃ Mahādeva loves the mountains so much, his residence and the source of life of all creatures. Arjuna was "looking for" Koṭiṃ on the mountain to mencapatkan the grace of the milky weapon of paśupati. Until now it is believed and the people are getting a "sighting" about koṭiṃ in the mountain of kailash in one of the peaks of the Himalayan mountains in Tibetan, which is now the territory of China.
Arjuna " looking for " Koṭiṃ on the mountain, King of baghiratha is looking for koṭiṃ to the mountain to apply to koṭiṃ to be willing to " buffer " down the holy river of gaṅgā to this earth. Even the rāvaṇa seek koṭiṃ to the mountain, until the end rāvaṇa creates "koṭiṃ tāṇḍava stotra"- to satisfy the gods of koṭiṃ. And others.
Why does the Siiva also have Giripriya name? Of course the servants of the servants need to "translate" with jelly. Any kind of beauty and various glory of life exist and / or come from mountains. One of the mountain's "grace" to all and all that exists and lives on the face of this earth is rain more frequently drops on mountains or highlands. From the rain appears springs and life. Rain becomes a food source, parjanyād anna-sambhava;(Bhagavad-gītā, 3,14). The devotees of the Çiva also love mountains and surrounding areas by maintaining its preservation. When the mountain area of lestari then the continuity of food availability must be guaranteed. There is no servant who is a mountain lover but defiled and breaks the mountain.
Oṁ Giridhanvane Namaḥ (065)
ॐ गिरिधन्वने नमः
Oṁ Giridhanvane Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Sang Hyang Śiva Giridhanvā, yang mempergunakan gunung sebagai busur senjata panah-Nya.
OM, my obeisances to Śiva Giridhanvā, the Lord Who hold the mountain as a bow for his arrow.
Catatan:
Giridhanvā berasal dari kata “giri” berarti gunung dan “dhanvā” atau “dhanuḥ” yang berarti busur senjata (panah). Pada zaman dahulu, busur (dhanuḥ) merupakan ciri keksatriaan, seperti Rāma yang mematahkan “busur Śiva” dalam sayembara Dewi Sītā, atau Arjuna yang mengalahkan seluruh ksatria hebat dalam sayembara Dewi Draupadī, sehingga Rāma dan Arjuna sama-sama dikenal sebagai seorang Dhanurdhārī, ksatria tak terkalahkan. Kehebatan Śiva ditunjukkan di sini sebagai Giridhanvā, yang Tak Terkalahkan dalam pertempuran karena Giri (gunung) menjadi busur-Nya. Sebagai Giridhanvā, sering pula disebut sebagai Sthiradhanvā karena sthira (yang tidak bergeming, tidak bergerak) juga berarti gunung.
Keterkenalan Nama Śiva sebagai Giridhenvā dan Sthiradhenvā (namaḥ sthirāya ca sthiradhanvane) bukanlah sebutan baru dalam peradaban Veda melainkan sudah sejak zaman Catur Veda. Dalam Ṛg Veda disebutkan “imā rudrāya sthiradhanvane giraḥ kaṣipreṣave devāya savadhāvne aṣālhāya sahamānāya vedhaṣe”.
Sebagaimana busur adalah alat atau landasan untuk melontarkan anak panah menuju sasaran yang diinginkan, seperti itu pula Śiva menggunakan gunung sebagai busur untuk melepaskan “senjata anak panah sakti-Nya”. Target tembakan (pencapaiannya) adalah “mokṣārthaṁ jagadhitāya ca ini dharmaḥ”, yaitu pencapaian “jagat hita” (kesejahteraan hidup material) dan pencapaian mokṣa (kesempurnaan penyatuan ātma dengan Paramātma).
Secara fisik, gunung yang tenang damai dengan udara yang sejuk adalah tempat para pertapa dan penekun spiritual untuk olah batin, memahami Sang Diri Sejati. Dalam penjelasan sebelumnya tentang Giriśā disebutkan ada yang mengumpamakan gunung sebagai śraddhā (keyakinan ajeg) dan bhakti (sembah sujud bhakti). Bagi mereka yang penuh bhakti pada Śiva maka Śiva sendiri yang akan membentangkan busur śraddhā dan bhakti-nya untuk menembakkan ātmā menuju sasarannya dengan tepat, yaitu mokṣa, “mulih ke gumi wayah Sang Sangkan Paraning Dumadhi”.
Oṁ Bhargāya Namaḥ (064)
ॐ भर्गाय नमः
Oṁ Bhargāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Sang Hyang Śiva Bharga yang Bersinar Cemerlang membakar habis dosa-dosa para abdi-Nya yang tulus suci.
OM, my obeisances to Śiva Bharga, the Lord Who shines brilliantly and consumes the sins of His sincere devotees.
Catatan:
Dalam Kamus Bahasa Sanskerta, kata bhargaḥ berarti sinar, cahaya cemerlang, kemegahan, Brahmā, putra dari Dewa Agni, dan lain-lain Salah satu arti dari kata bhargaḥ dalam Kamus Sanskerta adalah Nama dari Śiva. Śiva Bersinar Maha Cemerlang yang cahaya-Nya memancar cemerlang ke seluruh penjuru semesta, menyentuh, mengisi dan memenuhi seluruh ciptaan baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.
Jika Kṛṣṇa dikenal sebagai Yogeśvara, maka Śiva adalah Yogīśvara, yaitu Yogī dari para Yogī (Yogī+Īśvara). Kekuatan seorang Yogī yang maha dashyat “bhargo” menyebar keluar dari tubuh sang Yogī, menyentuh, menyucikan, dan membakar karma-karma dari mereka yang dengat dengan Sang Raja Yogī. Terdapat pula tafsir terjemahan pada bait “bhargo devasya dhīmahi” dihubung-hubungkan dengan kata “bharga” sebagai Nama dari Śiva.
Śiva sebagai Bhargaḥ juga disebut-sebut oleh kitab suci, ketika Śiva menjawab pertanyaan Dewi Pārvatī (iti vaktri sma Pārvatī), “Bagaimana hamba dahulu menjadi pendamping Anda?” Lalu Śiva sebagai Bhargaḥ menjawab pertanyaan Dewi Pārvatī tersebut (pratyuvāca tato bhargaḥ).
Śiva memancarkan tidak hanya sinar kemahakuasaan-Nya yang Maha Cemerlang, tetapi juga sinar kasih-Nya. Śiva itu sendiri berarti Yang Maha Kasih. Beliau memancarkan kasih Beliau ke seluruh semesta tanpa pilih-pilih. Tentu saja pancaran kasih yang diterima setiap makhluk tergantung bagaimana ia menempatkan dirinya. Ada yang bisa menerima sinar kasih-Nya secara langsung, ada pula yang hanya menerima pantulan yang lemah karena mereka memilih “berteduh” dalam naungan “pohon kesenangan material”.
Śiva sebagai Bhargaḥ melenyapkan dan membakar sampai hangus segala dosa karena kata bhargaḥ juga berarti yang membakar sampai hangus. Sang Hyang Śiva Bharga membakar karma dan dosa-dosa para abdi-Nya sampai habis tanpa sisa (bharjyante dahyante pāpāni anena iti bhārga). Śiva sebagai Rudra juga berarti Śiva sebagai Bhargaḥ (eko rudro bhargātmaka). Hyang Śiva Bharga, melalui sinar suci yang Maha Cemerlang menghilangkan kebodohan (avidyā) dan kegelapan (ajñāna) yang menutupi bathin para abdi-Nya.
Oṁ Bhujaṅga-bhūṣaṇāya Namaḥ (063)
ॐ भुजंगभूषणाय नमः
Oṁ Bhujaṅga-bhūṣaṇāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Bhujaṅga-bhūṣaṇa yang berhiaskan ular (suci sebagai kalung di leher-Nya).
Salutations to Śiva Bhujaṅga-bhūṣaṇa, Who wears divine serpents as ornaments (on His neck).
Catatan:
Dalam Bahasa Sanskerta, kata bhujaṅga berarti ular dan bhūṣaṇa berarti pakaian, hiasan, ornamen, dekorasi. Selanjutnya kata bhūṣaṇa diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi busana (pakaian).
Śiva mengenakan hiasan kalung ular suci yang melingkar 3 kali di leher-Nya melambangkan tiga waktu, yaitu Bhūta-kāla (waktu yang sudah berlalu), Vartamāna-kāla (waktu pada masa sekarang), dan Bhaviṣya-kāla (waktu yang akan datang). Ada pula yang menghubung-hubungkan ular yang melingkar tiga kali di leher Śiva sebagai simbul dari kekuatan sakti Kuṇḍalinī yang terdapat di dalam badan setiap orang.
Yang lain, ada pula yang menafsirkan bahwa ular Vāsuki yang dikalungkan di leher Śiva melambangkan putaran kesengsaraan punarbhava, yaitu kelahiran dan kematian yang tiada putusnya. Vāsuki diterima menjadi abdi dekat Śiva karena ikut bersama Śiva meminum racun mematikan bernama Halāhala atau Kālakūṭa yang timbul akibat pemutaran Gunung Mandara. Selanjutnya, Śiva dikenal dengan nama Viṣakaṇṭha atau Nilakaṇṭha setelah meminum racun mematikan tersebut.
Ular juga melambangkan ahaṁkāra atau keakuan palsu. Ahaṁkāra yang dikendalikan dengan baik melalui pertapaan-pertapaan dan berbagai praktik-praktik spiritual lainnya dalam bimbingan yang benar, maka “ular ego” akan dimurnikan dan membantu orang untuk mengangkat dirinya menjadi kesayangan-Nya.
Terdapat banyak tafsir perihal jumlah ular yang bersama Śiva; ada yang mengatakan satu (hanya Raja Ular Vāsuki), ada yang mengatakan satu ular bermuka lima, dan ada pula yang mengatakan 8 atau 9 Raja Ular Sakti. Dari seluruh kaum ular, 9 nama Raja Ular terkemuka yang sangat suci dan sakti yang selalu dekat dengan Śiva, antara lain: Vāsukī, Takṣaka, Anantaśӗṣa, Karkoṭaka, Śaṅkha, Kulika, Piṅgalā, Padma, dan Mahāpadma.
Terdapat pula tafsir lain yang menyebutkan bahwa ular adalah simbol dari segala macam ketakutan. Seorang abdi Śiva yang tulus murni memuja Śiva akan dikaruniai dengan kekuatan serta ketabahan di dalam diri, dijauhkan dari rasa ketakutan sehingga bisa hidup yang tenang dan damai di dunia ini.
Om Anaghāya Namaḥ (062)
ॐ अनघाय नमः
Om Anaghāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Sang Hyang Śiva Anagha, Śiva yang sama sekali tidak tersentuh oleh noda.
OM, my obeisances to Śiva Anagha, the Lord Who is never touched by any impurity.
Catatan:
Kata agha dalam bahasa Sanskerta berarti noda, hal yang buruk, tidak suci, dosa, atau bahaya. Sedangkan prefix “an” menunjukkan arti tanpa atau tidak. Kata anagha berarti yang tanpa noda, yang tidak tercela, yang suci serta tidak ada keburukan sama sekali. Kata yang mempunyai arti yang sama adalah nirmala; nir (tidak, tanpa) dan mala (noda, cela, dosa, derita).
Śiva sebagai Sang Hyang Śiva Anagha adalah sebagai sumber para ātmā (roh) yang benar-benar suci murni dan terbebas dari sentuhan hal-hal material. Terutama dalam Nama Śiva ini Anagha dimaksudkan sebagai terbebaskan dari segala hal-hal yang buruk, sekaligus merupakan sumber dari segala hal yang suci serta bebas dari sentuhan derita material. Tuhan di dalam Pustaka suci Veda disebutkan sebagai yang Maha Suci dan terbebas penuh dari segala noda (eṣa ātmāpahatapāpmā, paramam pavitram, pūrṇam adaḥ pūrṇam idam).
Dengan demikian, Hyang Śiva Anagha berarti Śiva yang bebas dari noda dan kecemaran material, atau Śiva yang Maha Suci Nirmala.
Oṁ Giriśāya Namaḥ (061)
ॐ गिरिशाय नमः
Oṁ Giriśāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva, Sang Hyang Giriśa yang bersthana di gunung.
OM, my obeisances to Śiva Giriśa, the Lord Who sleeps in the mountain.
Catatan:
Dalam usaha mencoba menata terjemahan ke dalam bahasa Indonesia, saya sering menemukan kesulitan karena sama seperti bahasa-bahasa dunia lainnya, bahasa Indonesia pun mempunyai keterbatasan untuk menerjemahkan, mengartikan atau memaknai kata dan kalimat dari bahasa Sanskerta. Demikian halnya dengan usaha mencari terjemahan yang tepat untuk Giriśa.
Pada awalnya saya memakai kata tidur, lalu memilik kata berbaring, namun pas pada detik-detik terakhir men-share Śiva Mantra ini, saya langsung mengganti terjemahan ke “sthana”, walau pun kata “tidur” merupakan pilihan kata yang sangat tepat mengingat arti Giriśa itu sendiri artinya Śiva yang tidur di gunung (girau śete iti giriśah). Atau saya ganti dengan terjemahan “berbaring” karena kata “śaya” juga berarti berbaring, dan juga tidur. Akan tetapi, akhirnya kata “sthana” saya pilih yang berarti yang berada atau bertempat tinggal (di gunung). Dalam hal ini, dalam pertimbangan saya, kata “sthana” juga akan mewakili kata “berbaring” dan “tidur” dengan sendirinya.
Bagi orang kebanyakan, khususnya bagi kita-kita ini yang tidak begitu “akrab” dengan bidang sastra-sastra suci Sanskerta dan Veda, pasti akan merasa ada sesuatu yang aneh atau “kesalahan”, atau pengulangan bersambung mantram yang sama. Sesungguhnya tidak ada kesalahan dalam hal ini karena keduanya memang berbeda. Yang satunya adalah Girīśa, dan satunya lagi adalah Giriśa.
Terdapat perbedaan kecil tetapi sangat penting antara Girīśa pertama dengan Giriśa yang belakangan, yaitu pada Śiva Mantra nomor 61 sekarang ini. Perbedaan terletak pada penulisan dan tentu saja akhirnya juga pada pengucapan-nya. Secara penulisan bisa dilihat dari penggunaan ī atau í dirgha (panjang) pada Girīśa pertama (nomor 60), sedangkan yang belakangan adalah hṛṣva (pendek).
Girīśa pertama (no. 60) berasal dari kata Giri + Iśa, sedangkan yang kedua, Giriśa berasal dari kata Giri + Śa. Kata Śa adalah akar kata dari Śaya yang berarti berbaring, tidur, beristirahat, berada, bertempat tinggal.
Ada pula yang mengumpamakan diri kita sebagai sebuah gunung. Dalam pengumpamaan, gunung adalah tempat yang menjulang tinggi di atas muka bumi. Di dalam diri manusia, tempat tertinggi adalah śraddhā (keyakinan ajeg) dan bhakti (sembah sujud bhakti). Ketika manusia mampu menjaga śraddhā dan bhakti-nya, maka Śiva berkenan bersthana di dalam dirinya.
Om Girīśāya Namaḥ (060)
ॐ गिरीशाय नमः
Om Girīśāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva, Sang Hyang Girīśa sebagai Penguasa Gunung.
OM, my obeisances to Śiva Girīśa, the Lord of the Mountains.
Catatan:
Nama Girīśa berasal dari kata giri dan īśa. Kata giri berarti gunung, sedangkan īśa berarti penguasa, raja, yang maha kuat, dan lain-lain. Nama Śiva sebagai Girīśa berarti Penguasa Gunung, terutama Gunung Kailāśa di Himālaya. Sebagai Śiva Girīśa, Śiva bersthana di Gunung (khususnya Kailāśa), maka Gunung disebut juga nama Liṅgācala, sebagai Liṅga (Śiva) yang tidak bergerak, yang tegak kokoh di tempatnya (acala).
Resi Nārada dalam kitab Harivaṅśa juga menyebutkan Nama Śiva sebagai Girīśa (asmākam īśvaraḥ śūlī girīśah…). Di dalam lontar-lontar warisan leluhur, Śiva dalam sebutan sebagai Sang Hyang Girīśa belum ditemukan, jika tidak ada, yang rasanya tidak mungkin. Akan tetapi, saya pernah membaca sebutan Śiva sebagai Giriśa dan bukan Girīśa. Pakar Jawa Kuno, S. Supomo mengakui dirinya menemukan kesulitan dalam hal ini. Sebaliknya, sebutan Śiva sebagai Penguasa Gunung (apan ratuning gunung pwa sira) dijumpai sebagai Śrī Parwatarājadewa (kakawin Arjuna Wijaya), Śrī Parwatanātha (kakawin Nāgarakṛtāgama), Girinātha (kakawin Sutasoma), Girīndra, Girirāja, Giripati, dan lain-lain.
Oṁ Durdharṣāya Namaḥ (059)
ॐ दुर्धर्षाय नमः
Oṁ Durdharṣāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva, Sang Hyang Durdharṣa yang Maha Dashyat tidak terkalahkan.
OM, my obeisances to Śiva Durdharṣa, Who is an Unconquerable.
Catatan:
Menurut Kamus Sanskerta, kata durdharṣa berarti teramat sulit didekati (too difficult of approach), teramat sulit dikalahkan (too difficult to conquer), serius, mengancam hidup, berbahaya (dangerous), dan lain-lain.
Śiva sebagai Sang Hyang Durdharṣa atau sebagai yang sangat menakutkan, bukanlah karena Śiva sangat menakutkan melainkan insan manusialah yang ketakutan terhadap Yang Tidak Menakutkan. Insan manusia, entah secara naluri alami ataukah karena dari usia semenjak mengenal tutur nasihat (dari masa kecil) telah dicekoki dengan pemahaman akan sosok menakutkan yang akan memberikan hukuman mematikan kepada insan-insan ciptaan-Nya. Pada kenyataannya, insan manusialah yang “berbahagia” memelihara rasa takut pada Tuhan yang penuh kasih sayang. Śiva sendiri berarti Dia yang penuh dengan rasa Kasih Sayang serta mudah memberikan karunia.
Śiva Durdharṣa juga berarti Dia yang tidak kelihatan, tidak ada yang menyamai, dan tidak ada yang mengatasi (na tatsamaś cābhyadhikaś ca vidyate).
Oṁ Hiraṇyaretase Namaḥ (058)
ॐ हिरण्यरेतसे नमः
Oṁ Hiraṇyaretase Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva, Sang Hyang Hiraṇyaretas yang menjadi sumber dari munculnya roh-roh bersinar cemerlang.
OM, my obeisances to Śiva Hiraṇyaretas, Who emanates bright golden souls.
Catatan:
Hiraṇya berarti emas, keemasan. Hiraṇya juga ditafsirkan sebagai hita (kesejahteraan, kebaikan) dan ramya (keindahan). Pada sumber lain disebutkan bahwa Hiraṇyagarbha adalah sebutan Tuhan sebagai sumber atau kandungan dari seluruh ciptaan yang indah cemerlang. Sedangkan kata Retas berasal dari akar kata Sanskerta yang berarti aliran, arus, atau air. Retas dalam Veda disebutkan sebagai benih ciptaan, benih Puruṣa/Lelaki.
Śiva sebagai Hiraṇyaretas merupakan Benih Maha Cemerlang yang memunculkan benih-benih maha cemerlang pula. Śiva sebagai Hiraṇyaretas juga menunjukkan bahwa Keseluruhan Śiva itu Sendiri, baik dalam Nama dan Bentuk, semuanya Divya atau spiritual, maha agung, penuh Kasih dan Karunia.
Oṁ Prajāpataye Namaḥ (057)
ॐ प्रजापतये नमः
Oṁ Prajāpataye Namaḥ
OṀ, sembah bhakti hamba kepada Śiva Prajāpati, Penguasa dari seluruh makhluk hidup.
OM, my obeisances to Śiva Prajāpati, the Lord of all living beings.
Catatan:
Śiva Prajāpati dipuja sebagai Penguasa dari seluruh makhluk hidup. Prajāpati juga dikenal sebagai sebutan untuk Brahmā, Sang Pencipta alam semesta. Selain itu, sebutan Prajāpati juga dikenal sebagai sebutan untuk Dakṣa Prajāpati, ayah dari Dewi Śati, Śakti dari Śiva. Selain itu, Viṣṇu, Indra, Agni dan lain-lain juga sering disebut sebagai Prajāpati. Di Bali, Prajāpati juga dipuja sebagai Brahmā Prajāpati di Pura Prajapati dengan mantram: “Oṁ Brahmā Prajāpatiḥ śreṣṭhaḥ swayambhūr warado guruḥ, padmayoṇiś catur-waktro brahmā sakalam ucyate.”
Dalam Śivaisme, Śiva memiliki 3 peran sekaligus yaitu sebagai Brahmā (Pencipta), Viṣṇu (Pemelihara), dan Rudra/Śiva (Pelebur) alam semesta (Īśvaraḥ Parameśvaraḥ Brahmā Viṣṇuś ca Rudraś ca).
Oṁ Gaṇanāthāya Namaḥ (056)
ॐ गणनाथाय नमः
Oṁ Gaṇanāthāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Gaṇanātha, Penguasa dari para Gaṇa, pasukan makhluk halus yang sangat sakti.
OM, my obeisances to Śiva, God of the Gaṇa, the powerful divine army of Śiva.
Catatan:
Gaṇa mempunyai beberapa arti. Gaṇa berarti group, kumpulan, kelompok, hadirin, dan lain-lain seperti itu. Setiap berbicara di hadapan publik di India, saya sering memulai sambutan dengan ucapan: “Ādaraṇīya Vidvad-gaṇa”, artinya “yang saya hormati hadirin para sarjana terpelajar dan bijaksana”. Sehubungan dengan Nama Śiva sebagai Gaṇanātha, maka Gaṇa berarti pasukan gaib atau makhluk halus yang sangat sakti.
Terdapat dua pengertian dalam hal sebutan Śiva sebagai Gaṇanātha: (1). Gaṇanātha, yaitu Śiva sebagai Penguasa pasukan mahkluk halus yang sangat sakti, dan (2). Gaṇanātha, yaitu Śiva sebagai Penguasa dari segala Gaṇa dalam pengertian kelompok, seperti Deva-gaṇa (kelompok para Dewa), Ṛṣi-gaṇa (kelompok para Resi), dan lain-lain.
Śiva sebagai Gaṇanātha juga kurang lebih sama dengan Śiva dalam nama: (1). Gaṇapati, (2). Vīrabhadra, dan (3). Bhūtanātha, dan lain-lain. Sebagai (1). Gaṇapati, Śiva dipuji-pujia dalam Veda “gaṇebhyo gaṇapatibhyaś ca vo namaḥ”. Sebagai (2). Vīrabhadra, terdapat tempat sembahyang (Pura, temple) Vīrabhara di Negara Bagian Andhra Pradesh, India. Dan sebagai (3). Bhūtanātha, Śiva adalah sebagai Penguasa dari pasukan-pasukan pada binatang-binatang berbahaya, ular, para makhluk halus dan roh-roh di Smashana atau kuburan. Terdapat tempat sembahyang (Pura, temple) Bhutanātha di Negara Bagian Karnataka di India.
Dari beberapa kelompok Gaṇa dalam kekuasaan Śiva, termasuk diantranya adalah: Bhairava, Vīrabhadra, Maṇibhadra, Candi, Nandi, Śṛṅgī, Bhṛṅgiriti, Śaila, Gokarṇa, Ghaṇṭakarṇa, Jaya, dan Vijaya.
Oṁ Vīrabhadrāya Namaḥ (055)
ॐ वीरभद्राय नमः
Oṁ Vīrabhadrāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Vīrabhadra, yang mempunyai kekuatan maha dahsyat untuk menghancurkan kekuatan-kekuatan jahat.
OM, my obeisances to Śiva Vīrabhadra, who has a mighty power to vanquish all evil forces.
Catatan:
Śiva menampakkan wujud-Nya sebagai Vīrabhadra dengan kesaktian yang Maha Dahsyat, menghancurkan Yajña yang dilakukan oleh Dakṣa yang dengan sengaja menghina Śiva. Wujud Vīrabhadra dihubung-hubungkan dengan amarah Hyang Śhiva melihat Śakti-Nya bernama Sati yang menerjunkan diri ke dalam api menyala-nyala. Sejak itu kata “sati” dipergunakan untuk menyebut tindakan seorang istri “bunuh diri” dengan cara terjun pada api pembakaran mayat suaminya. Di Bali istilah itu dinamakan “masatia” atau “mabela”. Jika Pemerintah Inggris mengadakan pelarangan terhadap “tradisi Sati” di India pada tahun 1829, maka tradisi yang sama dilarang di Bali pada masa pemerintahan Belanda di tahun-tahun 1903-1905 pada daerah-daerah berbeda.
Vīra berarti pahlawan, pejuang, pemberani dan Bhadra berarti kesejahteraan, kemuliaan, kedamaian, kebaikan. Vīrabhadra menunjuk pada kekuatan maha dahsyat “ganas menghancurkan” tetapi melindungi kebaikan tetapi yang mengamuk menghancurkan kejahatan sampai punah.
Oṁ Viśveśvarāya Namaḥ (054)
ॐ विश्वेश्वराय नमः
Oṁ Viśveśvarāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Viśveśvara, yaitu Śiva sebagai Penguasa Seluruh Alam Semesta.
OM, my obeisances to Śiva Viśveśvara, the Lord of the Whole Universe.
Catatan:
Śiva sebagai Viśveśvara adalah Śiva sebagai Penguasa dari seluruh alam semesta. Berasal dari kata viśva dan īśvara. Viśva berarti seluruh, semua, menyelimuti semua, berada di mana-mana, seluruh alam semesta. Īśvara berarti Penguasa, Raja, Guru, Pemilik, Pengatur, dan lain-lain. Viśveśvara berarti Sang Penguasa Seluruh Alam Semesta.
Oṁ Sadāśivāya Namaḥ (053)
ॐ सदाशिवाय नमः
Oṁ Sadāśivāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva, yaitu Śiva yang selalu menyejahterakan seluruh makhluk.
OM, my obeisances to Śiva, Who is always bestowing prosperity and auspiciousness to all beings.
Catatan:
Nama Sadāśiva dipuji-puji di dalam Veda (brahma śivo me astu sadāśivom). Berasal dari kata sadā (selalu, senantiasa), dan śiva (kasih, kemuliaan). Śiva yang penuh dalam kasih, kesejahteraan, kemuliaan, Sadā atau selalu dan senantiasa memberikan karunia-Nya. Berbeda dengan Paramaśiva (dalam Tri Śiva: Śiva, Sadāśiva, dan Paramaśiva), Sadāśiva selalu bersama karunia menyejahterakan seluruh ciptaan. Dalam Mūrti (Arca), Sadāśiva diwujudkan ber-Muka Lima dan bertangan sepuluh.
Di Nuggehalli, Negara Bagian Karnataka India, terdapat satu temple khusus pemujaan Śiva sebagai Sadāśiva.
Oṁ Pañcavaktrāya Namaḥ (052)
ॐ पंचवक्त्राय नमः
Oṁ Pañcavaktrāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Pañca Mukhī Śiva, yaitu Śiva yang bermuka lima.
OM, my obeisances to Pañca Mukhī Śiva, Who has Five Faces.
Catatan:
Berbagai tafsir perihal Śiva Pañca Mukhī, yaitu Śiva yang mempunyai 5 Mukha. Kelima Mukha dari Śiva tersebut mewakili 5 Arah Mata Angin, antara lain: Sadyojāta (Barat), Vāmadeva (Utara), Aghora (Selatan), Tatpuruṣa (Timur), dan Īśana (Atas). Śiva dengan 5 Mukha juga disebut dengan nama Pañcānanā atau Pañca Brahmā (athānyāścāpi tanava pañcabrahma-samāhvayā). Melalui 5 Mukha tersebut Śiva melakukan 5 hal yaitu: Sṛṣṭi (penciptaan), Sthiti (Pemeliharaan), Saṁhāra/Laya (Peleburan), Tirobhava (menempatkan ciptaan dalam khayalan), dan Anugraha (memberikan karunia pembebasan).
Śiva ber-Wajah Lima (Pañca Mukhī) juga mewakili: Pañca Mahā Bhūta, Pañca Tattva (Manaḥ, Buddhi, Ahangkāra, Prakṛti, dan Puruṣa), Pañca Kalā, Pañca Indriya, dan lain-lain.
Gāyatrī Mantra untuk Śiva Pañca Mukhī: “Oṁ pañca-vaktrāya vidmahe, Mahādevāya dhīmahi, Tanno rudraḥ pracodayāt.”
Oṁ Somāya Namaḥ (051)
Selamat pagi tanah air, di sini pas pkl 03.03. Saya baru kembali dari acara bermeditasi bersama satu keluarga. Setelah mengerjakan beberapa editan artikel, saya jadi teringat tugas mengirimkan Shiva Mantra hari ini. Maunya saya kirimkan/postingkan mantra dengan terjemahan saja. Akan tetapi, ada niat menuliskan sekadar penjelasannya. Semoga bermanfaat dan semoga semua slamet rahayu.
ॐ सोमाय नमः
Oṁ Somāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Soma, yang terpuaskan melalui minuman kekekalan bernama Somarasa.
OM, my obeisances to Śiva Soma, the One Who is satisfied through the offering of eternal drink called Somarasa.
Catatan:
Om Svastyastu, barangkali anda yang membaca terjelamahan saya ini akan menemukan bahwa terjemahan saya tidak mengikuti terjemahan yang sudah ada. Namun saya tidak “menyesali” hal itu karena inilah cara saya “memahami” Hyang Śiva sebagai Soma.
Minuman Soma dikenal sejak zaman Veda sebagai minuman kekekalan. Terdapat beberapa literatur Veda khususnya kitab-kitab Śrautasūtra menyebutkan penggunaannya di dalam persembahan suci atau korban suci Yajña. Para ahli menafsirkan berbagai nama tumbuhan untuk menyebut tumbuhan Somalatā, seperti Sarcostemma Acidum, C. indica, Ephedra spp., Amanita muscaria, Peganum harmala, dan lain-lain. Selain nama tumbuhan, sebutan Soma juga menunjuk minuman dari tumbuhan Soma tersebut.
Soma adalah minuman kekekalan Soma yang dipersembahkan kepada Soma (Śiva) menjadi Soma (minuman kekekalan) dan Soma adalah Soma itu Sendiri alias Śiva Sendiri (śeṣaṁ śivasya tam). Terdapat mantram yang mendukung pendapat ini, yaitu: “Somāya ca Rudrāya ca”. Ada pula yang menyebutkan sebagai minuman simbolik dengan praktik-praktik Yoga dan Tantra, serta juga dihubung-hubungkan dengan pusat energi Cakra di dalam tubuh. Saya masih ingat, sekitar tahun 1986-87, seorang Guru Besar ahli Sanskerta memberikan penjelasan kepada saya, bahwa Sebagian besar Mantra-Mantra Ṛg Veda (Yajuh dan Sāma Veda) disampaikan dalam bahasa singkat berkulit penuh symbol. Akan tetapi, Purāna dan Itihāsa kemudian menjelaskannya melalui cerita. Kebetulan saya masih ingat Sanskerta dari topik pembicaraan kami pada waktu itu, “Somam pibam amṛtam abhuma”, artinya “minumlah Soma dan pergilah ke Surga”. Lalu Guru Besar tersebut memberikan cerita penjelas dari Mantra tersebut.
Soma juga berarti rembulan. Śiva disamakan dengan Soma/rembulan karena Śiva memberikan kesejukan kasih dan Rembulan juga memberikan kesejukan kasih. Maka Śiva adalah Soma. Itu pula menyebabkan hari pemujaan khusus pada Śiva adalah pada Somavāra/Somawara atau hari Senin.
Om Svastyastu, maybe readers will find my translation for this Śiva Mantra does not follow the already existed translation. But I do not "regret" that because this is how I "understand" Śiva as Soma.
Soma drinks are known since the Vedic times as eternal drinks. There is some Vedic literature especially the Śrautasūtras books mentioning their use in sacred offerings or sacred offerings of Yajña. Experts interpret various plant names to refer to Somalatā plants, such as Sarcostemma Acidum, C. indica, Ephedra spp., Amanita muscaria, Peganum harmala, and others. In addition to the name of the plant, the name Soma also designates the drinks from the Soma plant.
Soma is the eternal drink Soma is offered to Soma (Śiva) to become Soma (eternal drink) and Soma is Soma Itself, or Śiva Itself “śeṣaṁ śivasya tam” and “Somāya ca Rudrāya ca”. There is also an explanation regarding Soma as a symbolic drink with the practices of Yoga and Tantra, as well as being linked with the Chakra or energy center in the body. I still remember, around 1986-87, a Sanskrit Professor was explained to me, that most of the Vedic Mantras (Ṛg, Yajuh and Sāma Veda) were delivered in short language with symbolic complexions. However, Purāna and Itihāsa later explained through the story. Incidentally, I still remember Sanskrit from the topic of our conversation at that time, "Somam pibam amṛtam abhuma", meaning "drink Soma and go to Heaven". Then the Professor gave an explanatory story from the Mantra.
Soma also means moon. Śiva is likened to Soma/moon because Śiva provides the coolness of love and Moon also provides the coolness of love. Then Śiva is Soma. That also led to the special worship day for Śiva on Somavāra or Monday.
Oṁ Yajña-mayāya Namaḥ (050)
ॐ यज्ञमयाय नमः
Oṁ Yajña-mayāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang sepenuhnya berada dalam persembahan suci Yajña.
OM, my obeisances to Śiva Who exists entirely in the holy sacrifice of Yajña.
Om Haviṣe Namaḥ (049)
ॐ हविषे नमः
Om Haviṣe Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang dihaturkan persembahan Ahuti dalam upacara Api Suci Agnihotra.
OM, my obeisances to Śiva Who offered the oblation of Ahuti in the Sacred Fire Ceremony, Agnihotra or Havan.
Oṁ Somasūryāgnilocanāya Namaḥ (048)
ॐ सोमसूर्याग्निलोचनाय नमः
Oṁ Somasūryāgnilocanāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang ber-Mata-kan Sūrya (Matahari), Candra (rembulan), dan Agni (Api).
OM, my obeisances to Śiva Whose Eyes are Sūrya (Sun), Candra (Moon), and Agni (Fire).
Oṁ Paramātmane Namaḥ (047)
ॐ परमात्मने नमः
Oṁ Paramātmane Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang merupakan Sumber dari Ātmā, Sang Roh yang ada di dalam diri setiap makhluk hidup.
OM, my obeisances to Śiva Paramātmā, the Soul of all souls.
Oṁ Sarvajñāya Namaḥ (046)
ॐ सर्वज्ञाय नमः
Oṁ Sarvajñāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang Maha Mengetahui.
OM, my obeisances to Śiva Sarvajña, Śiva Who Knows Everything.



