Language Fri, 01 May 2026, Malta

SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (35)

Thu, 20 Aug 2020, 06:40:11, 1097 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)

Maharaja Harischandra (ID)

Oleh : Darmayasa

Menyaksikan pemandangan menyedihkan seperti itu di hadapannya, Mahārāja Harischandra menjadi jatuh terduduk. Dadanya berguncang keras menandakan bagaimana ia menahan tangis agar tidak keluar... Seorang raja yang tegar kini harus terduduk menahan tangis, disaksikan oleh orang banyak di pusat pasar Banares. Maharajadhiraja Satyavadi Nisthavadi, raja yang memiliki berbagai sifat mulia, keturunan ke-28 dari Dinasti Suryawangsa, leluhur dari Shri Ramachandra dalam kisah Rāmāyaṇa, kini harus menyaksikan istrinya menjadi PRT, pembantu rumah tangga.

Di pihak lain, permaisuri Saibya menyaksikan keadaan suami dan putranya seperti itu tidak mampu bertahan..., bendungan batinnya menjadi jebol, dan... ia pun menangis keras sambil memandangi putra mahkota yang juga sedang menangis. Permaisuri tidak berani menyentuh anaknya lagi karena dirinya sudah bukan permaisuri raja lagi melainkan hanyalah seorang pembantu rumah tangga. Permaisuri hanya memandangi putranya dalam linangan air mata. Sedangkan orang-orang yang menyaksikan tidak mampu berbuat apa-apa, dan juga tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Mereka hanya menonton pemandangan menyedihkan tersebut sambil berurai air mata.

Brāhmaṇa tua datang mendekat dan kembali memegangi pergelangan tangan permaisuri, sambil berkata, “Dāsῑ..., engkau sudah menjadi pembantuku. Ayolah ikut aku….”, katanya sambil menarik tangan permaisuri, berusaha menjauhkannya dari putranya.

Rohitashva, Putra mahkota semakin menjerit keras tangisnya memanggil-manggil ibunya. Akan halnya Mahārāja Harischandra, ia segera memalingkan wajahnya ke belakang, karena ia tidak mampu melihat semua pemandangan menyedihkan itu.

Permaisuri menarik tangannya dari pegangan Brāhmaṇa tua. Sambil bersimpuh di hadapan Brāhmaṇa tua itu.... Ya..., seorang permaisuri Rajadhiraja kini harus bersimpuh dan mencakupkan tangan di hadapan Brāhmaṇa tua. Dengan suara agak merintih ia berkata memelas, “Tuan Brāhmaṇa..., kasihanilah...kasihanilah ... anak ini.... Tanpa ibunya, ia ... tidak akan bisa hidup. Demikian pula saya sendiri, walaupun anda sudah membeli dan saya sudah resmi menjadi pembantu anda, namun mohon dipertimbangkan dengan baik, bagaimana saya bisa bekerja dengan baik di rumah anda kalau pikiran saya selalu berada pada anak saya? Untuk itu, mohon berkenan membeli anak ini. Biarlah ia menjadi budak anda. Ia bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil, atau paling tidak ia masih bisa dekat dengan ibunya (prasāda kuru me nātha kriṇīṣvemaca bālakam). Tuan Brāhmaṇa, belilah anak ini..., kasihanilah..., tolonglah.., belilah dia..., agar ia bisa bersama ibunya....” (35)





Comments