Language Fri, 01 May 2026, Malta

SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (39)

Sun, 30 Aug 2020, 11:03:34, 1106 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)

Maharaja Harischandra (ID)

Oleh : Darmayasa

Diceritakan Mahārāṇῑ Saivya bersama putra mahkota Rohitāśva.

“Ibuuu...., lapaaar...” kata putra mahkota Rohitāśva kepada ibunya, sang permaisuri yang kini telah menjadi seorang pembantu rumah tangga. Pakaiannya lusuh, badan dan wajahnya pun tidak bersih, walaupun masih tetap memperlihatkan kecantikan dan keanggunan permaisuri seorang Rajadhiraja.

“Sssttt... anakku..., jangan katakan itu anakku.... jangan anakku mengatakan diri lapar.... engkau tidak lapar anakku..., tapi kau hanya belum makan. Sabarlah... jangan sampai Tuan Brāhmaṇa dan Nyonya tahu kau lapar... jangan perlihatkan dirimu lapar... Sekarang pergilah ke kebun di belakang sana... petiklah bunga untuk persiapan Tuan Brāhmaṇa bersembahyang... Jangan sampai terlambat ya? Ibu harus melanjutkan semua cucian ini...” kata permaisuri sambil menunjukkan tumpukan pakaian kotor.

“Acchaa... acchaa..., Ibu dan anak sedang bermanja-manja dan bermalas-malas... Untuk inikah kami membeli kalian dengan harga sangat mahal?!” Istri Brāhmaṇa datang sambil membentak dengan mata mendelik. “Kami sudah muak melihat tingkah para pembantu tak tahu diri seperti kalian ini. Tidak tahu diri, tidak tahu terima kasih. Hey bocah... sana kamu segera siapkan kayu bakar, bunga, dan lain-lain perlengkapan sembahyang untuk Tuan Brāhmaṇa. Sana pergi cepat... Bocah tidak tahu diri... kau anak seorang pembantu tapi bertingkah seperti putra mahkota raja. Jangan bermanja-manja di sini..” Bentaknya dengan keras.

Dalam penuh kecemasan dan rasa ibu Rohitāśva memandangi mata ibunya yang basah oleh air mata. Ia segera mengambil tempat bunga dan pergi ke kebun yang berada di belakang rumah Brāhmaṇa.

Sambil berjalan menuju ke belakang rumah, ia mendengar bagaimana Nyonya Brāhmaṇa memarahi dan mengata-ngatai ibunya. Ingin rasanya ia berbalik dan memeluk ibunya. Akan tetapi, ia tidak berani melakukan hal itu setelah suatu kali ia kedapatan memeluk ibunya, saling bertangisan, sambil menghapus air mata ibunya dengan telapak tangannya yang mungil, lalu Nyonya Brāhmaṇa menyiksa ibunya dengan menampar, menarik rambut dan memukulinya dengan kayu. Rohitāśva tidak ingin melihat ibunya disiksa. Dengan air mata bercucuran deras membasahi wajah, ia pun mempercepat langkah-langkahnya menuju ke kebun di belakang rumah Brāhmaṇa.

Semenjak menjadi pembantu di rumah Brāhmaṇa, permaisuri Saivya tidak pernah mengganti pakaian. Ia hanya mempunyai pakaian satu-satunya yang melekat di badannya. Jatah makan pun hanya sekali dalam sehari, walau ia sering melihat sisa-sisa makanan dibuang begitu saja oleh tuannya. Permaisuri menerima keadaannya dengan sangat sabar, dan sepatah kata pun keluhan tidak pernah keluar dari bibirnya. (39)





Comments