SATYAVADI MAHARAJA HARISCANDRA (027)
Sat, 23 May 2020, 10:55:36, 1106 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)
Maharaja Harischandra (ID)
Oleh : Darmayasa
Mahārāja Harischandra yang sudah memastikan untuk menjual dirinya (svavikraya viniścitya) sudah terus menerus berteriak lantang menjajakan diri. Namun, tidak kunjung datang seorang pembeli yang mampu membayarnya dengan harga tertentu, hanya sejumlah sisa keeping uang emas yang diperlukannya untuk melunasi utang. Ia terus berteriak, berteriak, meminta orang memberikan perhatiannya agar ada yang datang untuk membeli dirinya. Ia tidak merasa lelah berteriak walau suaranya sudah mulai menghilang, serak, lemah bercampur lelah karena tekanan kedukaan batin. Akan tetapi, ia terus melanjutkan mengeluarkan kata-kata dan teriakannya yang mungkin dirinya sendiri pun sudah tidak mampu mendengarnya.
Permaisuri dan putra mahkota saling berpelukan dengan wajah dan perasaan tidak terlukiskan. Apakah wajahnya ketakutan? Kedukaan? Kecemasan? Ataukah mengukir secuil harapan indah demi sang Raja tetap berada di jalan kejujuran satyam?!
Tidak berapa lama kemudian, astungkara…, diantara beberapa orang yang sempat mengajukan tawarannya untuk membeli “Si Orang Gagah dan Tegap” tersebut, dari balik kerumunan orang, datanglah seorang laki-laki berwajah hitam menakutkan. Badannya besar, bau badannya menyengat membuat beberapa orang langsung menutup hidungnya. Lelaki besar itu berkumis dan berjenggot panjang tidak terurus. Bawaan sikapnya sangat menakutkan. Giginya panjang-panjang dan besar-besar agak menonjol keluar. Warna kulitnya hitam gelap, bau busuk menyengat, perutnya buncit terdorong ke depan. Lelaki berperawakan tinggi besar kehitaman tersebut matanya bulat besar dan mendelik (durgandhovikṛtorukṣaśmaśrudanturoghṛṇī).
Begitu lelaki tinggi besar dan hitam itu datang dan maju ke depan, orang-orang yang ada di sana langsung minggir memberikan jalan lewat kepada lelaki besar tersebut; ada yang karena takut, ada pula yang karena tidak tahan dengan bau tidak sedap dari tubuh lelaki itu. Yang lain, beberapa orang pada minggir ketakutan karena lelaki itu disertai oleh anjing yang banyak.
Lelaki hitam dan besar tersebut yang ternyata pekerjaannya adalah sebagai Cāṇḍāla, Tukang Bakar Mayat (Penjaga Kuburan), berdiri tegak di tengah-tengah krumunan orang-orang di bawah pohon beringin di perempatan jalan di pasar terbesar di Varanasi. Lelaki itu sangat tertarik melihat kekekaran tubuh Raja Harischandra. Tanpa tanggung, dan dengan sikap gagah orang berduit, ia pun segera menawarnya, “Wahai lelaki kekar dan gagah, aku ingin membelimu. Katakanlah, berapa harga dirimu? Katakan harga tertinggi yang kau minta, atau harga tawar. Katakanlah segera (stokena-bahunā vāpi ye na vailambhyate bhavān).”
Raja Harischandra tercenung mendengar tawaran, atau tepatnya tantangan harga dari Sang Cāṇḍāla. Raja sudah lama menunggu. Ia pun menyebutkan jumlah. Akan tetapi, Raja masih menunggu penawaran demi penawaran, ditunggu...dan ditunggu..., ternyata tidak ada yang berani menawar dengan penawaran lebih tinggi lagi. Akhirnya Raja Harischandra harus mengakui bahwa harga tawaran dari seorang Tukang Bakar Mayat, Sang Cāṇḍāla, sudah melewati batasan kewajaran. Harga sudah cukup mahal sehingga penawaran tidak bisa naik lagi. Oleh karena tidak ada orang lain lagi yang berani membeli Raja Harischandra dengan harga yang lebih mahal, maka terpaksa Raja Harischandra menerima penawaran tersebut.
Harga dirinya ternyata tidak mencukupi melunasi Dakshina seribu keping emas kepada Maharesi Viśvāmitra. Raja Harischandra merasa tidak menemukan jalan keluar lain lagi untuk melunasi utang janjinya kepada Maharesi Viśvāmitra. Namun, pengrasaan “Raja”-nya mengatakan bahwa ia akan berhasil mengumpulkan uang untuk melunasi utangnya seribu keping emas kepada Maharesi Viśvāmitra.
Sambil memegangi tangan putra mahkota, permaisuri mendekati Raja yang sedang menundukkan wajahnya, “Tuanku raja…”, suara permaisuri memelas, “Uang itu tidak cukup untuk melunasi utang Dakshina kepada Maharesi Viśvāmitra. Pasti tuanku juga tidak melihat cara lain lagi untuk mendapatkan uang selain ...” Permaisuri terdiam sejenak, ragu menyampaikan keinginannya kepada suami yang dipujanya itu. (27)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (005EN)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (004EN)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (EN003)



