Language Fri, 01 May 2026, Malta

SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (TAMAT)

Fri, 18 Sep 2020, 07:34:57, 1312 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)

Maharaja Harischandra (ID)

Oleh : Darmayasa

Dewa Indra dan Maharesi Viśvāmitra membujuk Mahārāja Harischandra untuk berangkat ke Surga tanpa para pelayan dan penduduk Ayodhya. Tentu saja, sebagai seorang Satyavādī, seorang yang setia pada kata-katanya, Raja Harischandra tetap memilih mempertahankan kata-katanya. Melihat teguhnya Raja Harischandra mempertahankan kata-katanya dalam kasih pada rakyatnya, Dewa Indra kemudian mempersiapkan Vimana Surgawi, sambung menyambung beriring-iringan mengangkut penduduk Ayodhya menuju Surga-loka. Luar biasa ketulusan Raja Harischandra dalam kebersamaannya dengan rakyatnya. Ia tidak merasa dirinya menjadi Penguasa melainkan menjadi “pelayan” dari rakyatnya. Raja sebagai pelayan sangat berbeda dengan Raja sebegai penguasa. Mereka akan berusaha sekuatnya dengan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk melayani dan mengangkat taraf hidup dan kehidupan rakyatnya agar mereka bisa hidup tenang, damai, sehat, berpendidikan, dan juga sejahtera lahir-batin.

Selanjutnya Dewa Indra dan Maharesi Viśvāmitra mengisi kerajaan Ayodhya dengan penduduk baru lalu menobatkan Putra mahkota, Rohitaśva menjadi Raja Ayodhyā.

Bukan hanya para penduduk dan para Raja melainkan para pendeta serta para Dewa pun terkagum-kagum oleh keteguhan Mahārāja Harischandra dalam mengikuti jalan kejujuran dan kebenaran Satya. Orang suci tingkat Brahmaresi seperti Maharesi Vaśiṣṭha dan Maharesi Viśvāmitra mengukuhkan Mahārāja Harischandra menjadi seorang Satyavādῑ, orang yang sangat teguh memegang kata-kata yang sudah diucapkannya dalam kejujuran dan kebenaran sejati.

Di antara para Guru Suci, hadir pula Resi Śukra Acharya. Pada kesempatan mulia tersebut, Resi Śukra Ācārya pun mengagung-agungkan Mahārāja Harischandra sebagai satu-satunya Raja yang pernah ada dan tidak akan pernah ada lagi Raja jujur dalam mempertahankan kebenaran seperti Mahārāja Harischandra, “Hariścandra-samo rājā na bhūto na bhaviṣyati”. Mereka yang sedang mengalami kedukaan, jika mendengarkan kemuliaan cerita Mahārāja Harischandra ini maka mereka akan mengalami rasa bahagia tak terhingga di dalam dirinya – ‘yaḥ śṛṇoti sva-duhkhārtaḥ sa sukhaṁ mahadāpnuyāt’. Mereka yang menginginkan pencapaian alam-alam Surga, akan memperolehnya..., mereka akan mencapai alam-alam Surga sesuai dengan yang mereka inginkan – ‘svasgārthῑ prāpnuyāt svargam’. Mereka yang kesulitan memperoleh putra/anak, mereka yang menginginkan putra/anak, mereka akan memperolehnya, mereka akan mendapatkan putra – ‘putrārthῑ putramāpnuyāt’. Mereka yang menginginkan pasangan hidup, mereka yang menginginkan istri, dengan mendengarkan cerita kemuliaan Mahārāja Harischandra ini, maka mereka akan mendapatkan pasangan hidup atau istri yang baik – ‘bhāryārthῑ prāpnuyāt bhāryā’. Mereka yang menginginkan kesempatan menjadi seorang pemimpin yang bijak, mereka pun akan mendapatkannya – ‘rājyārthῑ rājyamāpnuyāt’.

Lebih jauh Resi Śukra Ācārya mengatakan bahwa sifat atau kesadaran Titikṣā-bhāva, sifat tenang, damai dan tabah dalam menghadapi segala masalah begitu mulianya sehingga ia menjadi tidak mungkin untuk dijelaskan melalui bahasa manusia (aho titikṣāmāhātmyam), dan juga kemuliaan tak terhingga dari pahala memberikan dāna-punia dengan tulus ikhlas, tidak dapat dijelaskan dengan bahasa dan kalimat. Ia sangat mulia dan agung, ia memberikan pahala tiada terhingga kepada mereka yang melakukannya dengan tulis ikhlas suci hati – ‘aho dāna-phalaṁ mahat’.

Keteguhan Mahārāja Harischandra dalam mempertahankan kejujuran dalam kebenaran, sabar dan tabah dalam menghadapi segala tantangan serta cobaan hidup, serta mempersembahkan dāna-punia atau derma dengan tulus ikhlas suci hati, semua itu mengantarkan Mahārāja Harischandra pada pencapaian alam Surga yang dipenuhi segala keindahan, kedamaian, ketenangan, kebahagiaan, keriangan yang semakin bertambah...dan bertambah terus. Walaupun pencapaian alam-alam Surga bukanlah pencapaian tertinggi atau pencapaian akhir dari ātma-yātrā atau perjalanan Sang ātmā, akan tetapi pencapaian alam Surga seperti yang dicapai oleh Mahārāja Harischandra merupakan pencapaian maha tinggi dan maha mulia, yang tidak sembarang orang dapat mencapainya. Bahkan para Dewa pun tidak dapat mencapai tingkat pencapaian Surga seperti yang dicapai oleh Mahārāja Harischandra. Oleh karena itulah Resi Śukra mengatakan, tidak pernah ada Raja seperti Mahārāja Harischandra, dan pada masa-masa mendatang ke depan pun tidak akan pernah lagi ada Raja seperti Mahārāja Harischandra (Hariścandra-samo rājā na bhūto na bhaviṣyāmaḥ).

Jaya Mahārāja Harischandra... jayalah kejujuran dan kebenaran, Satyam eva Jayate...

Terima kasih saya ucapkan kepada semua yang berkenan mendoakan saya untuk dapat menyelesaikan cerita ini. Semoga ada secuil keindahan yang dapat kita petik bersama dan kemudian terapkan dalam hidup manusia kita, demi kemuliaan diri dan demi kemuliaan kita bersama. Sebagai insan ciptaan-Nya, semoga kita semua diizinkan hidup dalam kesadaran saling mengasihi dan mengampuni, serta mendoakan kemuliaan setiap insan ciptaanNya.

Mohon maaf jika ada kekurangan dan kesalahan yang saya perbuat dalam penulisan cerita ini. Ia sempat terhenti sangat lama karena selain alasan kesibukan yang tidak terhindarkan, saya juga tidak mampu melanjutkannya karena pada bagian-bagian tertentu, beberapa kali saya menangis sesenggukan dan harus menghabiskan tissue begitu banyak untuk menghapuskan air mata... dan saya tidak mampu melanjutkannya. Akhirnya saya bisa melanjutkannya hanya setelah kawan-kawan berkenan mendoakan saya..., paling tidak, itulah yang saya yakini, mengingat cerita Mahārāja Harischandra ini ditulis oleh Maharesi agung bukanlah sebuah cerita biasa. Ntuk apa seorang Maharesi menulis cerpen atau novel? Apakah beliau tidak ada kerjaan lain? Demikian saya memahami cerita mulia ini.

Saya merasa sangat beruntung serta berbahagia dapat menyelesaikan cerita ini serta membagikan langsung kepada ribuan kawan-kawan, pas pada hari suci Galungan pada tanggal 16 September 2020 ini. Sekaligus bersamaan dengan Tilem “Mahālaya Amāvasya”, Tilem penuh karunia “unasicang” lan “nunasica” ring leluhur.

Sekali lagi titiang ngaturang suksmaning manah. Sarve bhavantu sukhinah, semoga semua berbahagia. Dumogi sareng sami ngemangguhang kerahajengan... Shantih.... (Darmayasa)

gambar oleh Sdr. Hendra, Raja Harischandra dalam mimpi mempersembahkan kerajaan kepada Resi Vishwamitra.

Catatan: Jika ada kawan2 yang ingin berbagi membuat gambar tentang cerita Raja Harischandra untuk menghias buku kecil yang sedang kami persiapkan, dipersilakan... matur suksma nggih.





Comments