Language Fri, 01 May 2026, Malta

SATYAVADI MAHARAJA HARISCANDRA (025)

Mon, 18 May 2020, 06:07:29, 1128 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)

Maharaja Harischandra (ID)

Oleh : Darmayasa

Mahārāja Harischandra sangat mengerti akan tekanan batin yang sedang dirasakan oleh permaisurinya. Perlahan-lahan beliau mendekati permaisuri yang sedang bersedih, membelai kepalanya dengan penuh rasa kasih sayang, sambil berkata pelan…, pelan sekali dan halus, barangkali Sang Raja juga sengaja melakukan hal itu karena tidak ingin putranya terbangun dari pelukan dan pangkuan ibunya, yang akhirnya tertidur lelap karena menahan lapar, “Wahai Permaisuri Raja Kejujuran…, sudah lupakah Dinda akan keberuntungan suamimu ini?! Bukankah suamimu beruntung mendapat kesempatan untuk memenuhi kata-katanya, terlebih lagi kepada seorang Maharesi Agung?! Tabahkanlah hati Dinda, yakinkanlah diri Dinda bahwa hal ini bukanlah suatu kesedihan, melainkan ia adalah sebuah kebahagiaan, bagi Dinda sendiri, bagi suamimu, dan juga bagi putra Dinda, putra kita tersayang. Terimalah jalan keluar yang dikaruniai oleh Tuhan ini, dan suamimu hanya akan melakukannya jika Dinda dapat menerimanya dengan ketulusan hati yang murni. Kalau Dinda tidak menyetujuinya, maka suamimu ini, Mahārāja Harischandra akan mencari jalan lain untuk memenuhi janjinya kepada Maharesi Viśvāmitra….”

Di sini kelihatan kebijakan seorang suami di hadapan istrinya. Dalam tradisi Veda, suami dan istri itu merupakan kesatuan, dinamakan Dampati, artinya “two in one”, yang dua di dalam yang satu dan yang satu di dalam yang dua. Suami sudah tidak terpisah lagi dengan istrinya. Mereka selalu bersama dalam kata, langkah dan pemikiran. Seorang Dampati selalu bersama dalam menjaga dan memajukan keluarga. Tidak ada sesuatu pun yang menjadi kepemilikan sepihak, atau pun kegiatan sepihak. Suaminya sibuk dalam pelayanan dan kegiatan spiritual, namun istri sibuk dalam “maceki” atau sibuk di-“casino”, atau pun sebaliknya. Maharaja Harischandra tidak akan melakukan apa pun yang tidak disetujui oleh istrinya. Mengapa?! Karena permaisuri pun adalah seorang istri yang sudah terbentuk secara sempurna dalam segala hal. Para orang tua biasanya mempersiapkan putri-putrinya supaya menjadi bentukan yang terbentuk dalam segala hal agar layak menjadi Ibu Rumah Tangga di rumahnya yang baru nanti, yaitu di rumah suami. Para orang tua akan menjadi malu jika mengetahui putrinya mulai belajar masak hanya setelah sampai di rumah suami.

Sama seperti halnya Mahārāja Yudhiṣṭhira, dalam banyak hal beliau sering meminta masukan-masukan ide atau pemikiran sebagai jalan keluar dari permasalahan yang sedang dihadapinya. Raja Harischandra dengan tegas mengatakan bahwa Raja tidak akan melakukan pilihannya jika ia tidak menjadi pilihan istrinya. “Berat sama dipikul ringan sama dijinjing”, Mahārāja Harischandra selalu bersama dengan permaisuri menghadapi masalah-masalah, baik masalah ringan maupun masalah berat-berat seperti yang sekarang sedang dihadapinya.

Mahārāja Harischandra melanjutkan kata-katanya, “Wejangan-wejangan para leluhur dan orang-orang suci mengajarkan agar kita berusaha sebisa-bisanya mempertahankan kata-kata yang sudah diucapkan. Bagi seorang Satyavādī, orang yang jujur mempertahankan kebenaran kata-katanya, ucapan adalah nyawa baginya,” Mahārāja Harischandra memperbaiki letak tangan putra mahkota yang tertindih oleh badannya. Mahārāja melanjutkan..., “Orang-orang yang memastikan diri berada di dalam jalan kejujuran, mereka akan mengeluarkan kata-kata hanya sebatas mereka dapat memenuhinya. Harga diri mereka ada pada kata-katanya. Kini..., biarkanlah suamimu mempertahankan kata-kata yang telah terucapkan, sebab... ia adalah nyawa..., sebab.... ia adalah Kebenaran.., sebab.. ia adalah kekuatan yang mampu mengubah langit menjadi bumi, dan demikian juga sebaliknya menjadikan bumi sebagai langit. Vāk atau kata-kata adalah Veda, demikian sabda para orang suci...”

Sehabis Mahārāja Harischandra mengucapkan kata-kata bijaknya, sangat jelas tampak wajahnya berubah menjadi cerah dan bersinar. Tidak lagi nampak raut kesedihan di wajahnya. Sebab, wajahnya sudah berubah menjadi wajah ketegaran seorang ksatria agung, wajah yang mampu mengoyak segala rintangan dan kesedihan. Wajah tegar seorang ksatria yang mampu memaksa musuh meletakkan senjata untuk berdamai, wajah ksatria yang tidak mengenal kata tangis, atau menyerah.

Wajah permaisuri menjadi agak berseri kembali setelah mendengar kata-kata Sang Raja. Kesungguhan dan ketulusan hati sang Raja sungguh menyentuh dan membuat hatinya manjadi lapang. Sambil perlahan dengan gerakan halus permaisuri mengusap air mata dengan telunjuk tangannya. Permaisuri Raja menunduk, membelai kepala putranya, dengan suara lemah berkata ditujukan kepada Raja Harischandra, “Mahārāja yang hamba sembah…, begitu manisnya kata-kata Anda, dan di saat yang sama kata-kata itu mengandung Kebenaran yang sangat halus. Maafkanlah hamba..., bahwa hamba tidak mampu melihat kebenaran itu. Sekarang, hamba menjadi mengerti apa yang sesungguhnya terjadi, ternyata bukanlah bencana melainkan rencana. Hamba merasa tidak ada hak sama sekali untuk membiarkan perasaan remeh hamba muncul menghalangi usaha Anda untuk memenuhi janji pada Maharesi. Silakan Tuanku Raja…, suamiku yang berhati mulia..., silakan melakukan hal itu. Semoga Mahādeva memberikan karunia-Nya atas ketulusan suamiku…,” kata permaisuri Raja dengan suara yang tenang tetapi teguh. Permaisuri memandangi mata suaminya, yang juga sedang menatap matanya. Mata keduanya bertemu. Akan tetapi, itu bukanlah pertemuan dua pasang mata...., melainkan adalah pertemuan perasan dari rasa kasih yang indah dan murni, penuh dengan siraman rasa cinta kasih, damai, tenang, dan membahagiakan. (25)





Comments