SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (42)
Fri, 04 Sep 2020, 11:09:27, 1095 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)
Maharaja Harischandra (ID)
Oleh : Darmayasa
Sesampainya di Smaśāna, di tempat pembakaran mayat, permaisuri melihat sekeliling ternyata sunyi, sepi, dan gelap. Malam terdiam, angin pun berhenti berhembus. Lolongan anjing pun tidak ada terdengar. Hanya sekali-sekali bunyi gemericik aliran air Gaṅgā yang menyentuh dan membelai-belai tepian sungai Gaṅgā, sekali-sekali gemericikan air terdengar sangat halus, namun cukup jelas…membisikkan sebuah kepedihan hati seorang permaisuri raja.
Mahārāṇῑ kemudian membaringkan mayat putranya di atas tanah. Ia segera mengumpulkan kayu bakar dari sana-sini, dari bawah-bawah pohon maupun semak belukar. Oleh karena statusnya sebagai seorang budak yang dibeli sehingga dia tidak mendapat bayaran apa pun atas pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan di rumah brāhmaṇa yang membelinya. Permaisuri sama sekali tidak mempunyai uang dan oleh karena itu, ia tidak bisa membeli kayu bakar untuk membakar mayat anaknya.
Kematian bukanlah sesuatu yang dapat direncanakan dan dipastikan. Hanya kematian yang merupakan satu-satunya kepastian yang pasti. Tuhan itu ada ataukah tidak ada, itu masih dapat diperdebatkan. Akan tetapi, kematian tidak dapat diperdebatkan lagi kebenaran dan kepastiannya. Kematian pasti datang menjemput semua dan siapa saja. Kematian tidak harus bersopan santun berpesan terlebih dahulu sebelum datang. Karena, kematian adalah kebenaran pasti. Karena, kematian tidak berada di bawah kebenaran lain karena kematian sendiri adalah kebenaran tak beradu-jawab. Kematian putra mahkota juga tidak dapat dilawan kedatangannya. Permaisuri tidak mencari “dewasa” untuk mengupacarai putranda karena keadaan. Ia percaya, bahwa dalam keadaan seperti ini, ia hanya perlu mengantarkan putrandanya melalui keteguhan dan ketulusan hati seorang Ibu. Baginya, mengembalikan unsur-unsur Pañca Mahā Bhūta dari badan putranya adalah hal yang paling penting; pṛthivi (unsur tanah) kembali ke pṛthivi, apaḥ (unsur air) kembali ke apaḥ, teja (unsur api) kembali kepada teja, unsur, vāyu (unsur angin) kembali kepada vāyu, dan ākāśa (unsur angkasa, unsur ruang, unsur ether) kembali kepada ākāśa. Selainnya, permaisuri mempunyai śraddhā atau seyakin-yakinnya bahwa karma putra mahkota akan membawanya ke tempat tujuan mulia setelah kematian.
Permaisuri raja tidak berhandai-handai, jikalau saja di sampingku ada Maharajaku, Harischandra, kalau saja para pendeta istana dapat mencarikan “muhurta” atau “dewasa ayu” untuk mengupacarai putraku, seandarainya paman Menteri dapat membuatkan upacara kematian yang besar sehingga semua keluarga serta rakyat ikut mengiringkan keberangkatan putra mahkota, jikalau…jikalau….
Tidak, permaisuri tidak berpikir seperti itu. Kematian datang kepada siapa saja sesuai dengan karma yang bersangkutan. Ia datang dan harus disambut dalam kehormatan tinggi. Dewa Yama, Dewa Kematian tidak akan mengambil putranda jika belum waktunya meninggal. Juga, upacara besar dan kecil tidak akan menentukan keberangkatan putra mahkota. Karma-lah yang mengantarkan sang palatra menuju tempat yang dituju setelah meninggal. Tentu saja, jika upacara kematian dapat dilakukan sesuai tuntunan sastra suci, maka pelaksanaan upacara indah tersebut akan sangat membantu kedamaian sang ātmā menuju tempat tujuannya. Namun, keadaa berbicara lain. Permaisuri sendiri, bahkan malam pun tidak bersama permaisuri. Semua terdiam sepi dan dingin. Maka, permaisuri harus memutuskan dan melakukan segala sesuatu sendirian, demi perjalanan sang putra mahkota ke “gumi wayah” dapat berjalan dengan sebaik mungkin permaisuri dapat lakukan.
Permaisuri melanjutkan usaha mengumpulkan kayu bakar untuk pembakaran mayat putranda. Begitu ia hampir selesai menempatkan tumpukan-tumpukan kayu bakar di sebelah mayat putranya yang terbaring, tiba-tiba ada suara lelaki menyapanya dari belakang “Wahai Ibu…, apa yang anda sedang lakukan di tengah malam, di kuburan ini? Seorang perempuan...? Sendirian?!”.
Di keremangan tengah malam permaisuri samar-samar dapat melihat seorang lelaki brewok berbadan tegap, tapi dalam keadaan kotor serta rambut awut-awutan. Pakaiannya kotor dengan bau tidak sedap. Permaisuri mengerti bahwa ia adalah sang penjaga kuburan atau tempat pembakaran mayat tersebut. Permaisuri menjawab perlahan, “Saya hendak membakar mayat putra saya yang baru saja meninggal...”.
“Putra anda meninggal?! Dan anda sendirian,?! Dimana para anggota keluarga anda yang lainnya?“ tanya sang penjaga tempat pembakaran mayat atau smaśāna itu, lelaki brewok, kotor, dengan suara serak dan tidak jelas.
“Sa...saaaya…”, sebelum Mahārāṇῑ melanjutkan kalimatnya, lelaki brewok penjaga smasāna lanjut berkata, “Dalam tradisi yang berlaku..., tidak ada wanita yang ikut datang ke tempat pembakaran mayat. Sedangkan anda adalah seorang wanita, seorang perempuan, tetapi datang ke kuburan dan tidak ada anggota lain yang menyertai anda. Saya dapat pastikan bahwa suami anda sudah meninggal, atau ia sudah meninggalkan anda, sehingga anda datang sendirian ke sini.”
Lelaki itu semakin mendekat, dan Mahārāṇῑ menjadi semakin terisak. Ia tidak mampu menjawab karena suaminya masih hidup, tidak meninggal seperti yang diperkirakan oleh lelaki penjaga smaśāna, dan juga suaminya tidak meninggalkan dirinya melainkan keadaan yang telah memaksanya untuk menjual istrinya untuk menjadi pembantu rumah tangga di rumah seorang brāhmaṇa.
Semakin lelaki itu mendekat permaisuri semakin menundukkan kepalanya. Begitu sampai di dekat Mahārāṇῑ lelaki itu melihat mayat seorang anak kecil dibaringkan di atas tanah. Lelaki itu berjongkok sambil bergumam, “Nārāyaṇa..., Nārāyaṇa..., Hara Hara Mahādeva…, Ya Tuhan…, di sini... di tempat pembakaran mayat ini..., Engkau tunjukkan kebesaran-Mu, Engkau tunjukkan kebenaran-Mu, Engkau tunjukkan rahasia-rahasia-Mu. Engkau tunjukkan kematian datang menjemput tanpa pandang bulu, tanpa aturan yang dapat dibaca oleh bahkan orang-orang bijaksana terpelajar. Barangkali ini adalah satu-satunya rahasia yang Engkau tidak ijinkan umat manusia untuk mengetahuinya; kapan orang akan meninggal, siapa yang akan meninggal duluan, di mana dan bagaimana ia akan meninggal, --- semua ini menjadi sebuah rahasia yang Anda pegang sendiri erat-erat di dalam kepalan tangan Anda. Ya Tuhan..., hamba melihat banyak anak-anak yang meninggal dalam pangkuan bapak atau ibunya atau kakek neneknya. Mereka diantar oleh ribuan air mata dan tangis ke tempat pembakaran mayat ini. Akan tetapi…, yang sedang hamba saksikan di hadapan hamba sekarang ini ..., baru kali ini hamba melihatnya. Baru kali ini ya Tuhan.... Hamba tidak pernah melihat kejadian ini sebelumnya, dimana seorang wanita yang dalam keadaan yang sangat teramat patut dikasihani, tanpa suami, tanpa sanak keluarga, satu-satunya putra tumpuan hatinya, tumpuan hidupnya, keceriaan hidupnya, ‘Tuhan’ hidupnya..., --- hari ini Engkau ambil dia, tentu saja dalam jangkauan bahasa kami hal ini sama sekali tidak adil, walaupun hamba yakin dalam kamus rahasia yang ada pada Anda ya Tuhan, kejadian ini adalah keadilan yang sangat adil”.
Mendengar kata-kata lelaki itu, Mahārāṇῑ menjadi semakin terisak. Ia merasa sangat terharu mendengarkan penuturan rintihan hati dari lelaki penjaga pembakaran mayat, lelaki penjaga smaśāna. Rintihan dan keluhannya itu, serasa…ya serasa seperti keluhan kepedihan hati meratapi kematian putranya sendiri. Demikian perasaan permaisuri setelah mendengarkan kata demi kata, kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh lelaki penjaga tempat pembakaran mayat tersebut.
Lelaki itu perlahan mengusap kepala mayat anak kecil itu kemudian berdiri. Di dalam kegelapan smaśāna itu, sambil mencoba melihat wajah wanita yang ada di hadapannya yang sedang menunduk, dalam keadaan sedih dan lusuh, ia berkata “Wahai Ibu dari anak yang meninggal…, melihat keadaan anda, saya yakin anda tidak mampu membeli kayu bakar untuk membakar mayat putra anda. Saya akan bantu untuk mengumpulkan kayu bakar untuk putra anda. Akan tetapi, maafkan saya…, bahwa tempat ini bukan sepenuhnya dalam tanggung jawab saya. Di sini saya hanyalah seorang pekerja, saya tidak boleh melakukan pembakaran mayat tanpa meminta upah. Apakah anda akan membayar upah pembakaran mayat putra anda?”.
Mendengar kata-kata lelaki itu, Mahārāṇῑ sambil masih tetap terisak, menjawab perlahan “Saya hanyalah seorang budak…, saya bekerja tetapi tidak dibayar. Saya tidak mempunyai siapa-siapa…, dan juga saya tidak mempunyai uang, saya tidak mampu membayar ongkos pembakaran mayat putra saya…”, Mahārāṇῑ bersimpuh di sebelah mayat putranya yang terbaring di atas tanah.
Lelaki itu berkata lagi, “Tetapi…, saya tidak boleh mengizinkan pembakaran mayat tanpa mendapatkan upah untuk atasan saya. Itu adalah kewajiban dan kesetiaan saya kepada majikan saya...”.
Dengan suara yang lemah, setengah berbisik dan merintih Mahārāṇῑ menjawab, “Tuan penjaga smaśāna…, saya tidak mempunyai apa-apa, bahkan sebagian dari kain Sari yang melilit badan saya pun sudah saya sobek untuk menutupi mayat anak saya. Dengan permohonan dan cakupan tangan, mohon anda memahami keadaan saya, dan atas nama anak yang malang dan tidak berdosa ini, mohon saya diizinkan untuk membakar mayatnya di sini…”, permaisuri terisak, tertahan-tahan, walau ia berusaha untuk menahan isakan tangisnya agar jangan sampai keluar dari bibirnya.
Lelaki tegap dan brewok itu menarik nafas yang panjang lalu mengeluarkan nafas berat sambil berdesah, ”Nārāyaṇa, Nārāyaṇa… ya Tuhan mengapa anda menempatkan hamba dalam kesulitan seperti ini? Hamba tidak mampu menyaksikan keadaan ini… Wahai Tuhanku…, berikan hamba jalan keluar dari masalah ini karena hamba juga tidak mampu melanggar perintah majikan hamba, bahwa tidak ada pembakaran mayat yang boleh dilakukan di sini tanpa membayar ongkos…”. Tiba-tiba lelaki itu memalingkan mukanya kepada Mahārāṇῑ sambil berkata “Ohh iyaaa..., anda kan mempunyai kalung tanda pernikahan atau cincin kawin? Suami anda kan sudah tidak bersama anda?, Oleh karena itu, wahai dari ibu anak yang meninggal, anda bisa membayarnya dengan kalung pernikahan itu…”.
Mendengar penuturan lelaki itu, secepat kilat tangan Mahārāṇῑ meraba kalung yang melingkar di lehernya, dan memegangnya erat-erat sambil berkata “Tidaaaaaak…..!, suami saya masih ada, beliau orang yang sangat teguh menjaga kebenaran, sangat setia kepada kata-kata yang diucapkannya, beliau seorang Satyavādῑ, apa yang keluar dari bibirnya tidak pernah ditarik kembali. Beliau menyayangi kata-kata yang keluar dari bibirnya melebihi segala apa yang berharga di dunia ini, termasuk kami sebagai istri dan putranya.”
Tiba-tiba lelaki itu cepat mendekat kearah Mahārāṇῑ. Di dalam remang-remang sentuhan sinar rembulan, lelaki itu melihat keistimewaan pada kalung pernikahan di leher Mahārāṇῑ. Raja Harischandra seperti mengenalinya, “Tunggu..., tunggu…, Manggala Sūtra itu, kalung pernikahan yang anda pakai itu…, sepertinya saya pernah melihatnya”. Mahārāṇῑ tercengang mendengar kalimat lelaki itu, hatinya berdebar, perasaannya mengatakan sesuatu, dan matanya mencoba mengamati wajah lelaki itu. Tiba-tiba Mahārāṇῑ mengenali lelaki yang ada di hadapannya, dan dengan tergagap ia berkata, ”An…da, benarkah Anda ini Tuanku Mahārāja…?!” Permaisuri mengusap-usap matanya berulang-kali. Dia usap lagi dan lagi agar dapat memastikan bahwa lelaki penjaga tempat pembakaran mayat yang ada di hadapannya itu adalah pujaan hatinya, adalah suaminya sendiri.
Lelaki itu pun tergagap berkata, “Engkau… Mahārāṇῑ Śaibya…?!” Mahārāṇῑ tiba-tiba berseru sambil segera membungkuk dan memeluk kaki laki-laki itu “Suamiku…, Dewaku… Tuhanku…, Mahārāja..., Suamiku…” Entah dari mana datangnya, air matanya yang sudah kering, kini tiba-tiba merembes deras keluar menyertai tangisnya. Permaisuri menangis sekerasnya… sebebasnya… hanya menangis … karena ia tidak kuasa mengeluarkan sepatah kata pun…
Mahārāṇῑ tidak mampu melanjutkan kata-katanya dan menangis tersedu-sedu di kaki penjaga pembakaran mayat itu, yang tidak lain adalah Mahārāja Harishcandra sendiri, suami dari Mahārāṇῑ Śaibya, ayah dari putra mahkota Rohitāśva.
Mahārāja pun menangis dengan keras sambil menyebut nama istrinya, “Mahārāṇῑ Śaibyaaaa…, istriku…, kenapa kita dipertemukan kembali dalam keadaan seperti ini? Kenapa…? Kenapa…kenapa…?!”
Mahārāja melepaskan pelukan tangan permaisuri di kakinya. Ia merasa tidak layak lagi untuk disentuh atau menyentuh permaisuri, mengingat dirinya hanyalah seorang candala, hanya seorang petugas pembakaran mayat. Ia tidak ingin mengotori permaisuri. Harischandra tidak ingin “kecandalaannya” menodai kemuliaan seorang permaisuri Raja yang teramat suci. Raja agak menjauh. Permaisuri memahami keadaan. Ia pun membujuk Maharaja Harischandra agar tidak terbawa oleh perasaan berdosa di hadapan istrinya. Seorang suami tetap “dewa” bagi sang istri. Di hadapan istri, seorang suami tidak mengenal suci atau pun kotor. Mereka adalah dampati, dua yang menyatu, yang luluh menyatu dalam suka dan dalam duka, dalam segala keadaan.
Maharaja akhirnya menyadari dirinya terbawa emosi yang hampir menjauhkan dirinya dari kebersamaannya bersama sang istri. Ia kemudian mendekat menuju mayat putranya, lalu menunduk bersimpuh mengangkat mayat putranya, memeluk dan menciuminya sambil berkata, “Anakku…anakku…anakku Rohita…, apa yang terjadi? Mengapa engkau meninggalkan ayahmu? Mengapa…mengapa…mengapa…?!” Maharaja Harischandra menangis keras. Malam pekat pada terdiam. Namun…, angin di kejauhan menjawab dengan gaung suara tangisan Maharaja.
“Anakku ..., bangunlah… bangunlah anakku…. Selama ini ayahmu terbakar oleh kerinduan melihatmu, tiada hari tanpa bayangan wajahmu wahai anakku..., tetapi sekarang engkau datang dalam keadaan seperti ini, dengan badan yang lunglai tidak bernyawa. Putraku…, kenapa engkau tega meninggalkan ayahmu? Kenapa anakku…?!” tangis Maharaja Harischandra semakin menjadi-jadi.
Mahārāja Harishcandra dan permaisuri, Mahārāṇῑ Śaibya tiada henti-hentinya memeluk, membelai, menciumi mayat putra mahkota, sambil menangis dan memanggil-manggil putra mahkota, meminta ia datang lagi, bangun serta hidup kembali, bermain lincah seperti dahulu lagi. Selain tangis mereka berdua, malam itu, tengah malam itu, kuburan itu, semua tetap terdiam, sunyi, dan sepi. Jangkrik-jangkrik pun menghentikan suaranya. Gelap malam pada berbisik, “Sungguh mengharukan…, kedukaan dan kepiluan seorang pengabdi dharma…, seorang Maharaja yang sangat mulia dan seorang permaisuri yang sangat agung nan suci…” (42)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (005EN)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (004EN)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (EN003)



