SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (28 & 29)
Thu, 20 Aug 2020, 06:34:14, 1051 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)
Maharaja Harischandra (ID)
Oleh : Darmayasa
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (28):
Mendengar kata-kata permaisuri, Mahārāja Harischandra merasa seperti mendapat semangat baru. Ada harapan baru tumbuh di dalam hatinya, bahwa istrinya sudah menemukan jalan keluar lain untuk mendapatkan uang. Raja Harischandra sangat senang. Hatinya menjadi terasa mekar berbunga-bunga. Ada harapan…, ada harapan cerah, bagi dirinya, bagi istrinya, dan bagi putrandanya tercinta.
“Duhai permata hatiku, permaisuriku, istriku terkasih..., katakan padaku..., katakanlah segera..., selain apa.... istriku? Selain apakah?!” Tanya Raja Harischandra dengan mata berbinar-binar menunjukkan rasa ingin tahu yang keras. Raja Harischandra tidak sabar, menanti dan dengan perasaan bercampur-aduk, ingin mendengarkan berita gembira tersebut dari bibir istrinya.
“Selain..., ya Tuanku Raja yang hamba sembah...., selain Tuanku Raja berkenan menjual diri hamba….” kata permaisuri seraya langsung menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata suaminya. (28)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (29):
Permaisuri sendiri tidak pernah bermimpi akan pernah berhadapan dengan keadaan menyedihkan seperti ini...., dan juga tidak pernah bahkan di dalam mimpi pun akan berani mengeluarkan kata-kata seperti itu di hadapan suaminya, Mahārāja Harischandra.
Sedangkan, bagi Maharaja Harischandra sendiri, sebagai seorang ksatria, tidak ada suatu apa pun selama ini yang mampu membuat hati Mahārāja Harischandra terkejut atau kaget seperti apa yang baru didengar dari bibir istrinya. Sungguh mengagetkan kata-kata yang keluar dari bibir permaisuri, bagaikan gema gemuruh menggelegar yang mengikuti sambaran kilat di langit. Maharaja Harischandra tidak pernah kaget dan tidak pernah merasa takut terhadap apa pun dan siapa pun. Akan tetapi, kali ini, mendengar kata-kata permaisuri yang memelas, yang lebih tepat disebutkan merintih…, hati Mahārāja Harischandra menjadi meleleh. Terasa hancur hatinya mendengarkan kata-kata permaisuri. Raja merasakan kesakitan bagaikan ribuan pisau tajam menghujam hatinya seketika dan merasakan keperihan teramat keras di dalam batinnya. Kalau saja beliau bukan seorang ksatria sejati pastilah beliau sudah menangis. Saking terharunya, Sang Raja sesaat tidak mampu mengeluarkan kata-kata sepatah pun. Beliau hanya mampu termenung menatap kekosongan di keramaian kota Banares, sambil tetap membiarkan kata-kata permaisuri mengiang terus menerus di kepalanya.....”menjual diri hamba.... menjual diri..... Tuanku Raja harus menjual diri hamba….” (29)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (005EN)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (004EN)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (EN003)



