Language Fri, 01 May 2026, Malta

SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (54)

Fri, 18 Sep 2020, 07:33:10, 1329 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)

Maharaja Harischandra (ID)

Oleh : Darmayasa

Akan tetapi..., Raja Harischandra bukanlah seorang Raja pemburu Surga. Ia menjadi Raja bukan karena keinginannya untuk menjadi Raja, dan juga bukan karena membeli suara. Ia menjadi seorang Raja juga bukan karena berkoalisi demi berkuasa, melainkan ia menjadi Raja karena keinginan mulia untuk melayani serta mengangkat kehidupan rakyatnya kepada hidup yang sejahtera secara material dan demi mencapai kemuliaan pada kehidupan setelah meninggal (mokṣārthaṁ jagaddhitāya ca iti dharmaḥ).

Sesuai dengan Kṣatriya-dharma, yaitu tradisi para ksatria sejati, sejak kecil Raja Harischandra sudah mendapat pendidikan, tempaan, gemblengan, dan dipersiapkan khusus di Pasraman atau Gurukula oleh para Guru suci yang memiliki pengetahuan kepemimpinan sempurna serta suci bijaksana. Segala jenis ilmu pengetahuan diajarkan; dari pengetahuan suci Veda secara menyeluruh, ilmu kepemimpinan, dan juga gemblengan berat dalam ilmu kemiliteran. Begitu keluar dari Pasraman Guru, ia sudah memiliki kematangan seorang pemimpin sejati yang mampu mengalahkan ribuan musuh sendirian. Selain tempaan berat di Pasraman Guru, Harischandra juga memang sudah memiliki sifat mulia bawaan sejak lahir, yang darah dagingnya terbentuk oleh sifat ksatria sejati, Raja Harischandra memang tertempa matang di dalam kepemimpinan di jalan Veda. Memimpin untuk mengangkat hidup rakyat dan bukan memimpin untuk berkuasa, dan juga bukan demi keuntungan duniawi lainnya. Begitu mulianya sifat Maharaja Harischandra, bahkan demi pencapaian surga sekali pun bukanlah tujuannya menjadi seorang pemimpin atau menjadi Raja.

“Ayolah Raja Harischandra...., naiklah kereta Vimana surgawi ini bersama istri dan anakmu... atas karunia khusus dari Hyang Nārāyaṇa .... dengan badan jasmani ini engkau dapat pergi ke Surga...”, Dewa Indra menegaskan kembali ajakannya.

Mahārāja Harischandra menjawab lembut penuh ketundukan hati, “O...., Dewa Indra yang maha welas asih...., hamba bukannya menolak tawaran Surga... hamba ini mempunyai atasan..., hamba bukan orang yang bebas menentukan pilihan. Atasan hamba adalah penguasa Smashana pembakaran mayat ini. Hamba harus mendapatkan izin dari beliau, jika tidak, hamba tidak akan bisa mengiringi Dewa Indra pergi ke Surga...”

Dewa Indra semakin kagum akan kemuliaan Mahārāja Harischandra. Siapa yang menolak kemuliaan Surga? Orang pada bertengkar memperebutkan sejengkal tanah atau selembar uang kertas, saling fitnah hanya demi kepuasan kecil, atau pun atau pun kesenangan duniawi lainnya. Orang-orang siap saling bunuh untuk itu. Sedangkan tawaran Surga..., dari Dewa Indra secara langsung...., semua itu tidak mampu memalingkan Raja Harischandra dari keteguhannya mematuhi jalan kejujuran dan kebenaran, satyam eva jayate.

Dewa Dharma, Dewa Keadilan kembali menjelaskan kepada Mahārāja Harischandra bahwa yang menjadi Cāṇḍāla Penguasa tempat pembakaran mayat tersebut adalah beliau sendiri. Jadi, Mahārāja Harischandra tidak perlu lagi meminta izin untuk pergi ke Surga.

Kembali Dewa Indra mengajak Raja Harischandra untuk menaiki Vimana Surgawi yang sudah disiapkan. Akan tetapi... (54).





Comments