SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (41)
Sun, 30 Aug 2020, 11:06:09, 1147 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)
Maharaja Harischandra (ID)
Oleh : Darmayasa
(seperti tadi malam, malam ini baru selesai meditasi di tempat sepi di tengah perkebunan luas maha sepi, sampai di rumah minum hangat lalu ketak ketik sbb:)
Dia terdiam..., Rohitāśva tetap tidak bergerak sama sekali. Anak kecil manis dan lincah itu sudah tidak bernafas sama sekali. Ibunya, Mahārāṇῑ akhirnya harus menerima kenyataan menyakitkan, bahwa putranya yang sedang berada dalam pelukannya, ternyata sudah tidak bernafas. Pada umumnya, anaklah yang melihat mayat orang tuanya dan mengupacarainya. Namun, tidak demikian halnya dengan permaisuri; ia sebagai orang tua, sebagai ibu, kini harus menyaksikan putranya meninggal duluan dari dirinya, dalam pelukannya, dan dialah yang harus mengupacarainya, dialah…sang Ibu yang harus melakukan pembakaran mayat putranya tercinta. Pepohonan malam yang menyaksikan pemandangan menyedihkan tersebut pada bertanya, “Inikah keadilan alam?! Seorang Ibu harus menyaksikan putranya meninggal? Dan dialah yang harus melakukan upacara pembakaran mayat putranya? Apakah alam tidak memprotes dirinya atas keputusan tidak adil ini?” Mendengar pertanyaan kawannyaa, pohon malam lainnya menjawab, lirih…dan perlahan, “Saudaraku…, alam tiada urusan dengan kejadian menyedihkan ini. Semua dan setiap orang datang dengan bawaan karma masing-masing. Menyedihkan memang, tetapi itulah karma. Si putra mungil datang ke dunia membawa karmanya sendiri, dan Si Ibu pun datang ke dunia ini membawa karmanya sendiri. “Svayam karma karoty ātmā, svayam tat-phalam aśnute” – sendiri orang berbuat, maka dia sendiri pula yang mengalami pahalanya….” Demikian pepohonan malam saling berbicara dan turut mengalami kepedihan hati permaisuri.
Sepertinya, permaisuri “mendengar” percakapan para pepohonan malam itu. Perlahan ia melepaskan pelukan pada tubuh putranya, dan perlahan pula ia menghapus air matanya. Permaisuri berusaha berdiri tegak. Matanya memandang kesana kemari seperti mencari-cari sesuatu. Merasa tidak menemukan apa yang dicarinya, akhirnya pandangan matanya tertuju pada kain Sari yang sedang melekat di badannya, kain yang sedang dipakainya, yaitu satu-satunya kain yang dimilikinya dengan panjang sekitar 5,5 meter. Selama ini hanya kain itu yang ia miliki, dan dengan setia melilit badannya. Ternyata ia mencari-cari kain untuk dipergunakan menutupi mayat putranya. Tanpa pikir panjang lebar, Mahārāṇῑ perlahan merobek sebagian kainnya, lalu sambil kembali memeluk, Mahārāṇῑ Savya menutupi mayat putranya dengan sobekan kain sarinya itu.
Tradisi ketat yang diikuti selama ini diwarisi turun temurun, yaitu pembakaran mayat dilakukan sesegera mungkin setelah orang meninggal, tradisi itu pun dilakukan oleh permaisuri Mahārāja Harischandra. Oleh karena putranya meninggal senja hari menjelang malam, maka sebelum matahari terbit, antyeṣṭi-saṁskāra, atau upacara antyeṣṭi untuk putranya segera harus dilakukan. Mahārāṇῑ kemudian memangku putranya, kakinya perlahan-lahan melangkah maju, tanpa air mata…, tanpa tangis…, melangkah ke depan, selangkah demi selangkah menuju ke smaśāna, ke tempat pembakaran mayat terdekat. Bunyi jangkrik, diiringi hembusan angin malam, seolah-olah mengiringi langkah perjalanan seorang permaisuri yang sedang memangku mayat putra seorang Maharajadhiraja penguasa dunia… ya… bunyi jangkrik dibantu oleh hembusan angin malam yang dingin mengiringi perjalanan putra Raja dengan kekidungan pengantar atma menuju Hyang amurbeng jagat. Sekali-sekali bunyi burung malam terdengar di kejauhan seolah-olah menuturkan perjalanan atma menuju sang sangkan paraning dumadhi dalam penuturan Aji Kalepasan.
Permaisuri tetap melangkah, perlahan semakin mendekati tempat pembakaran mayat, dalam kegelapan malam, di tepi sungai Gaṅgā kota suci Varanasi. (41)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (005EN)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (004EN)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (EN003)



