Language Fri, 01 May 2026, Malta

SATYAVADI MAHARAJA HARISCANDRA (003)

Tue, 05 May 2020, 07:29:59, 1208 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)

Maharaja Harischandra (ID)

 

Oleh : Darmayasa

Melihat Raja Triśaṅgku tertolak Kembali melayang-layang ke bawah, Maharesi Viśvāmitra menjadi semakin marah (tīvraṁ roṣam āhārayat). Viśvāmitra segera mempergunakan kembali kekuatan spiritualnya, sambil berkata, “Tunggu...tunggu... tiṣṭha tiṣṭha...” Viśvāmitra segera menahan tubuh Raja Triśangku. Tertahan di antara Surga dan Bumi, Raja Triśangku memelas, dan sambil mencakupkan tangan di depan dadanya ia kembali memohon pertolongan Maharesi Viśvāmitra.

Tidak ingin melihat kegagalan dalam usaha memenuhi janjinya pada Raja Triśangku, akhirnya bagaikan sang pencipta baru (aparaḥ prajāpatih iva) Maharesi Viśvāmitra menciptakan Surga baru di arah Selatan (dakṣiṇa mārgasthān aparān saptaṛṣīn sṛjan, punaḥ nakṣatra vaṁśa paramparam asṛjat) yang dinamakan “Ursa Major” dan menempatkan Raja Triśangku di Surga baru tersebut menjadi Dewa Indra tandingan. Dengan demikian, tercapailah cita-cita Raja Triśangku untuk pergi ke Surga Loka dengan badan kasarnya.

Melihat Maharesi Viśvāmitra berhasil menciptakan Surga baru dan menempatkan Raja Triśangku menjadi Dewa Indra baru di sana, maka para Dewa di Surga Loka yang asli menjadi tidak tenang. (02)

Setelah para Dewa mengadakan rapat, akhirnya diputuskan bahwa para Dewa akan mengunjungi Maharesi Viśvāmitra untuk meminta agar beliau membatalkan “surga ciptaannya” tersebut.

Para Dewa dipimpin oleh Dewa Indra kemudian mendatangi Maharesi Viśvāmitra, dan berusaha dengan segala bujukannya meminta agar Maharesi Viśvāmitra membatalkan ciptaan Surga barunya itu. Para Dewa memberikan berbagai alasan perihal ciptaan Surga baru tersebut, terutama sekali alasan bahwa hal itu menentang hukum alam. Akan tetapi, Maharesi Viśvāmitra sebagai seorang Maharesi yang “satya-vacana”, yang sudah memberikan kepastian kata-katanya kepada Raja Triśangku, maka beliau tidak akan menarik kembali kata-katanya tersebut (sa śarīrasya asya triśangkoḥ bhūpateḥ ārohaṇaṁ pratijātaṁ anṛtaṁ kartuṁ na utsahe).

Setelah perundingan alot dilakukan, Maharesi Viśvāmitra pun berusaha memenuhi permintaan para Dewa, dan akhirnya tercapai kesepakatan bahwa Surga baru tersebut tetap ada, diberikan nama Surga Triśangku, karena Raja Triśangku menjadi Rajanya di sana (asya triśangkoh sa śarīrasya śāśvataḥ svargaḥ astu), yang dipastikan tidak akan menjadi saingan Dewa Indra. Jaminan itu diberikan oleh Maharesi Viśvāmitra dengan menjanjikan kepada para Dewa bahwa sesuai dengan permintaan Dewa Indra maka Raja Triśangku akan berada di Surganya tersebut dalam posisi terbalik dengan kepala di bawah (triśangkuḥ ca ama sannibhaḥ avānśiraḥ tiṣṭhatu).

Surga Triśangku ini ditafsirkan sebagai susunan perbintangan yang jaraknya termasuk sangat dekat dengan bumi, tempatnya “tergantung” di tengah-tengah antara Bumi dan Surga, dan bisa dilihat dengan mata telanjang. Dalam pergaulan sehari-hari di India, kata “Triśangku” juga dipergunakan untuk menunjukkan ketika orang sedang berada tergantung tidak jelas antara jarak dirinya dengan tujuan yang hendak dicapainya.

Cerita ini tidak mengajak para pembaca terfokus pada Raja Triśangku dan/atau kedudukannya di dalam ilmu astronomi, melainkan cerita akan menceritakan tentang putra dari Raja Triśangku yang sangat terkenal dan menjadi pujaan semua, bernama Mahārāja Harischandra. Seharusnya karena penulisan huruf Devanagarinya adalah Hariścandra, kadang akan tertuliskan Harischandra, kadang Harischandra, eeemmm... sesuka tangan menuliskannyalah...hehe....

Tersebutlah seorang Marajadhiraja Satyavadi Nisthavadi, putra raja Satyavrata Triśangku bernama Mahārāja Harischandra, seorang raja yang memiliki berbagai sifat mulia dan merupakan keturunan ke-28 keluarga Suryawangsa, dan juga merupakan leluhur dari Raja terkenal, Shri Ramachandra (03)





Comments