SATYAVADI MAHARAJA HARISCANDRA (022)
Fri, 15 May 2020, 03:11:04, 1079 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)
Maharaja Harischandra (ID)
Oleh : Darmayasa
Catatan: Hari ini sebanyak 3 kali saya mengadakan pengajaran mantram. Setelah yang terakhir pas tengah malam, akhirnya saya menyempatkan diri membalas puluhan (tapi rasanya ratusan) pesan-pesan di HP. Setelah waktu menunjukkan sekitar pkl 4 pagi, rasa ngantuk jadi terganggu, akhirnya saya menuju meja kerja, membuat minuman panas, eeemmm hanya air panas tambah jeruk nipis, oh iya biar tidak berbohong, ternyata di dapur ada roti kembung, tangan menyambarnya dan sambil ngastungkara langsung memasukkan ke mulut. Inginnya mengerjakan yang lain, tetapi pilihan tangan tertuju pada file Satyavadi Maharaja Harischandra. Disela-selanya, dikesunyian malam eh pagi, saya nyanyikan mantram-mantra Veda, setelah menutupnya lalu kembali mengerjakan cerita ini. Ada kebahagiaan ketika menyisir teks teks Sanskertanya. Dan inilah dia. Demi Tuhan, tepat pkl 07.00 saya klik "post". Semoga semua berbahagia.
Hari demi hari berlalu, dan batas waktu yang diberikan oleh Maharesi Viśvāmitra juga semakin dekat..., semakin dengan, dan sangat dekat. Mahārāja Harischandra pun menjadi semakin kelelahan secara badan dan mental. Hari-hari menegangkan datang, sedangkan Mahārāja Harischandra belum berhasil mengumpulkan uang emas untuk diberikan kepada Maharesi Viswamitra. Kepingan-kepingan uang emas sejumlah yang harus dihaturkan, dan Maharesi sendiri telah pernah datang mengingatkan Raja Harischandra akan utang yang harus segera dibayarnya. Raja meyakinkan Maharesi Viśvāmitra bahwa pada waktunya seluruh utang Dakshina akan dilunasi. (semoga nanti saya bisa memberikan catatan perihal kemuliaan tersembunyi di balik “menagih utang”).
Akhirnya datanglah hari-hari yang mencemaskan itu, yaitu batas hari terakhir yang diberikan oleh Maharesi Viśvāmitra kepada Mahārāja Harischandra untuk melunasi utangnya.
Raja Harischandra sudah tidak melihat jalan apa pun juga untuk mengumpulkan uang emas dalam waktu yang sangat singkat. Satu persatu jenis pekerjaan yang kira-kira bisa dilakukan demi mendapatkan jumlah yang diperlukan telah dibicarakan berdua, bersama permaisuri dengan matang-matang. Namun…, tidak ada satu pun yang dirasa akan mampu menyelamatkan mereka dari “bahaya” kebohongan pada orang suci, kebohongan karena tidak mampu memenuhi janji.
Melihat suaminda menunduk lesu, hati maharani menjadi sakit bagaikan terisis oleh pisau tajam. Menyakitkan..., perih... bagaimana tidak, seorang maharaja berbadan gagah kekar serta berwibawa, penguasa seluruh bumi, kini menjadi terduduk lesu, menunduk...bagaikan tumbuhan bunga ditinggalkan air, menjadi kering, merunduk kering untuk punah. Maharani mencoba menelan kesedihannya. Akan tetapi, air matanya tetap mengalir deras keluar membasahi pipinya, lalu perlahan mencoba menenangkan pujaan hatinya (pratyuvāca tadā patnī bāṣpadgadayā girā). Demi menguatkan sang raja, sambil mengusap-usap pundak maharaja Harischandra, permaisuri berkata lembut, “Duhai Maharaja pujaan seluruh dunia..., janganlah bersedih..., “tyaja cintā mahārāja...” janganlah terlalu dipikirkan terlalu susah... Semua cobaan pasti berlalu. Tuhan tidak pernah memberikan cobaan dan penderitaan untuk membuat abdi-Nya ambruk. Tuanku Raja, Anda orang maha kuat dan teguh. Bangkitlah..., pertahankanlah kata-kata Anda. “Svasatyam anupālaya..., janji sudah diberikan kepada Maharesi, penuhilah janji Anda tersebut.” Permaisuri memeluk suaminya yang masih tertunduk layu dan lesu.
“Bagaikan orang meninggalkan tempat pembakaran mayat atau kuburan, seperti itulah orang yang ingkar janji hendaknya segera ditinggalkan (śmaśānavadvarjanī yo nara satya bahiṣkṛta). Perbuatan baik dan mulia, persembahan-persembahan yajñā, korban suci, dan lain-lain semuanya akan menjadi tidak berarti, dan sama sekali tidak akan membuahkan hasil. Orang-orang suci mengatakan bahwa mempertahankan kejujuran, satya-vacana, tidak ingkar pada janji, merupakan dharma atau tujuan agama yang sangat amat tinggi (paratara-dharma vadanti puruṣasya tu). Setia pada kata-kata, kejujuran, dan kebenaran selalu mengangkat orang pada kemajuan dalam segala hal, baik kemajuan material (jagat hitāya) maupun kemajuan spiritual sampai mengantarkanpada tujuan akhir hidup manusia atau mokṣa. Sebaliknya, ingkar janji, suka berbohong dan keluar dari jalan satyam, hanya mengantarkan orang pada kejatuhan hidup di dunia ini dan juga setelah meninggal nanti akan mengantarkan sang roh menuju alam-alam neraka (bhajante tasya vaiphalya yasya vākyam akāraṇam, satyamatyantamudita dharma śāstreṣu dhīmatām, taraṇāyānṛta tadvad pātanāyākṛtātmanām).
Dalam rumah tangga, peran seorang istri sangatlah terhormat. Tanpa istri, rumah akan menjadi sepi sunyi bagaikan kuburan. Tanpa istri, rumah bukanlah rumah. Seorang istri, selain bangun paling awal dan tidur paling akhir, mengerjakan segala, melayani semua, ya...selain itu..., seorang istri juga merupakan lampu penerang ketika suami berjalan di dalam kegelapan masalah-masalah dan cobaan-cobaan hidup. Maharaja Harischandra mengangkat wajahnya perlahan. Wajahnya masih terlihat lesu. Ia memandangi istrinya dengan pandangan kosong. Permaisuri melanjutkan kata-katanya, “Tuanku Maharaja yang kuat dan tabah..., bangun dan bangkitlah dari penderitaan. Anda sudah melakukan perbuatan-perbuatan indah mengagumkan, kemuliaan-kemuliaan yang tidak pernah dilakukan oleh orang lain. ‘Saptāśvamedhānāhṛtya rājasūya ca pārtiva’, wahai Tuanku Raja..., Anda sudah melaksanakan tujuh upacara suci maha besar dan juga upacara Rājasūya, dan ‘kṛtir nāmamacyuta svargādasatya-vacanād sakṛt’, kemashyuran Anda sudah dikagumi oleh seluruh dunia. Akan tetapi, duhai Tuanku Raja..., ‘semua itu anda akan hilangkan begitu saja dalam kegagalan menghadapi masalah kecil ini?!).
Maharaja Harischandra menjadi tersentak sadar. Ia merasa dirinya sedang berlebihan ternggelam dalam kedukaan. Raja sangat mengagumi kesetiaan, kesabaran dan kebijakan permaisuri. Raja mengusap air mata di pipi permaisuri. Ia sangat menyayangi permaisuri. Semakin memandangi wajah istrinya, semakin Raja Harischandra mengagumi kebesaran karunia Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada ciptaan-Nya.
Tiba-tiba, yaaa… tiba-tiba terlintas di dalam pikiran Sang Raja sebuah jalan keluar dari kesulitan yang sedang mencemaskan bathin mereka. Permaisuri diam-diam mengamati perubahan wajah Raja menjadi agak cerah. Akan tetapi..., wajah itu tiba-tiba berubah menjadi suram… namun seketika lagi berubah cerah..., tidak berapa lama kembali berubah menjadi redup, dan begitu seterusnya, berulang kali. Ketika wajah raja berubah cerah lagi, sepertinya ada menyimpan harapan indah dalam hatinya, dengan perlahan permaisuri bertanya lembut, “Mahārāja yang bertabah hati…, jikalau hamba tidak salah, rupa-rupanya Mahārāja telah menemukan jalan keluar dari masalah kita ini…?”
Wajah Mahārāja Harischandra nampak dingin tapi serius menanggapi pertanyaan permaisuri. Kelihatannya Raja sedang berpikir keras dan merasa kesulitan untuk mengeluarkan kata-katanya. Setelah beberapa kali menatap wajah permaisuri dan putra mahkota silih berganti, akhirnya dengan nada yang sangat lemah, hampir tak terdengar, bahkan mungkin juga oleh raja sendiri, sambil menundukkan wajahnya Raja Harischandra berkata lemah, “Satu-satunya jalan..., satu-satunya jalan yang kini terpaksa harus kita ambil adalah....” Mahārāja Harischandra tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Wajahnya pun menunduk...lesu... (22)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (005EN)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (004EN)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (EN003)



