Language Fri, 01 May 2026, Malta

SATYAVADI MAHARAJA HARISCANDRA (024)

Sat, 16 May 2020, 07:55:58, 1108 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)

Maharaja Harischandra (ID)

Oleh : Darmayasa

Mendengar kata-kata Mahārāja Harischandra yang hendak menjual dirinya untuk menebus uang Dakshina pada Resi Viśvāmitra, permaisuri menjadi sangat terkejut, dan sama sekali tidak percaya terhadap apa yang didengar oleh telinganya. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi. Walaupun Mahārāja Harischandra menyampaikan kata-katanya dengan berbisik lemah, tetapi, bagi Maharani.... kalimat-kalimat yang keluar dari bibir Mahārāja Harischandra tersebut dirasa bagaikan bunyi kilat senjata Bajra maha dahsyat milik Dewa Indra yang menyambar cepat dengan suara gemuruh... menggelegar menggetarkan seluruh bumi ini. “Bunyi kilat menggelegar” itu bukan di langit melainkan membahana di dalam hati, membuat pikiran permaisuri menjadi kacau balau. Ia merasakan badannya seperti tidak bertenaga sama sekali. Nafasnya serasa terhenti, dadanya sesak, dan aliran darah di tubuh pun dirasa berhenti seketika itu juga.

Permaisuri masih tahan melihat penderitaan suaminya hidup tanpa kepastian; tanpa tempat tinggal, makan beberapa suap sekali dalam satu hari. Akan tetapi..., akan halnya Mahārāja hendak menjual dirinya…, permaisuri sama sekali tidak pernah menyangka hal itu akan dilakukan oleh rajanya. Bagaimana mungkin ia bisa melihat suaminya yang seorang Rajadhiraja termashur namun sekarang hendak menjual dirinya? Sesuatu yang bahkan di dalam mimpi pun tidak mungkin pernah dilakukan oleh seorang Raja Besar seperti suaminya, Raja Harischandra. Kesadaran permaisuri yang cerdas cekatan, selalu ceria dan bijak, kini dirasakannya sama sekali tidak bekerja. Seperti seekor ikan lincah terbekukan di danau salju, dingin dan tidak bergeming sedikit pun.

Ada saat-saat ketika kecerdasan orang tidak bisa bekerja sama sekali; bisa dalam keadaan memuncaknya kegembiraan, dan bisa pula dalam tekanan penderitaan yang amat berat. Pada kedua keadaan tersebut, jika orang tidak mendapatkan celah “menjedakan” waktunya beberapa saat, maka yang bersangkutan dapat menempuh langkah ekstrim yang akan bukan saja merusak keadaan, namun ia akan mengobrak-abrik permasalahan, menambah kusut permasalahan yang sedang dihadapinya, atau bahkan akan menghilangkan sama sekali jalan keluar dari permasalahan yang sudah ada di hadapannya.

Permaisuri Raja memilih “jeda” penenangan diri. Ia mengalihkan perhatiannya dari permasalahan yang sedang dihadapinya, walau sesaat, kepada putra mahkota yang sedang berada dalam pelukannya. Sangat sering jalan keluar permasalahan akan muncul begitu orang mendapatkan kesempatan “jeda tenang waktu” atau melalui pengalihan perhatian dari permasalahan yang sedang menekannya kepada hal-hal lain yang membuat pikiran terbantu lebih tenang. Ketika orang menghadapi permasalahan berat, tetapi tidak menciptakan waktu “jeda diam” atau melakukan pengalihan permasalahan, maka sangat sering kerikil kecil bisa tercipta menjadi sebuah gunung Merapi yang siap menumpahkan lahar panas dan dingin yang akan menghancurkan apa saja dan siapa saja yang mendekat padanya. Permaisuri mendapatkan keduanya, waktu “jeda diam” dan “pengalihan isu” permasalahan berat yang sedang dihadapinya.

Putra mahkota mendekati ibunya, berusaha memahami keadaan dan derita ibunya. Ia berusaha menghibur ibunya, tetapi tanpa ucapan kata, dan juga tanpa tatapan mata. Ia memeluk ibunya. Ya, hanya memeluk erat ibunya agar tidak kehilangan pelukan hangat seorang ibu yang selalu ceria dan membuat dirinya ceria.

Permaisuri menundukkan kepalanya, dan tanpa terasa tetesan-tetasan air matanya menitik turun....membasahi kepala putranya yang sedang memeluknya, dan juga yang sedang ia peluk dengan erat-erat dalam kasihnya. Ia menekankan dadanya ke pelukan anaknya, sebab, dadanya terasa hendak meledak oleh tekanan tangis kesedihan karena memikirkan nasib suami yang dikasihinya. (24)





Comments