Language Fri, 01 May 2026, Malta

SATYAVADI MAHARAJA HARISCANDRA (001)

Wed, 09 Sep 2020, 02:40:08, 1319 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)

Maharaja Harischandra (ID)

Oleh : Darmayasa

“Hariścandra-samo rājā na bhuto na bhaviṣyati”
(Tidak pernah ada Raja seperti Mahārāja Hariścandra, dan pada masa-masa mendatang ke depan pun tidak akan pernah lagi ada Raja seperti Mahārāja Hariścandra).

Om Svastyastu, Radhe Radhe,
Sejak tahun 1980-an, saya berusaha membaca dan menceritakan cerita suci Mahārāja Harischandra (Hariścandra) ini kepada kawan-kawan saya, baik tertulis maupun secara lisan, namun saya tidak pernah berhasil melakukannya. Khususnya di tahun-tahun 1990-an, saya lebih berusaha untuk menceritakannya kepada kawan-kawan, namun tetap saja tidak berhasil. Penyebabnya, saya terhenti karena terharu, bahkan menangis. Saya tidak mampu melanjutkan ceritanya. Namun, keinginan untuk menyelesaikannya sampai tuntas tetap ada di dalam hati.

Tahun demi tahun berlalu, akhirnya saya mencoba menuliskannya di halaman-halaman Facebook saya dengan keinginan yang sama seperti dahulu, yaitu demi kepuasan batin saya sendiri, dan tentu saja demi kawan-kawan lainnya, yang dalam kesadaran serta keyakinan saya, pasti akan memberikan manfaat dalam berbagai bentuk. Disadari atau tidak, hal itu adalah keyakinan dan adalah pengalaman yang tidak dapat diungkapkan. Cerita ini sudah selesai sampai postingan no.56. Akan tetapi, ada keinginan untuk mempostingkan ulang dengan pengolalhan cerita ulang, demi kepuasan saya sendiri.

Ternyata benar, Pustaka suci Veda kita menyebutkan bahwa orang-orang yang membaca, mendengar dan/atau memperdengarkan cerita mulia Mahārāja Harischandra ini maka hati mereka akan dibersihkan dan berbagai karunia akan didapatkan. Paling tidak, kawan-kawan sekalian, ini adalah sebuah cerita. Ya, cerita masa lalu, cerita tentang Raja-raja suci. Ada indahnya dibaca dan dibacakan sambil minum air jahe hangat di pagi atau sore hari. Khususnya di saat-saatu kita sedang menghadapi situasi sekarang ini, supaya ada selingan untuk mendinginkan kecemasan akibat membaca/mendengar terlalu banyak berita-berita yang membuat kesadaran kita agak melemah.
Semoga bermanfaat. Astungkara.
Om Shantih Shantih Shantih Om.
Radhe Radhe.

Dalam garis keturunan raja-raja dari keluarga Sūryawangsa terdapat seorang raja terkenal bernama Mahārāja Triśangku. Ia dikenal di dalam cerita-cerita Purāṇa dan Itihāsa sebagai seorang raja yang menginginkan pergi ke Svarga (Surga) bersama badan kasarnya.

Raja Triśangku, bukanlah nama awal atau nama sesungguhnya melainkan nama kutukan. Ia bernama Satyavrata, dan istrinya bernama Satyarathā (tasya satyarathā nāma bhāryā kaikeya vaṁśajā). Dari pernikahannya, Satyarathā lalu melahirkan seorang putra bernama Harischandra, yang belakangan menjadi Raja yang sangat terkenal akan kejujurannya (kumāraṁ janayāmāśa hariścandram akalmaṣam).

Mahārāja Satyavrata, ingin pergi ke Surga dengan cara yang tidak lumrah dan tidak pernah terjadi sebelumnya, yaitu pergi ke Surga bersama badan kasarnya. Ia ingin melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh siapa pun sebelumnya. Ya..., Raja Satyavrata ingin menciptakan sejarah bahwa ia adalah orang pertama dan/atau satu-satunya yang berhasil pergi ke Surga dengan badannya.

Demi mencapai tujuannya tersebut, ia meminta guru kerajaannya, Maharesi Vaśiṣṭha untuk melakukannya. Raja mengetahui akan kesaktian Gurunya yang pasti bisa melakukannya. Akan tetapi, permintaannya tersebut langsung ditolak karena hal itu merupakan suatu tindakan yang menyalahi hukum Tuhan. Maharesi Vaśiṣṭha didekati dan dimintai tolong oleh Mahārāja Satyavrata karena beliau mempunyai kekuatan spiritual sangat hebat dan mampu melakukan apa saja yang diinginkannya melalui kekuatan spiritual tersebut. Mahārāja Satyavrata mendekati Guru keluarganya itu untuk membantunya mencapai Surga. Akan tetapi, Maharesi Vaśiṣṭha ternyata menolak permintaannya itu mentah-mentah.

Satyavrata tidak putus asa oleh penolakan itu. Ia pun mendatangi putra Maharesi Vaśiṣṭha. Namun, hasilnya sama, yaitu ketika Putra Maharesi Vaśiṣṭha yang bernama Shakti Vaśiṣṭha dimintai bantuan yang sama, ia menjadi sangat marah kepada Raja. Putra Maharesi Vaśiṣṭha, Shakti Vaśiṣṭha bahkan berbalik mengutuk raja Satyavrata menjadi tua dan berwajah buruk dengan nama Triśangku.

Sang Putra Guru mengutuk Raja Satyavrata menjadi Triśangku (Triśaṁku) karena ia melakukan tiga perbuatan dosa yang sulit diampuni (triṇi śaṁkuni), yaitu: (1) Pituḥ cāparitoṣeṇa, yaitu membuat ayahnya tidak senang ketika ia melarikan pengantin wanita yang adalah putri seorang brāhmaṇa ketika sedang berada di dalam upacara pernikahan, (2) guroḥ dogdhrῑ vadhena ca, yaitu perbuatan membunuh sapi Gurunya, dan (3) aprokshitopayogāt ca, bahwa ia memanfaatkan daging tidak suci, yaitu dari sapi yang dia bunuh. Dari ketiga kesalahan tidak terampuni itulah ia mendapat kutukan tanpa ampun, sehingga diberi nama Tri (3) Śaṁkuḥ (dosa besar), yaitu dia yang melakukan tiga jenis perbuatan dosa yang sangat sulit untuk diampuni (Triśaṁkuḥ).

Mahārāja Satyavrata yang sudah beralih nama menjadi Triśangku menjadi kecewa dan sangat bersedih. Akan tetapi, oleh karena keinginan kerasnya untuk bisa pergi ke Surga dengan badan kasarnya begitu keras dan tidak mampu ditahannya, menyebabkan semangatnya tetap ada. Semangat itulah yang akhirnya mengantarkan langkah-langkah kaki Triśangku untuk datang mendekati Maharesi Viśvāmitra, memohon bantuannya. Tentu saja Maharesi Vishvamitra berkenan melakukannya, dengan alasan pertama dan terdepannya, hanya demi berbeda dengan rivalnya, Maharesi Vaśiṣṭha. (01)
 





Comments