Language Fri, 01 May 2026, Malta

SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (38a-38b)

Thu, 20 Aug 2020, 06:44:50, 1100 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)

Maharaja Harischandra (ID)

Oleh : Darmayasa

Ia... lelaki berkumis lebat dan berbadan besar itu, sambil sedikit terhuyung-huyung karena mabuk, diiringi oleh beberapa orang anak buahnya yang juga pada mabuk, mendekati Raja Harischandra, dan berkata, “Huaa haa ha ha... Aku Si Raja Kuburan .... bernama Wirabahu, huaaa hahahaha...hahaa........kini Aku membeli seorang Raja, Rajadhiraja Ikṣwakuwangśa, seorang Raja Besar.... bernama.... Mahārāja Harischandra... huaa hahaaa...” Setelah berteriak bangga dalam keadaan mabuk seperti itu, tiba-tiba Wirabahu terjatuh ke samping menimpa anak buahnya yang sudah terjatuh rebah duluan karena mabuk.

Dua orang anak buahnya yang lain yang juga berbadan tegap maju ke depan, mengangkat dan membantu Wirabahu berdiri. Sambil lengan kanannya menggelayut di bahu anak buahnya, tangan kiri Wirabahu mengayun-ayunkan bungkusan kendi berisi penuh uang keping emas, “Berapa harga Anda wahai Mahārāja???” tanya Wirabahu sambil menenggak minuman keras dari botol yang didekatkan ke mulutnya oleh anak buah satunya lagi.

Mahārāja Harischandra dengan datar menjawab dengan tegap, tegas, dan tanpa tawar menawar, “Harga yang kuinginkan untuk diriku adalah tumpukan uang keping emas setinggi gajah berdiri...”

“Apaaaa...???” teriak Wirabahu. Ia menjadi tersadar dari mabuk sempoyongan. Wirabahu berdiri tegak, berjalan mendekat ke arah Raja Harischandra. Matanya merah, air liurnya menetes keluar.(38a).

“Hanya segitu???”, kata Wirabahu sambil melanjutkan ketawanya yang membuat telinga orang menjadi sakit; sakit karena teriakannya yang sangat keras, dan sakit telinga juga karena kata tak mengenakkan dari sang pemabuk Wirabahu.

Raja Harischandra tetap berdiri tegak, kokoh, tidak bergeming, dan tidak ada ekspresi apa pun di wajahnya. Seorang Maharajadhiraja Harischandra tahu “harga” untuk dirinya di saat-saat terdesak seperti itu, terutama bagi seorang Wirabahu.

“Baiklah..., aku bayar anda dengan tumpukan emas setinggi gajah. Akan tetapi..., apa yang aku dapatkan dari anda wahai Raja Harischandra??!! Kata Wirabahu sambil memandangi Raja Harischandra dan para pembantunya silih berganti....

“Apa yang anda bisa dapatkan dari saya?! Jika saya mendapat bayaran seperti harga yang saya minta, maka saya adalah abdi anda sepenuhnya. Anda bisa meminta saya melakukan apa saja. Saya memiliki berbagai jenis ilmu pengetahuan, saya kuat melakukan apa saja... dan saya siap melakukannya untuk anda...” Kata Mahārāja Harischandra dengan kuat dan percaya diri. Kegagahannya sebagai Rajadhiraja yang sangat berkuasa (sa rājā balavān āsῑt), dihormati dan dipatuhi oleh raja-raja seluruh dunia (samrāṭ sarva-mahῑkṣitām) tidak meninggalkan dirinya, walau keadaan begitu menyakitkan sedang dihadapinya.

Wirabahu, dibantu oleh anak buahnya mulai melemparkan kepingan-kepingan emas di hadapan Raja Harischandra sampai menumpuk tinggi, setinggi gajah berdiri. Betapa bangganya Wirabahu melihat tumpukan uangnya.... ya… dia bangga mampu membeli seorang Raja Besar.

Melihat permintaannya dipenuhi dengan begitu gampang oleh Wirabahu, Raja Harischandra segera menyerahkan seluruh uang tersebut kepada Nakṣatraka, sang murid yang merupakan utusan Gurunya, Maharesi Viśvāmitra untuk menagih uang dari Raja Harischandra.

Nakṣatraka pergi dengan uang emas yang banyak dikawal oleh para pengawal berbadan gagah perkasa dan bersenjata lengkap.

Mahārāja Harischandra segera datang ke depan Wirabahu, berdiri di hadapannya dengan menundukkan kepala. Sikapnya berubah setelah menerima uang bayaran “harga” dirinya dari Wirabahu. Ia tidak lagi bersikap seperti seorang Raja melainkan sebagai seorang abdi di hadapan Tuannya, siap menjalankan perintah apa saja. Jika dahulu raja-raja dari seluruh dunia berdiri di hadapannya dengan menundukkan kepala penuh hormat menantikan perintahnya (tasya sarve-mahῑpālāḥ śāsanāvanatāḥ sthitāḥ), kini dia sendiri, Sang Maharajadhiraja, harus berdiri dengan sikap yang sama terhadap majikannya yang baru saja membelinya, Sang Pemabuk, Wirabahu.

“Ini tongkat kebesaranmu sekarang...,” kata Wirabahu sambil melemparkan tongkat kayu ke arah Raja Harischandra. Sang Raja menangkap tongkat “kebesaran” tersebut dengan begitu mudahnya. “Dan.. ini adalah jubah kebesaranmu sekarang....” Kata Wirabahu sambil tertawa terkekeh-kekeh. Wirabahu mendekat sambil mengenakan jubah ke bahu raja Harischandra.

“Aku adalah seorang penjaga tempat pembakaran mayat. Seluruh orang di Varanasi ini mengenalku. Setiap orang meninggal... akulah yang membantu membakarnya.... tongkat dan jubah itulah yang menunjukkan aku sebagai tukang bakar mayat di tempat pembakaran mayat di tepi sungai Gangga. Akan tetapi, sekarang engkau memegang tongkat dan mengenakan jubah itu. Setiap orang melihatmu akan mengerti bahwa engkau adalah penjaga tempat pembakaran mayat. Inilah tugasmu sekarang. Siapa pun datang membawa mayat, engkaulah yang akan membakarnya. Tapi ingat, engkau tidak akan membakar mayat mereka jika mereka tidak membayar ongkos. Sekarang pergilah ke tempatmu bertugas di pinggir sungai Gangga sana...” kata Wirabahu sambil meminta anak buahnya mengantarkan Raja Harischandra ke tempat pembakaran mayat di tepi sungai Gangga serta menjelaskan tugas-tugas yang harus dikerjakannya.

Raja Harischandra tidak memerlukan waktu lama untuk mengerti tugas barunya tersebut. Ia mengerjakan semuanya dengan baik. Wirabahu sangat puas hati melihat cara kerja anak buahnya yang baru ini. Ia sangat tekun, teliti dan sungguh-sungguh mengerjakan tugasnya. Harischandra melanjutkan tugas membakar mayat setelah pendeta dan keluarga yang meninggal menyelesaikan upacara dan mulai menyulutkan api pada mayat. Selanjutnya adalah menjadi tugasnya Raja Harischandra untuk menyelesaikan pembakaran mayat sampai menjadi abu, kemudian menyimpan abunya di dalam kendi tanah, sampai hari berikutnya pihak keluarga datang mengambil kendi tanah tempat menyimpan abu mayat untuk dilakukan upacara menghanyut ke sungai Gangga.

Raja Harischandra sangat setia pada tugasnya sehingga semua orang sangat menyukainya. Ia pun terkenal sebagai penjaga Smaśāna yang budiman. (38b)

Catatan: Tempat ini yang bernama Harischandra Ghat adalah tempat “paling awal” penulis kunjungi di kota suci Banares/Varanasi di tahun 1980-an. Istilah Seme untuk kuburan atau tempat pembakaran mayat, barangkali berasal dari istilah Sanskerta ini, Smaśāna.





Comments