SATYAVADI MAHARAJA HARISCANDRA (021)
Thu, 14 May 2020, 02:50:22, 1107 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)
Maharaja Harischandra (ID)
Oleh : Darmayasa
Selangkah demi selangkah...., perlahan-lahan, dengan penuh rasa suka cita Mahārāja Harischandra menyertakan langkah demi langkahnya dengan bisikan bahagia dari bibirnya, “Hara Hara Mahadewa..., Hara Hara Mahadewa....”, dan tanpa disadari mereka bertiga sudah sampai di tengah-tengah Kota Banares.
Walau merasakan kebahagiaan luar biasa karena bisa menginjakkan kaki di kota suci Banares, namun, Mahārāja Harischandra mengesampingkan kebahagiaannya tersebut. Dan juga, Mahārāja Harischandra bukannya berusaha mencari tempat tinggal dan lain keperluan untuk tinggal di sana bersama keluarganya, melainkan ia berusaha mencari jalan untuk mengumpulkan uang. Harischandra ingin melunasi utang “Dakshina”-nya berupa seribu keping uang emas sesegera mungkin kepada Maharesi Viśvāmitra.
Berbagai jalan telah dicoba. Ada pula yang memberikan tawaran bekerja tetapi hasilnya bahkan tidak cukup untuk menghidupi permaisuri dan putra mahkota. Apalagi untuk membayar Dakshina kepada Maharesi Vishwamitra, gaji kecil, sama sekali tidak akan mampu melunasi utang Dakshina pada Maharesi Vishwamitra. Sedangkan batas waktu yang diberikan oleh Maharesi Viśvāmitra untuk melunasi utang semakin dekat. Raja tidak mungkin akan meminta tempo lagi. Janji seorang ksatria lebih berharga dari pada barang berharga apa pun, bahkan lebih berharga dari nyawanya sekali pun.
Suatu ketika, mereka bertiga tidak mendapat makanan dari pagi hingga sore hari. Mereka berdiri agak di pojokan pertokoan di daerah yang cukup ramai. Ada orang baik hati lewat. Melihat anak kecil menggigil seperti kedinginan, ia memberikan bungkusan makanan. Akan tetapi, putra mahkota menolak menerimanya sambil berkata, “Tidak…, tidak..., saya seorang ksatria..., tidak akan makan dari hasil meminta-minta.....”.
Luar biasa, anak kecil yang sedang kelaparan, lalu ada orang lain berbaik hati memberikan makanan dengan tulus, akan tetapi ditolak oleh si kecil putra mahkota. Ia tidak menghina atau megnabaikan kebaikan orang melainkan karena ia sudah terbentuk sejak kecil menjadi seorang ksatria. Dharma seorang ksatria adalah memberi dan bukan menerima. Sampai sekarang pun orang bisa menyaksikan keteguhan orang menjaga dharma atau kewajibannya seperti ini, entah sebagai kṣatriya, vaiśya, śūdra, atau pun brāhmaṇa. Orang-orang Sikh di India sangat terkenal sebagai para pejuang/ksatria. Ketika tiba saat menolong, mereka akan menolong orang dengan sangat tulus dengan mengorbankan kepentingan pribadi. Mereka tidak akan pernah meminta dari orang. Di India, barangkali orang menjumpai banyak pengemis. Namun, orang tidak akan pernah menjumpai orang Sikh meminta-minta. Mereka sangat teguh memegang dharma sebagai seorang ksatria. Jiwa ksatria seperti itulah yang dimiliki oleh seorang anak kecil putra mahkota, Rohitashwa.
Mengagumkan..., ketegaran seorang ksatria kecil yang sangat mengagumkan. (21)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (005EN)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (004EN)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (EN003)



