SATYAVADI MAHARAJA HARISCANDRA (019)
Tue, 12 May 2020, 04:06:31, 1114 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)
Maharaja Harischandra (ID)
Oleh : Darmayasa
Sesungguhnya memang, penderitaan tidaklah dimaksudkan untuk seorang anak kecil yang masih lugu, manis, dan mungil. Kerasnya hidup, dukanya hidup tidak pula untuk seorang wanita yang lemah gemulai, terlebih lagi dia seorang Mahārāṇi, Ratu dari seorang Mahārājadhiraja, penguasa seluruh dunia.
Para lelaki pada umumnya memiliki badan yang gagah dan kekar serta kuat. Badan lelaki dimaksudkan untuk menghadapi berbagai jenis tantangan hidup, penderitaan dan pertapaan. Namun, susunan tubuh serta mental anak-anak dan wanita, sama sekali tidak dimaksudkan untuk menghadapi penderitaan-penderitaan. Walaupun pada kenyataan banyak wanita sangat kuat dan tegar menghadapi masalah, meninggalkan jauh di belakang kekuatan serta ketegaran laki-laki. Bahkan, sangat sering kesabaran, ketegaran seorang wanita berhasil menyelamatkan hidup laki-laki. Namun demikian, susunan badan wanita tidaklah dimaksudkan untuk menerima cobaan keras menyakitkan. Matanya yang indah dan jeli pun tidak dimaksudkan untuk mengalirkan air mata kepedihan. Demikian pula, mata anak-anak yang jernih dan mungil, tidak dimaksudkan untuk menjadi sayu, atau sinarnya memudar karena tertekan oleh penderitaan berat, melainkan dimaksudkan untuk bersinar, berbinar-binar, dengan lirikannya yang lincah kesana kemari, menambah rasa kasih dan sayang para orang tua dan yang lainnya. Bibirnya yang mungil dan manis, tidak untuk cemberut, tidak juga untuk dihias oleh tangisan melainkan adalah untuk tersenyum, tertawa, bercerita jenaka dan mengecup pipi orang tuanya. Namun tidak demikian keadaannya dengan putra mahkota dan permaisuri. Kenyataannya sangat terbalik dengan apa yang dialami oleh permaisuri Mahārāja Harischandra dan putra mahkota, Rohitashwa.
Senyum yang masih tetap melekat pada bibir permaisuri, dan berbinarnya mata putra mahkota kecil dengan jelas menunjukkan bahwa mereka bukanlah seorang wanita dan anak sembarangan. Mereka telah terdidik dan terbentuk dalam tempaan hidup, moral serta dharma secara sempurna. Walaupun hidup dalam gemerlapan keindahan serta kenikmatan material dan dilayani oleh ribuan pelayan di istana, namun semua kenikmatan, kenyamanan, kemewahan hidup tidak membuat mereka menjadi lembek, malas, manja, atau menjadi orang lemah pisik maupun mental. Mereka bisa hidup baik di dalam lingkungan kemewahan, tetapi mereka juga bisa hidup dengan cara sangat sederhana tanpa terganggu sama sekali. Mereka sangat kuat pisik dan mental. Kalau tidak, Mahārāja Harischandra tidak akan mampu mengajak permaisuri dan putra mahkota pergi keluar meninggalkan istananya tanpa beban batin sedikit pun. Hanya mereka yang telah mantap dalam kebenaran sajalah yang mampu meninggalkan segala kemewahan tanpa kesulitan, bagaikan meninggalkan onggokan-onggokan sampah tak berarti saja layaknya. Mahārāja Hariścandra meninggalkan keterikatan pada kemewahan hidup dengan begitu mudahnya, tanpa beban sedikit pun. (19)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (005EN)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (004EN)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (EN003)



