Language Fri, 01 May 2026, Malta

SATYAVADI MAHARAJA HARISCANDRA (016)

Sun, 10 May 2020, 03:42:13, 1128 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)

Maharaja Harischandra (ID)

Oleh : Darmayasa

Sambil berjalan tanpa arah..., akhirnya terbersit di dalam kesadarannya untuk memilih pergi ke Kashi (Benares), kota suci tempat Dewa Shiwa. Tempat suci itu, menurut kitab-kitab Purana dan Itihāsa, tidak pernah berada di bawah kekuasaan manusia. Walaupun tempat suci tersebut berada di bumi ini tetapi karena menjadi daerah dari Dewa Shiwa maka ia tetap dianggap berada di luar bumi ini. Bagaikan orang-orang mencari perlindungan politik di sebuah Kedutaan suatu negara yang ada di negaranya sendiri. “Naiṣā manuṣya-bhogyāhiśūlapāṇe parigraha”, Dan..., itulah yang dipilih oleh Mahārāja Harischandra, mencari suaka spiritual di daerah kekuasaan Mahadewa, Dewa Shiwa yang diyakini tetap hadir di bumi ini. Benares atau Varanasi..., tempat suci itulah yang ia hendak tuju.

Ketika raja Harischandra meninggalkan istana, diikuti oleh permaisuri dan putranya yang mungil, Rohitashwa, dengan muka agak kaku maharesi Viśvāmitra mendekat ke arahnya lalu berkata, "Hei Raja Harischandra..., kau mengetahui dengan sempurna aturan-aturan suci, bahwa jika tidak disertai oleh dakshina (uang derma), maka Japa (zikir), tapa (pertapaan), dana (derma) yang dilakukan akan sia-sia belaka. Adakṣiṇaṁ yajñaṁ tāmasaṁ paricakṣate, bahwa tanpa pemberian dakṣiṇa upacara dan perbuatan apa pun dilakukan menjadi turun ke tingkat tamasa-guna alias tidak akan memberikan hasil apa pun? Veda menyebutkan bahwa dakshina vatamidamani chitra dakshinavatam divi suryasah, hanya mereka yang memberikan dakshina akan bersinar terang di seperti matahari dan bintang di langit. Dakshinavanto amrita bhajante, bahwa hanya mereka yang memberikan dakshina akan menemukan hidup kekal, dan dakshinavanta pratiranta ayuh, bahwa hanya mereka yang memberikan dakshina akan berusia panjang. Engkau telah memberikan kerajaan yang begitu luas kepadaku. Untuk melengkapinya, kau harus memberikan dakshina sebanyak seribu keping emas, maka sesuai aturan suci, barulah pemberian itu dianggap sempurna."

Mendengar kata-kata maharesi Viśvāmitra seperti itu, permaisuri menundukkan kepala, berusaha menahan air matanya agar tidak keluar. Ia tidak tahan menerima perlakuan seperti itu terhadap suaminya, walau oleh seorang maharesi yang sangat ia hormati. Ia ingin memeluk dan menghibur suaminya. Ia ingin agar suaminya merebahkan kepalanya di pangkuannya untuk melepaskan seluruh beban kedukaan itu dan permaisuri bersedia menerima betapa berat pun beban derita itu. Ia hanya menginginkan suaminya terbebas dari beban duka ini. Akan tetapi, ia hanyalah seorang wanita..., seorang wanita yang harus berbicara banyak lewat diam. Ia menyadari sepenuhnya kelebihan wanita seperti itu yang cendrung menambah kedukaan baginya. Permaisuri menjadi semakin bersedih ketika melihat wajah suaminya yang sedang mengalami kesulitan untuk memberikan jawaban kepada maharesi Viśvāmitra. Permaisuri tidak mampu memandangi wajah suaminya yang kelihatan agak kaget, tetapi tertutupi oleh ketegapan wajah ksatrianya yang jujur dan pantang menyerah. Untuk mengalihkan perhatiannya dari kedukaan itu, agar ia tidak menjatuhkan butir-butir air matanya, maka permaisuri menarik badan putranya, mendekapnya erat-erat sambil mengelus-elus kepalanya dengan penuh rasa kasih sayang. (16)





Comments