Language Fri, 01 May 2026, Malta

SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (55)

Fri, 18 Sep 2020, 07:34:08, 1299 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)

Maharaja Harischandra (ID)

Oleh : Darmayasa

Akan tetapi..., Mahārāja Harischandra tidak segera menerima tawaran Dewa Indra untuk menaiki pesawat Vimana Surgawi yang sudah disiapkan untuk dirinya. Ia menjadi teringat bagaimana Dewa Yama mengirim dirinya ke dunia ini untuk berbahagia membersihkan diri dari karma-karma buruk masa lalunya (Gacchastva manusaloka duḥkha-śeṣa ca bhukṣvavai, gatasya tatra rājendra śreyas tava bhaviṣyati). Menjalani karma di dunia “karma-bhūmi” ini, yaitu tempat membuat karma dan membersihkan diri dari karma, sesungguhnya adalah hadiah kemuliaan. Raja teringat bagaimana dirinya dahulu dikirim oleh pasukan Dewa Yama turun melayang-layang ke dunia ini (Vyatīte dvādaśe varṣe duḥkhasyānte narādhipa, antarikṣāc ca patito yama-dūtaiḥ praṇodita), untuk membersihkan diri dari karma-karma mengikat.

Sambil bersimpuh dengan penuh ketundukan hati, Raja Harischandra menyampaikan permohonan kepada Dewa Indra, “Duhai Dewa Indra yang hamba junjung tinggi dalam segala hormat bhakti…, rakyat hamba di kerajaan Ayodhyā merasa sangat kehilangan akan diri hamba. Mereka merindukan hamba, dan hamba pun merindukan mereka. Bagi hamba, rakyat adalah mereka yang harus hamba angkat derajat serta kemuliaannya lahir dan batin. Jika hamba pergi ke Surga, mereka semua pun harus pergi ke Surga. Jika mereka ke neraka, hamba pun akan pergi ke neraka bersama mereka....”

Mendengar penuturan Raja Harischandra seperti itu, Dewa Indra mencoba memberikan pengertian yang benar kepadanya, “Wahai Mahārāja Harischandra..., pencapaian Surga dan Neraka itu merupakan masalah karma setiap orang. Jika mereka berbuat mulia, mereka akan mencapai Surga. Jika mereka berbuat jahat, maka mereka akan pergi ke neraka. Svayam ātmā-karoty ātmā – sendiri orang melakukan perbuatan baik-buruk, benar-salah, svayam tat-phalam aśnute... sendiri pula mereka menikmati pahala baik-buruk, benar-salahnya... orang pergi ke Surga atau ke Neraka itu semua karena diri sendiri....”

Sambil menghormat kepada Dewa Indra, tetap dalam ketundukan hati..., Mahārāja Harischandra menyampaikan kepada Dewa India, “Sembah bhakti hamba kepada Dewa Indra... Hamba menjadi Raja bukan karena kekuatan dan kemampuan hamba sendiri. Apa pun yang hamba lakukan, kegiatan-kegiatan persembahan yajña dan lain-lain, kami melakukannya bersama-sama. Sehingga, kami bersama pula patut mendapatkan pahala dari segala dana-punia, persembahan yajña, dan lain-lain yang kami lakukan bersama. Kami semua harus mendapatkan pahala yang pembagiannya sama. Seandainya pahala mulia yang patut hamba dapatkan, hamba dapat nikmati sendirian berbulan-bulan, lebih baik hamba menikmatinya dalam sehari tetapi menikmatinya bersama rakyat hamba dalam pembagian sama-rata. ‘Śakraṁ bhuṅkte nṛpo rājyaṁ prabhāveṇa kuṭumbinām, yajate ca mahāyajñaiḥ karmaṁ paurtaṁ karoti ca, tacca teṣāṁ prabhāvena mayā sarvam anuṣṭhitam, upa-kartṛn na santyakṣye tān aham svarga lipsayā tasmān yan-mama deveśa kiñcidasti suceṣṭitam dattam iṣṭam atho japtam sāmānyaṁ tais tas astu naḥ, bahu-kālopabhogyaṁ hi phalaṁ yan-mama karmaṇaḥ, tad astu dinam apyekam taiḥ samaṁ tvat-prasādataḥ’ Hamba hanya akan pergi ke Surga jika rakyat hamba juga pergi ke Surga. Kalau tidak, apa gunanya hamba pergi ke Surga dengan mengingkari rakyat hamba?” Raja Hariscandra tetap menundukkan kepala sambil mencakupkan kedua tangan di depan dadanya sebagai tanda hormat bhaktinya kepada Dewa Indra dan Dewa-dewa lainnya.

Sungguh mulia hati Mahārāja Harischandra. Surga bagi Raja Harischandra bukanlah sesuatu yang dikejar dan diburu dengan segala cara, apalagi dengan cara saling bunuh dengan sesama ciptaan dari Hyang Maha Tunggal, Tuhan Yang Satu dan Yang Sama. Adalah suatu hal sangat mengagumkan jika seorang Raja yang dikelilingi oleh segala keinginan material justru berhasil menjaga kesadarannya tetap murni. Tawaran Surga pun baginya merupakan “bencana” jika ia tidak memberikan kesejahteraan dan kemuliaan lahir bathin kepada diri serta missi kasihnya. Pencapaian Surga itu bukanlah pencapaian kecil. Ia dapat dicapai melalui perbuatan baik, indah, mulia penuh tebaran “intan berlian spiritual” di jalan dharma. Dalam hal ini, Raja Harischandra ditawarkan pencapaian Surga oleh Penguasa Surga itu sendiri, yaitu Dewa Indra. Seharusnya tidak ada kesulitan apa pun bagi Raja Hariscandra untuk menolak tawaran pencapaian Surga, bersama anak dan istrinya. Tidak sendirian pergi ke Surganya, melainkan mencapai Surga bersama anak dan istrinya. Akan tetapi, Raja Harischandra tetap menolaknya hanya demi kebaikan rakyat yang dipimpinnya.

Mengetahui keteguhan hati Mahārāja Harischandra seperti itu, akhirnya Dewa Indra dan Maharesi Viśvāmitra... (55)





Comments