SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (36)
Thu, 20 Aug 2020, 06:41:12, 1154 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)
Maharaja Harischandra (ID)
Oleh : Darmayasa
Mendengar penuturan pembantu barunya seperti itu, Brāhmaṇa tua perlahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Rupa-rupanya, kebijaksanaan ke-brāhmaṇa-annya tersentuh. Bagaimana mungkin hati seorang ibu bisa dipisahkan dari anak? Ibu bukanlah Ibu jika ia dipaksa dipisahkan dengan anaknya. Dan juga, bagaimana penderitaan seorang anak, terutama kejiwaannya, jika ia terpaksa dipisahkan dari Ibunya, terlebih lagi dalam dan/atau melalui keadaan seperti sekarang ini? Brāhmaṇa tua merasa dirinya melakukan sebuah “kejahatan” anak, dengan memisahkan anak kecil dari Ibunya.
“Guhyatāvittam etattodīyatā bālako mama”, baiklah…, berikan anak itu kepadaku, dan terimalah uang ini sebagai harga anak ini…” Brāhmaṇa tua segera mengeluarkan kepingan uang emas dari dalam pundi-pundi uang yang dibawanya, dan memberikannya kepada raja Harischandra yang sepertinya sedang tidak mampu menyadari apa yang sedang terjadi di hadapannya. Harischandra hanya tertunduk...bahkan ia tidak menyadari kalau di dalam genggaman tangannya telah ada tambahan beberapa keping uang emas lagi.....uang yang merupakan “harga” seorang putra mahkota.
Brāhmaṇa tua membawa pergi permaisuri dan putra raja (bhāryyāputrau sa pārthivaḥ). Mereka berdua, permaisuri dan putra mahkota hanya bisa memandangi Mahārāja Harischandra dari kejauhan..., Raja besar yang sedang terduduk kesedihan di atas tanah. Di dalam hatinya permaisuri menaruh kepalanya di kaki suami.... Ia hanya dapat melakukan kewajiban seorang istri kepada suaminya di dalam batin saja....karena ia tidak mampu menolak tarikan tangan Brāhmaṇa tua yang kini sudah menjadi majikannya. Permaisuri menyerahkan nasib suami sepenuhnya kepada Tuhan YME. Ia yakin, doanya tidak akan mampu berbuat apa pun di hadapan kehendak-Nya. Akan tetapi, kepasrahan dan penyerahan diri total kepada kaki suci Tuhan YME pasti akan mampu mengubah hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, akan mampu menyeberangkan orang dari segala bentuk kesengsaraan dan kedukaan. “ity ātmanaṁ samarpaye..” permaisuri berdoa terus serta memasrahkan diri sepenuhnya di bawah Kaki Padma Tuhan YME...ity ātmanaṁ samarpaye.... hamba menyerahkan diri sepenuhnya di bawah Kaki Padma Anda...wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang..... ity ātmanaṁ samarpaye...., hamba berpasrah pada-Mu…
Sambil menghitung langkah-langkah kakinya di belakang langkah-langkah kaki Brāhmaṇa tua, permaisuri Saibya berdoa di dalam batinnya, “Kalau suamiku selalu berada di dalam jalan kebenaran, dan aku senantiasa dan sepenuhnya adalah abdi dari suamiku baik di dalam kata-kata, badan dan pikiran, maka aku pasti segera bisa berjumpa kembali dengan suamiku.” Permaisuri menghapus air mata dengan kainnya yang sudah mulai kumal, dan dengan teguh hati memastikan diri untuk menjadi pembantu rumah tangga yang baik bagi sang majikan, Brāhmaṇa tua.
Raja Harischandra terduduk lesu. Ia merasakan ada kemuliaan besar yang pergi dari dirinya. Ya..., ia merasakan badannya menjadi lesu. Di dalam hatinya, Raja Harischandra memaki-maki dirinya, “Wahai Raja Harischandra..., permaisuri yang badannya begitu lembut, tangannya sangat halus, dan selalu dilayani oleh ratusan dayang, kini ia harus bekerja keras melakukan pekerjaan rumah tangga, menjadi seorang pelayan, pembantu rumah tangga. Kenapa engkau masih hidup wahai Raja Harischandra? Suryawangsa prasuto’yaṁ sukumārakarāguli, dan anak yang masih begitu kecil, keturunan Dinasti Besar Suryawangsa, kini ia pun harus kau jual (sa prāpto vikraya bālo)? Kejam...Harischandra...engkau orang yang sangat kejam. Pikiran dan hatimu sungguh-sungguh sudah terbalik (dhiṅmām astu durmatim). Hā Priye…, wahai permaisuriku…, wahai permata hatiku…, hā Śiśo…, wahai putraku.., duhai buah hatiku…, kesayanganku…” Raja Harischandra menyesali diri dan menyalahkan dirinya habis-habisan, “Karena kesalahanku, karena tingkah lakuku, akulah yang menyebabkan mereka menderita. Na mṛto’smi tathāpi dhik…, anehnya…, mengapa nafasku masih ada di dalam badanku ini?! Mengapa aku tidak mati saja?!” (36)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (005EN)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (004EN)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (EN003)



