Language Fri, 01 May 2026, Malta

SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (40)

Sun, 30 Aug 2020, 11:04:54, 1063 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)

Maharaja Harischandra (ID)

Oleh : Darmayasa

Permaisuri melakukan semua ini hanya dan hanya sebagai bhaktinya kepada suami pujaannya, Mahārāja Harischandra. Dalam hidup permaisuri, tiada hari, tiada langkah, tiada nafas tanpa diisi nama Raja Harischandra. Tanpa lelah ia mendoakan terus sang suami agar suaminya tabah dan segera dijauhkan dari cobaan hidup yang sangat berat. Ia memahami susunan Hyang Paramakawi sepenuhnya, bahwa tiada masalah tanpa disertai oleh jalan keluar dari masalah tersebut. Bagaikan matahari ditutupi sementara oleh sang awan gelap, hanya menunggu waktu awan tersebut meninggalkan matahari, dan tanpa halangan apa pun matahari akan bersinar kembali, terang benderang. Demikian keyakinan Mahārāṇῑ Śaivya, permasalahan berat suaminya segera akan berlalu, hanya menunggu hadirnya waktu datang membawa terang..., membawa karunia.

Pada suatu hari, putranya, Rohitāśva pergi ke kebun belakang dengan tujuan memetik bunga untuk dipergunakan sembahyang oleh Brāhmaṇa. Ketika ia sedang asyik memetik bunga, tiba-tiba seekor ular hitam datang menyelinap keluar dari semak belukar dan mematuk kaki Rohitāśva. Ternyata ular hitam tersebut sangat berbisa. Putra mahkota bahkan tidak sempat berteriak mengaduh. Ia langsung terjatuh remah ke atas tanah. Seluruh tubuhnya langsung menjadi pucat membiru. Ia terjatuh di sekitar semak-semak dan meninggal seketika.

Tidak ada orang di sana. Sepi. Kebun hanya menyisakan nyanyian burung dan bunyi kodok, yang seolah-olah tidak memperhatikan apa ang terjadi di sekitarnya. Mereka hanya menyanyi merdu demi yang mereka sendiri tidak ketahui.

Malam hari, setelah Mahārāṇῑ Śaivya menyelesaikan tugas-tugasnya, ia teringat pada putranya yang belum kembali dari tugas memetik bunga, dan juga belum makan. Hatinya mulai berdebar penuh kecemasan. Seluruh arah tiba-tiba dirasa berubah menjadi gelap gulita. Dadanya terasa sesak. Ia mencari kemana-mana, ruangan demi ruangan, sambil memanggil-manggil putranya, “Rohita...!! Rohita...!! Anakku.... dimana engkau?! Anakku…, cepatlah kembali. Selesaikan tugasmu segera... hari sudah malam... kamu juga harus mandi, sembahyang dan makan....Rohita... anakku…”

Panggilan demi panggilan tidak mendapat jawaban. Hati seorang Ibu menjadi semakin bergetar... mulai menyangsikan keselamatan putranya. Tanpa menutupi makanan yang ia siapkan untuk putranya, Mahārāṇῑ segera berlari kembali ke kebun belakang. Dan..., betapa kagetnya Mahārāṇῑ Śaivya melihat putranya terbaring di sela-sela semak belukar. Sinar rembulan sekali-sekali muncul dari daun-daun pepohonan yang bergerak meliuk-liuk oleh hembusan angin malam, dan Mahārāṇῑ dapat melihat bekas gigitan gigi ular di kaki dan seluruh badan putranya membiru. Ia menjerit, segera memeluk erat putranya. Mahārāṇῑ menangis..., memanggil-manggil nama putranya. Ia merintih, menangis, mengguncang-guncangkan badan putranya berharap putranya terbangun. “Rohita anakku... Rohita anakku... bangunlah... bangun anakku..,” suara Mahārāṇῑ Śaibya semakin melemah, melemah..., dan malam pun semakin gelap dan sepi. Kini permaisuri tidak mampu menangis lagi. Hanya desah nafas kesedihan..., nafas perpisahan dengan putra tersayangnya, nafas yang terdesak di dalam dadanya karena kehilangan putra tercinta. “Anakku Rohita..., bangunlah... jangan tinggalkan ibumu..... jangan anakku... jangan kau biarkan seorang ibu menyaksikan putranya meninggal... anakku....ba...ngun...,” permaisuri pun jatuh pingsan.

Putra mahkota Rohita tetap terdiam. Malam pun terdiam. Burung-burung pun terdiam. Kodok pun terdiam...., dan Mahārāṇῑ pun terdiam setelah sempat pingsan tanpa ada yang melihatnya. Ia hanya menempelkan pipinya pada pipi putranya sambil memejamkan mata... mengharapkan sebuah keajaiban terjadi, keajaiban putranya akan terbangun lalu memanggil namanya, “...Ibuuuuu.... aku tidak mati..., aku hanya pura-pura berbaring....ini aku ibu..., peluklah aku....ibuuu....” (40)





Comments