Gallery : Deva Shiva Mantras
ॐ अनीश्वराय नमः
Oṁ Aniśvarāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang tidak mempunyai Pengendali lain.
OM, my obeisances to Śiva Anīśvara, Śiva Who does not have Any Lord.
ॐ त्रयीमूर्तये नमः
Oṁ Trayīmūrtaye Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang merupakan Rupa dari Veda Trayi, yaitu Ṛg, Yajuh, dan Sāma Veda.
OM, my obeisances to Śiva Whose Form is Veda Trayi, i.e. Ṛg, Yajuh, and Sāma Veda.
Catatan:
Śiva sebagai Trayi Mūrtī adalah Śiva dalam Rupa Veda Trayī. Terdapat empat Veda atau Catur Veda, yaitu Ṛg, Yajuḥ, Sāma, dan Atharva Veda. Yang keempat, yaitu Atharva Veda kehadirannya diyakini belakangan dari Tiga Veda terdahulunya. Jadi, yang semula disebut Veda adalah Ṛg, Yajuḥ, dan Sāma Veda, sehingga ketiganya diberikan satu nama sebagai Veda Trayī. Kata Trayī di sini menunjuk pada (tiga) Veda. Sebagai Trayī Mūrtī, Śiva merupakan Bentuk dari Veda Trayī.
Śiva as Trayi Mūrtī is Śiva in the Form of Veda Trayī. There are four Vedas Catur Vedas, namely Ṛg, Yajuḥ, Sāma, and Atharva Veda. The fourth, namely Atharva Veda, is believed to have come later. So, originally Veda means Ṛg, Yajuḥ, and Sāma Veda. All three are given one name as the Veda Trayī. The word Trayī here refers to (three) Vedas. As Trayī Mūrtī, Śiva is the Form of the Veda Trayī.
ॐ स्वरमयाय नमः
Oṁ Svaramayāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang berada sepenuhnya dalam seluruh gelombang nada suara.
OM, my obeisances to Śiva, the One Who live in all waves of sounds.
ॐ सामप्रियाय नमः।
Oṁ Sāmapriyāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang menyayangi semua sama.
OM, my obeisances to Śiva the One Who loves all equally.
Catatan:
Śiva sebagai Śiva Samapriya mengasihi dan menyayangi semua tanpa pilih kasih. Dalam Bhagavad-gītā Śrī Kṛṣṇa menyebutkan: “samo’haṁ sarva-bhūteṣu”, bahwa Tuhan memperlakukan dan menyayasi semua makhluk dengan cara yang sama, tanpa membeda-bedakan. Dan tentu saja Tuhan menginginkan setiap orang saling mengasihi satu sama lain dengan cara yang sama, tanpa membeda-bedakan: “vidyā-vinaya-sampanne brāhmaṇe gavi hasthini, śuni caiva svapāke ca paṇḍitāḥ sama-darśinaḥ”, bahwa orang bijaksana berwawasan luas akan memandang semua dengan cara pandangan yang sama dalam kasih. Kasih Tuhan dan kasih orang-orang suci bijaksana menyeberangi segala batas perbedaan, karena pada akhirnya semuanya sama, dalam Kebenaran Akhir yang sama. Kelahiran, status, pengetahuan, dan lain-lain hanyalah kemasan luar, bersifat sementara dan “menguji” pandangan kebenaran satyam seseorang.
Para orang tua, orang-orang suci, para Guru, dan Tuhan menyayangi semua tanpa membeda-bedakan. Kasih sayang Mahādeva adalah kasih sayang yang sama kepada semua. Tidak ada pilih kasih dalam kasih sayang-Nya. Bedanya hanyalah; ada yang diberikan sinar langsung oleh matahari, ada pula yang menerima sinar matahari secara tidak langsung akrena berada di dalam bangunan atau di bawah pohon. Mereka semua tetap mendapatkan sinar matahari tetapi secara tidak langsung. Seperti itu pula, ada yang mendapatkan kasih sayang Śiva Samapriya secara langsung, ada pula yang tidak langsung. Śiva Mantra merupakan salah satu dari cara untuk mendapatkan karunia Śiva secara langsung.
Śiva as Śiva Samapriya loves all and has affection for all without any discrimination. In the Bhagavad-gītā, Śrī Kṛṣṇa states: "samo'haṁ sarva-bhūteṣu", that God treats and loves all beings in the same way, without discrimination. And of course, God wants everyone to love one another in the same way, without discriminating too. "Vidyā-vinaya-sampanne brāhmaṇe gavi hasthini, śuni caiva svapāke ca paṇḍitāḥ sama-darśinaḥ", means that a wise person with wide vision will look at all beings in the same way, with pure love. The love of God and the love of wise sages cross all material boundaries, because in the end everything is the same, that is “Final Truth”. Birth, “coat and tie” or other material status, knowledge, etc. are only an outer packaging, and are fleeting, temporary, and are "testing" people's view of truth.
Parents, saints, spiritual teachers, and God love all without discrimination. Mahādeva's love is the same affection for all. There is no favourtism in His love. The only difference is; some are given direct sunlight, whilst others receive indirect sunlight because they are hiding inside a building or sitting under a tree. They all still get sunlight but indirectly. Likewise, there are those who have directly received Śiva Samapriya's love, and some indirectly. Śiva Mantra is one of the many ways to get direct blessing from Śiva Samapriya.
ॐ भस्मोद्धूलितविग्रहाय नमः
Oṁ Bhasmoddhūlita-vigrahāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Bhasmoddhūlita Vigraha, Śiva yang mengoleskan abu suci ke seluruh tubuhnya.
OM, my obeisances to Śiva Bhasmoddhūlita Vigraha, Who applies holy ashes all over His Body.
Catatan:
We posted this Shiva Mantra together with 21 X offering Ahuti.
Kami postingkan Shiva Mantra ini bersamaan dengan persembahan 21 X persembahan Ahuti.
Hubungan Śiva sebagai kekuatan Tuhan dalam peleburan alam semesta (pralina) dengan abu sangatlah erat.
Tidak ada yang patut dibanggakan di dalam hidup ini; kecantikan, keterpelajaran, kekayaan, kekuasaan, dan lain-lain. Semua akan berakhir setelah 5 elemen badan jasmani (Pañca Mahā Bhūta) hancur menjadi abu, alias kembali ke asal-muasal dari Pañca Mahā Bhūta tersebut. Pemahaman dan pengrasaan sempurna perihal ini dengan mudah didapatkan ketika orang melihat upacara kematian atau pembakaran mayat orang-orang hebat, atau raja maharaja yang selama hidupnya tidak kekurangan apa-apa dan dipuja-puja oleh dunia. Seluruh kebanggaan lenyap hanya dalam sekejap.
Hancur luluhnya ahaṁkāra (ego, keakuan palsu) sampai habis menjadi abu, lalu dilelapkan di dalam-Nya, hanya di sana dan pada saat itu Rūpa (bentuk, yang menjadi sumber muncul dan berkembangnya keakuan) akan berubah menjadi serta menyatu dengan Vigraha (bentuk Maha Suci nan Agung). Bhasma (abu) sering dijadikan simbol dari keakuan palsu yang sudah terbakar habis. Namun, habis terbakar menjadi abu tidak merupakan tujuan dari “lenyapnya keakuan” melainkan masuk merasuk, menyatu luluhnya “abu keakuan” ke dalam Sang Sumber Aku, untuk berada dalam ketidakberadaan, ke dalam damai tiada batas, ke dalam kebahagiaan berkembang terus tiada akhir, mencapai kelanggengan Mokṣa.
The relationship of Śiva as the power of God for the annihilation of the universe (pralina) with ashes is very significant.
There is nothing to be proud of in this life; beauty, being learned, wealth, power, and so on. All will end at once after the 5 elements of the physical body (Pañca Mahā Bhūta) are destroyed to ashes, thus emerging back to the origins of the Pañca Mahā Bhūta. Perfect understanding and realization of the reality is easily obtained when one witnesses ceremonies of death or cremation of great people, or the emperor of the world who lacked nothing during his life and was worshipped by the world. All pride disappears in an instant.
Destruction of ahaṁkāra (ego, false ego) until it turns to ashes, and then engulfed in Him, only there and at that time all Rūpas (form, which is the source of arising and developing ego) will turn into and become One with Vigraha (the Supreme and Divine Form). Bhasma (ash) is often used as a symbol of false ego that has been burned down. However, being burnt to ashes is not the goal of "the cessation of self" but rather entering, fusing the "ashes of self" into the Source of the Self, to being in non-existence, into infinite peace, into endless happiness, reaching the eternity, Mokṣa.
ॐ वृषभारूढाय नमः।
Oṁ Vṛṣabhārūḍhāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang mengendarai Lembu Suci bernama Nandī.
OM, my obeisances to Śiva, Who rides a Divine Bull called Nandī.
Catatan:
Śiva mengendarai Lembu Suci Nandī sangat bermakna. Sebagai Pembawa ajaran Kasih Suci, Śiva mengendarai Nandī, yang adalah symbol dari Dharma, jalan Kebenaran dan Kesucian.
Śiva riding the Divine Bull Nandī is very meaningful and significant to understand. As the reservoir of the teachings of Divine Love, Śiva rides Nandī, which is a symbol of Dharma, the path of Truth and Purity."
ॐ वृषांकाय नमः।
Oṁ Vṛṣāṁkāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang bendera-Nya ada Lembu Suci Nandī.
OM, my obeisances to Śiva Vṛṣāṁka, Who has a Flag with a symbol of the Divine Bull called Nandī.
ॐ त्रिपुरान्तकाय नमः
Oṁ Tripurāntakāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Tripurāntaka, Penghancur tiga kota benteng pertahanan dari tiga raksasa sakti.
OM, my obeisances to Śiva Tripurāntaka, the Destroyer of three powerful aerial cities of three powerful demons.
Catatan:
Raksasa Tāraka/Tārakāsura mempunyai tiga orang anak laki, masing-masing bernama Tārakākṣa, Kamalākṣa, dan Vidyunmāli. Ketiganya mempunyai kota benteng pertahanan yang sangat kuat, tergantung dan berputar-putar di langit. Oleh karena kejahatan ketiganya membahayakan alam semesta, maka untuk menghancurkan ketiga kota benteng pertahanan tersebut, Śiva mempergunakan kereta, panah, dan gandiwa sakti yang terbuat dari elemen alam dan para Dewa. Kekuatan Śrī Viṣṇu dipergunakan sebagai Anak Panah Api Sakti untuk membakar ketiga kota benteng pertahanan tersebut. Setelah terbakar habis menjadi abu, Śiva lalu mengoleskan abu dari ketiga kota benteng pertahanan tersebut di kening-Nya. Sejak itu, para bhakta/penyembah Śiva mengoleskan tiga garis abu suci di keningnya sebagai penghormatan kepada Śiva Tripurāntakārī.
The powerful Demon named Tāraka (Tārakāsura) has three sons: Tārakākṣa, Kamalākṣa and Vidyunmāli. They all have an extraordinarily strong defence city in the sky which endangered the universe. Śiva then destroyed those three fortress cities, using supernatural power chariot, arrow, and bow made from the elements of nature and the Gods. The power of Viṣṇu used as the Arrow of Fire to burn those cities. After burning all cities to ashes, Śiva then smeared the ashes on his forehead. Since then, devotees of Śiva applied three sacred lines of ash on their forehead to pay respect to Śiva as Tripurāntakārī.
ॐ कठोराय नमः
Oṁ Kaṭhorāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang badan-Nya sangat kokoh dan kuat.
OM, my obeisances to Śiva Whose Body is very Strong and Powerful.
Catatan:
Dalam photo no.2 bisa "dilihat" Shivalinga yang diambil di ashram Paramadhama, Denpasar, Bali pada tahun 2007?.
In the second photo you can see "unseen" Shivalinga, taken by a friend in 2007?.
ॐ कवचिने नमः
Oṁ Kavacine Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Kavaci, Sang Pemilik Baju Pelindung Sakti.
OM, my obeisances to Śiva Who Possess the Powerful and Devine Armour.
ॐ कैलाशवासिने नमः
Om Kailāśavāsine Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Kailāśavāśī, yang bertempat tinggal di Gunung Suci Kailāśa.
OM, my obeisances to Śiva Kailāśavāśī, Who resides on Holy Mount Kailash.
Catatan:
Gunung suci Kailash ada di Tibet. Akan tetapi, sekarang sudah berada dalam kekuasaan China sejak Tibet menjadi bagian dari China.
ॐ जटाधराय नमः।
Oṁ Jaṭādharāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva Jaṭādhārī, yang rambut gimbalnya digelung indah di atas kepala.
OM, my obeisances to Śiva Jaṭādhārī, who binds His matted hair beautifully on His Head.
ॐ परशुहस्ताय नमः।
Oṁ Paraśuhastāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang memegang Senjata Kapak di tangan-Nya.
OM, my obeisances to Śiva who holds an Axe in His Hand.
Catatan:
Śiva sebagai Paraśuhasta adalah Śiva yang salah satu tangan-Nya memegang kapak.
Kapak merupakan symbol alat pemotong. Dalam hal ini, karena yang memegang kapak adalah Śiva sendiri, alias kapak berada di tangan Sang Maha Bijak Śiva Mahādeva, maka simbol kapak di sini adalah sebagai alat pemotong kegelapan, kebodohan, keakuan dan lain-lain sifat yang menjatuhkan orang dari jalan indah dharma.
ॐ मृगपाणये नमः।
Oṁ Mṛgapānaye Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang tangan-Nya memegang kijang.
OM, my obeisances to Śiva who holding deer in His Hand.
Catatan:
Salah satu tangan Śiva memegang Kijang; (1). Kijang merupakan symbol dari pikiran yang tidak pernah bisa diam dan selalu meloncat ke sana dan ke mari. Tangan Śiva memegang Kijang menunjukkan Śiva sebagai pengendali dari pikiran yang selalu goyah dan tidak tetap. (2). Kijang juga merupakan symbol dari Veda. Keempat kaki Kijang dikatakan sebagai symbol dari Catur Veda, yaitu Ṛg, Yajur, Sāma, dan Atharva Veda. Hal ini menyimbolkan Śiva sebagai Dewanya Pustaka Suci Veda.
Śiva as Mṛgapāṇi:
This is Śiva with four hands, holding different things in each hand. What we want to see today is the deer on his left hand. That’s why Śiva’s name is Mṛgapāṇi. ‘Mṛga’ means deer, and ‘pāṇa’ means hand. ‘Mṛgapāṇi’ means the one who holds the deer on His Hand.
What is the meaning behind deer?
The first interpretation, deer is a symbol of a restless mind that always jumps here and there, never stand still in one place. In Bhagavad-gītā, the mind is said to never stay in one place, always jumping from one object to another object at the same time, as a restless mind, “cañcalaṁ hi manaḥ”. With Śiva holding the deer means that Śiva will control the restless and unsteady mind. Thus, we do meditation and yoga to control our mind. Śiva is the god of Yoga, and in the Sahasrara Cakra there is a divine “gate” which is called Śiva-dvāra (Gate of Śiva). Śiva will help the person who does yoga to control his mind, so the mind will no longer jump around here and there. If we concentrate our mind to Śiva through one of the unlimited techniques, we will focus completely because Śiva will help us control our mind, from restless to be peaceful, calm and steady.
With a restless mind, we will never feel at peace, and therefore countless desires will come. As the mind jumps here and there, just like a deer, one desire will come after another infinitely. One desire will create thousand desires, and from another desire will appear another thousand desires, and so on.
Through controlling our mind, we will gain peace, love, and happiness. We can live in a very peaceful life full of love, with ourselves and with others.
When we pay respect to Śiva as Mṛgapāṇi, we will chant: “Oṁ Mṛgapāṇaye Namaḥ”, Śiva will help us control our mind and desire as He holds the deer.
The second interpretation, deer is the symbol of Catur Veda. Just as a deer that has four legs, Veda consists of four parts (Ṛg, Yajur, Sāma, and Atharva Veda). This indicates Śiva as the God of Catur Veda.
ॐ भीमाय नमः
Oṁ Bhīmāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang mempunyai Rupa Menakutkan (bagi orang-orang jahat).
OM, my obeisances to Śiva who has a tremendous Fearful Form.
Catatan: di satu sisi, Śiva berarti penuh kasih sayang, namun di sisi lain Śiva muncul dengan wajah menakutkan bagi para penjahat. Oleh karena itulah Śiva juga disebut Bhīma, Rudra, Śarva, Ugra, dan lain-lain.
ॐ कृपानिधये नमः
Oṁ Kṛpānidhaye Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang merupakan Lautan dari segala Kasih Sayang yang tanpa sebab dan alasan.
OM, my obeisances to Śiva Mahādeva who is the Ocean of Love, Affection, and Compassion.
ॐ कालकालाय नमः।
Oṁ Kālakālāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang merupakan Waktunya Sang Waktu (Kematian dari Dewa Kematian).
OM, my humble obeisances to Śiva, the Time of Powerful Time, the Death of God of Death.
Catatan:
Śiva Mahākāla merupakan Awal dan Akhir dari Sang Waktu yang tiada waktunya. Śiva Mahākāla is the Beginning and the End of Endless Time. “Oṁ mahākālāya kālāya kālanāthāya te namaḥ”.
Hari ini, saya mengalami sesuatu yang mungkin tidak perlu diceritakan karena mustahil saya bisa menceritakannya. Beberapa lama setelah pengalaman tersebut, dan saya belum pulih kesadaran dengan baik, tidak dinyana, seorang Pendeta dari Himalaya, Pandit Shri Basant Bhatta Ji, kawan baik yang sudah lama tidak pernah berkabar, tiba-tiba saja menyapa melalui WhatsApp sambil mengirimkan photo Mahā Śivaliṅga, dan mengatakan, “Aaj shaam ki aarti ka darshan – photo ini adalah darshan senjakala Puja Aarti dari Shiva Bholenath”. Sungguh berbahagia menerima photo yang pas Śiva Liṅga sedang dipuja pada senja hari tadi. Selanjutnya, hanya berjarak waktu sekian detik, seorang kawan lain, yang juga dari Himalaya, yang boleh dikatakan sama sekali tidak pernah berkabar, tiba-tiba saja tadi mengirimkan photo Śiva Liṅga yang satunya lagi. Kedua photo Śiva Liṅga saya sertakan bersama Śiva Mantra yang sekarang ini.
ॐ ललाटाक्षाय नमः
Oṁ Lalāṭākṣāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang mempunyai mata ketiga di tengah-tengah kening-Nya.
ॐ गंगाधराय नमः।
Oṁ Gaṅgādharāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang menahan Dewi Gaṅgā melalui rambut-Nya.
Catatan: karena derasnya aliran Gaṅgā turun dari Surga ke bumi, demi keselamatan bumi dan segala isinya, Śiva menyangga aliran deras Gaṅgā turun dari Surga melalui rambut, lalu dialirkan ke bumi (itu sebabnya gambar/arca Śiva di rambut-Nya selalu ada air memancur).
ॐ अन्धकासुरसूदनाय नमः।
Oṁ Andhakāsurasūdanāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang membunuh raksasa sakti bernama Andhaka.
ॐ कामारये नमः।
Oṁ Kāmāraye Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva, musuh Dewa Cinta, Kāmadeva.
ॐ कपालिने नमः।
Oṁ Kapāline Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang memakai kalungan tengkorak di leher-Nya.
ॐ उग्राय नमः।
Oṁ Ugrāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang mempunyai sifat galak keras.
Om, worship bhakti servant to koṭiṃ who has a fierce nature.
ॐ शिवा प्रियाय नमः।
Oṁ Śivā-priyāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva kesayangan Dewi Pārvatī.
Catatan: Śivā dengan huruf a dirgha/panjang dengan Śiva dengan huruf a hrsva/pendek adalah berbeda. Yang pertama adalah shakti dari Śiva yang adalah Dewa Śiva, yang adalah Maheshwari atau Dewi Parvati. Śivā=Dewi Parvati, dan Śiva=Mahadeva. Lihat arca Dewi ini, atribut dan lain-lain sama dengan Śiva Mahadeva, tetapi adalah Śivā Maheshwari yang merupakan salah satu dari 7 Ibu Semesta.
ॐ शितिकण्ठाय नमः।
Oṁ Śitikaṇṭhāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang mempunyai leher berwarna putih
ॐ त्रिलोकेशाय नमः।
Oṁ Trilokeśāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva, Penguasa tiga susunan alam semesta Tri Loka; Bhūḥ, Bhuvaḥ, dan Svaḥ
ॐ शर्वाय नमः।
Oṁ Śarvāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang menghilangkan segala halangan/kesulitan.
ॐ भवाय नमः।
Oṁ Bhavāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang mengadakan Diri Sendiri.
ॐ भक्तवत्सलाय नमः।
Oṁ Bhaktavatsalāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang sangat mengasihi bhakta-Nya
ॐ श्रीकण्ठाय नमः।
Oṁ Śrīkaṇṭhāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang mempunya leher yang Suci nan Agung (karena menahan racun mematikan yang disedot oleh Śiva untuk menyelamatkan para Dewa)
ॐ अंबिकानाथाय नमः।
Oṁ Ambikānāthāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva, Pujaan Dewi Ambika (Pārvatī)
ॐ शिपिविष्टाय नमः।
Oṁ Śipiviṣṭāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang badan-Nya memancarkan sinar suci maha cemerlang.
Om, worship bhakti servant to koṭiṃ whose body is emitting the glory of the almighty.
ॐ विष्णुवल्लभाय नमः।
Oṁ Viṣṇuvallabhāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang merupakan kesayangan Śrī Viṣṇu
ॐ खट्वांगिने नमः।
Om Khaṭvaṅgine Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang bersenjatakan Tombak Sakti Khaṭvāṅga
ॐ शूलपाणये नमः।
Oṁ Śulapāṇaye Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang memegang senjata sakti Tri Śula
ॐ शंकराय नमः।
Oṁ Śaṅkarāya Namaḥ
OM, sembah bhakti hamba kepada Śiva yang memberikan karunia kebahagiaan dan kesejahteraan pada seluruh makhluk.
SHAKTIPAT
4571 ViewThu, 25 Oct 2018, 04:16:33 |
How To Meditate With Angka
4208 ViewSat, 13 Nov 2021, 13:19:22 |
Pranayama - Yogic Breathing as a Preparation for Meditation
3075 ViewFri, 26 Feb 2021, 05:38:57 |
How to attain peace within
2961 ViewSat, 10 Oct 2020, 19:29:13 |
Angka 17th Anniversary Celebration Report from Bali
2920 ViewTue, 23 Oct 2018, 11:01:20 |
Tradition of Honoring Cows
2869 ViewFri, 24 Jan 2020, 08:28:15 |
How to cook and how to eat
2857 ViewSat, 10 Oct 2020, 19:26:51 |
Kebahagiaan Sejati
2708 ViewSat, 17 Apr 2021, 15:05:21 |
24 Jam Bersama Diri Sendiri
2627 ViewSat, 13 Feb 2021, 13:29:02 |
Prabhu Darmayasa - April 2016 visit write up
2565 ViewTue, 23 Oct 2018, 11:00:56 |
Melalui Kesulitan bersama Guru Sejati
170 ViewSun, 01 Mar 2026, 17:20:17 |
Seminar Nasional HUT Meditasi Angka XXV
1192 ViewSun, 23 Feb 2025, 06:46:27 |
Menyambut Masalah Bersama Guru Sejati
1064 ViewSat, 22 Feb 2025, 14:42:40 |
Tidur Bersama Tuhan
1437 ViewSat, 06 Jul 2024, 03:17:04 |
Memetik Bunga dan Buah dari Meditasi Angka
1452 ViewSat, 18 May 2024, 16:13:10 |
Pembersihan Pikiran Dalam Praktek Medang
1377 ViewSat, 13 Apr 2024, 06:12:59 |
Menjadi Layak Di Kaki Guru Sejati (II)
1462 ViewSat, 03 Feb 2024, 17:47:32 |
Menjadi Layak Di Kaki Guru Sejati (I)
1586 ViewSat, 04 Nov 2023, 04:57:59 |
Memperlemah Volume Perbedaan (II)
1757 ViewThu, 01 Jun 2023, 12:51:08 |
Memperlemah Volume Perbedaan (I)
1996 ViewSat, 07 Jan 2023, 15:40:42 |
I Made Suparta pada
Melihat Semua Sama (I)
1906 ViewSat, 12 Nov 2022, 11:26:20 |
I Wayan M. Pasek pada
Demi Penyempurnaan Diri Dan Bukan Demi Pengetahuan Saja (I)
2207 ViewFri, 29 Apr 2022, 09:05:16 |
Putu Waliana Yasa pada
Demi Penyempurnaan Diri Dan Bukan Demi Pengetahuan Saja (I)
2207 ViewFri, 29 Apr 2022, 09:05:16 |
I Wayan M. Pasek pada
Wilasita (1)
2245 ViewSat, 13 Nov 2021, 10:39:00 |
Rai sudarma pada
SHAKTIPAT
4571 ViewThu, 25 Oct 2018, 04:16:33 |
Putu Waliana Yasa pada
Kebahagiaan Sejati
2708 ViewSat, 17 Apr 2021, 15:05:21 |
Vidya Sagara pada
Pentingnya Praktek Spiritual
2438 ViewSat, 20 Mar 2021, 10:50:47 |
Kt sriadnya pada
24 Jam Bersama Diri Sendiri
2627 ViewSat, 13 Feb 2021, 13:29:02 |
Bryon Bottomley pada
Pranayama - Yogic Breathing as a Preparation for Meditation
3075 ViewFri, 26 Feb 2021, 05:38:57 |
Users Statistic
© 2018-2026 angka-meditation.org. All Rights Reserved.
