SATYAVADI MAHARAJA HARISCANDRA (020)
Wed, 13 May 2020, 02:43:00, 1110 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)
Maharaja Harischandra (ID)
Oleh : Darmayasa
Perjalanan tidak menjadi beban bagi Mahārāja Harischandra, permaisuri dan putra mahkota; entah sudah berapa hari mereka menempuh perjalanannya, entah sudah berapa minggu, seluruh suka duka perjalanan, semua menjadi lenyap seketika begitu dari kejauhan mereka melihat kota Banares, yang juga bernama Varanasi, atau Kashi. Tempat suci yang sangat kuna ini, yang bahkan dijelaskan bukan hanya di kitab-kitab suci Itihāsa, Purāṇa, dan lain-lain, bahkan dijelaskan pula pada kitab-kitab suci Catur Veda. Hal itu menunjukkan ketuaan atau dengan bahasa lain “keabadian” dari pada tempat suci ini. Varanasi juga disebut sebagai kota suci yang merupakan pusat pembelajaran pengetahuan-pengetahuan suci Veda (Jñāna Puri), dan juga disebut sebagai Avimukta, yaitu kota suci yang tidak pernah ditinggalkan oleh penduduk sejak zaman dahulu kala. Ia berada di antara dua sungai kecil Varuṇa di sebelah Utara, dan sungai Asi di sebelah Selatannya. Karena itulah kota suci itu dikenal dengan nama Vārānaśī. (Banares atau Benares merupakan nama yang diberikan oleh penjajah Inggris, merupakan “sebutan keseleo” dari Vārānaśī).
Vārānaśī, Kāśī atau Banares dikenal sebagai tempat suci tempat pemujaan Dewa Shiva Mahadewa. Diyakini, Dewa Shiwa hadir berada di tempat suci ini. Bahkan Raja Banares sendiri secara tradisi diyakini sebagai “titisan” Dewa Shiwa. Ketika rakyat Banares melihat Rajanya datang, atau ketika Sang Raja menghadiri suatu pertemuan, biasanya rakyat atau seluruh hadirin akan berdiri, semua akan berteriak lantang menyambut Rajanya dengan seruan lantang, “Hara Hara Mahadewaaaaaa.....”
Kāśī atau pada umumnya ditulis Kashi merupakan tempat suci yang sangat tua. Bahkan disebutkan sebagai kota tertua di dunia. Kashi dipandang sebagai kota yang sangat suci karena berada dalam kekuasaan Kāśī Viśvanātha, yaitu Śiva Mahādeva sebagai Penguasa dari Kashi. “Trikaṇṭaka” tidak mempunyai pengaruhnya di kota suci Kashi/Varanasi (kaliḥ kālaḥ kṛtaṁ karma trikaṇṭakam). Trikaṇṭaka adalah Tiga-Ka, yaitu Kali (zaman Kaliyuga, zaman edan), Kāla (Sang Waktu), dan Karma (karma atau perbuatan-perbuatan yang mengikat orang di dunia material ini). Di lingkungan Varanasi Trikaṇṭaka tidak mempunyai pengaruh terhadap orang-orang yang datang berlindung pada Śiva Kāśī Viśvanātha (etat trayaṁ na prabhavedānandavanavāsinām). Oleh karena itulah orang-orang pergi ke Varanasi untuk menunggu kematiannya di sana. Sudah menjadi tradisi, terutama orang-orang yang sudah tua biasanya diantar oleh keluarganya untuk tinggal di Vanarasi sampai ajalnya tiba (kālaḥ nikaṭato jñātvā kāśīnāthaṁ samāśrayet). Mereka tinggal di ashram-ashram atau di mana saja dapat tempat berlindung. Untuk kesehariannya, mereka hanya menunggu uluran tangan dari orang-orang ang berjiwa puṇya-karma, para dermawan yang berjiwa agung.
Varanasi merupakan tempat tinggal makhluk-makhluk agung seperti Vidyādhara, Gandharva, Yaksha, Caraṇa dan lain-lain. Sejak dahulu kala, Varanasi menjadi tempat tinggal para sarjana Veda, para Resi, Muni, Yogi-yogi, Pertapa agung, para ahli Tantra dan lain-lain orang suci dari berbagai cabang pengetahuan atau keahlian. Varanasi merupakan tempat suci yang menjadi tujuan dari setiap orang yang menginginkan pembebasan hidup, Moksha.
Tanpa disadari, di dalam hati ketiganya; Raja Harischandra, permaisuri, dan putra mahkota, tiam-diam tumbuh dan berkembang rasa bahagia tak terhingga. Sekarang mereka bebas mengunjungi Kota Suci Banares. Formalitas kerajaan telah membuatnya bagaikan seorang tahanan. Dengan lenyapnya kesan “tahanan”, dalam keadaan penderitaan pun mereka masih tetap mampu merasakan kebahagiaan. Mereka bisa tinggal di kota suci Banares karena kota suci ini mempunyai kedudukan yang sama dengan tempat-tempat suci lainnya yang dianggap sangat suci seperti Vrindawan, dan lain-lain. Tempat-tempat suci seperti Vrindawan dan Banares merupakan “Kedutaan” alam spiritual dan tidak berada di bawah naungan kekuasaan Raja mana pun di atas muka bumi ini. Keyakinan seperti itulah yang membuat bathin Mahārāja Harischandra menjadi tenang dan damai, karena ia bisa melepaskan dirinya dari beban “janji” kepada Maharesi Viśvāmitra, untuk tinggal di luar daerah kekuasaan kerajaan maha besar yang kini telah menjadi milik dari Maharesi Viśvāmitra.
Semakin dekat dengan Banares semakin mereka merasakan kebahagiaan tiada terhingga di dalam batinnya. Akhirnya, begitu mereka mulai hendak memasuki daerah Banares, Mahārāja Harishchandra mengajak permaisuri dan putra mahkota membersihkan diri di sungai suci Gangga di luar kota Banares. Selanjutnya, dengan penuh kesederhanaan mereka menyembah Mahadewa, memohon izin agar Mahadewa memberikan karunia serta mengizinkan mereka memasuki Kota Suci Banares. (20)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (005EN)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (004EN)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (EN003)



