Language Fri, 01 May 2026, Malta

SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (43)

Fri, 04 Sep 2020, 11:10:39, 1110 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)

Maharaja Harischandra (ID)

Oleh : Darmayasa

Mereka berdua bertangis-tangisan menangisi putranya yang terdiam untuk selamanya. “Athā jagāma svasutamṛtamādāyalāpinī, bhāryā tasya narendrasya sarpadaṣṭa hi bālakam”, - bagaimana permaisuri sendirian dalam kegelapan membawa putranya ke smaśāna atau tempat pembakaran mayat? Permaisuri masih menginginkan terjadi keajaiban bahwa putranya tidak meninggal. Selama menjadi pembantu rumah tangga, permaisuri tidak sempat memperhatikan dirinya. Badannya menjadi sangat kurus, selalu bersedih memikirkan suami dan putranya, rambut di kepalanya begitu kotor dipenuhi oleh debu dan kotoran dapur (kṛṣā vivarṇāvimanā pāsudhvastaśiroruhā).

Permaisuri memandangi wajah putranya, berharap putranya masih hidup. Ia memanggil-manggil putra tercintanya, “Hā vatsa…, wahai buah hatiku…., hā putra…, duhai putraku…” Ratapan permaisuri pun diikuti oleh tangis dan ratapan Maharaja Harischandra. Panggilan demi panggilan dibisikkan oleh Raja Harischandra, tetapi tidak mendapat jawaban dari putranya.

Raja Hariscandra berkali-kali mengguncang-guncang badan putranya, tetapi putranya tetap terdiam. “Putraku…, sampai hatinya sang ular memembunuhmu dengan patukan beracunnya. Putraku…, ampuni ayahmu yang sudah begitu tega menjual dirimu bagaikan menjual barang dagangan… (vikrito yena vastuvat). Ampunilah ayahmu wahai putraku…”

Raja Harischandra melanjutkan ratapannya, “Wahai putraku…, Yamasya bhikṣā-yācāva, kami akan memohon pada Hyang Yamadhipati, Dewa Kematian, agar nyawa kami, ayah dan ibumu juga diambil, agar kita dapat bersama-sama di sana bersamamu…” Raja Harischandra melanjutkan ratapannya, namun tidak jelas, ditujukan kepada dirinya, kepada istrinya, ataukah kepada melam gelap yang tidak bersuara? “Jika aku bunuh diri sekarang, dalam keadaan sebagai seorang cāndāla seperti ini, maka pada penjelmaan nanti aku pasti lahir menjadi pelayan dari cāndāla (cāṇḍāla-dāsatayāsye punar apy anya-janmani), atau lahir mendapatkan badan sebagai makhluk pemakan cacing, atau tersiksa di neraka dalam lautan yang dipenuhi oleh dahak, kencing, kotoran, darah, dan lain-lain. Bagiku…, mengalami siksaan seperti semua itu masih lebih ringan dibandingkan dengan penderitaan ditinggal oleh putra tersayang….”

Raja Harischandra menoleh ke arah istrinya. Matanya merah dan basah oleh air mata. “Istriku…, engkau pergilah ke rumah brāhmaṇa, dan lanjutkan menjadi pembantu di sana. Biarkanlah aku mati bersama putraku dalam api pembakaran mayatnya. Jika ada kesalahan yang kuperbuat selama kita bersama sebagai suami-istri, ampunilah aku… pergilah istriku… pergilah ke rumah tuan brāhmaṇa…” Raja menangis dan membenamkan wajahnya di tubuh putranya.

Permaisuri memeluk Raja Harischandra dari belakang, sambil menjawab, “Tuanku Maharaja…, hamba pun tidak mampu menahan kesedihan ini… biarkanlah hamba ikut bersama ke dalam api pembakaran mayat putra kita…”

Raja terdiam. Permaisuri pun terdiam. Dan…, malam pun terdiam.

Permaisuri melanjutkan kata-katanya, “Paling tidak tuanku Maharaja…, di sana kita bertiga akan tetap bersama; Tuanku Raja, hamba, dan putra kita. Saha svarga ca naraka sahaivāvāhi bhukṣvahe - entah di Surga, entah di Neraka, tetapi kita akan tetap bersama bertiga...”

Raja terdiam. Permaisuri pun terdiam. Dan…, malam pun terdiam.

Setelah beberapa lama, putranya tetap terdiam lemas, akhirnya Mahārāja Harischandra perlahan mulai dapat menguasai dirinya. Ia mulai merenungkan bahwa hidup menjadi manusia sungguh merupakan sebuah kemuliaan yang tidak mudah didapatkan. Para Resi Muni menyebutkan bahwa para Dewa pun antre untuk mendapatkan kelahiran menjadi manusia. “Durlabham manuṣam janma”, bahwa sangat amat langka mendapatkan kelahiran menjadi manusia. Ketika mendapatkan cobaan dan kedukaan, bunuh diri bukanlah jalan keluarnya. Ia hanya dilakukan oleh orang-orang lemah jiwa. Kedengarannya menarik bahwa kita akan terlepas dari kedukaan. Namun, tidaklah demikian halnya. Ribuan kali lebih berat kedukaan menunggu di alam setelah kematian, dan juga di dunia pada kelahiran berikutnya.

Menurut penuturan orang-orang suci, roh-roh orang yang meninggal karena bunuh diri akan hidup gentayangan dalam kesengsaraan ribuan-ribuan tahun. Hukum kasih Hyang Parama Kasih tidak akan mampu menolongnya karena ia sudah menolak badan manusia yang dikaruniai oleh Tuhan dengan cara bunuh diri. Selain itu, banyak mereka yang berusaha bunuh diri tetapi tidak bisa mati melainkan menjadi cacad seumur hidup. Hidup seperti sungguh-sungguh lebih menderita. Oleh karena itu, bunuh diri tidak memberikan pilihan hidup lebih bahagia. Jika alam memberikan kedukaan, maka alam juga sudah menyediakan jalan keluar dari kedukaan tersebut. Orang hanya perlu bersabar dan tidak mengambil Langkah-langkah konyol hanya karena terbawa emosi kedukaan.

Raja terdiam, permaisuri terdiam, dan malam pun bertambah sepi. Dengan suara perlahan, sedikit masih bergetar karena kesedihan berat yang diderita, Raja Harischandra berkata kepada permaisuri, “Istriku..., kita harus segera melanjutkan upacara antyesti untuk anak kita sebelum matahari terbit....”

Tangan kirinya menyangga tubuh permaisuri yang bersandar lemah, dan tangan kanan mengelus-elus kepala putranya, Raja Harischandra melanjutkan kata-katanya, “Permaisuri ..., aku di sini bekerja, aku harus memenuhi dharmaku pada atasanku, Tuan Cāṇḍāla, penguasa kuburan ini. Bagaimana pun..., istriku.... bagaimana pun...engkau harus mengusahakan biaya pembakaran mayat anak kita...”. Setelah berkata seperti itu Mahārāja Harischandra terduduk lesu. Raja bahkan tidak berani menatap wajah istrinya, yang kini sudah berpindah duduk di hadapan Mahārāja Harischandra. Tampak pula badannya terguncang menandakan ia sedang menahan tangisnya. Permaisuri menjadi kaget mendengar kata-kata suaminya. “Suami!!! Hamba ini istri anda..., dan...dan....ini putra anda...”, permaisuri tertunduk lesu, tidak mampu melanjutkan kata-katanya.

“Permaisuri Śaibya..., benar bahwa ini putraku, tetapi di Smasāna ini, di tempat pembakaran mayat ini aku mempunyai dharma lain, dharma atau kewajiban yang terdepan dari segala dharma-dharmaku yang lain sekarang ini, termasuk dharmaku sebagai seorang ayah...,” suara Mahārāja Harischandra semakin melemah, “Aku harap..., engkau dapat memahami keberadaanku...wahai istriku....wanita terbaik yang kukenal...., engkau pasti dapat mengerti sepenuhnya perihal aku dan prinsip hidupku di dalam mematuhi jalan dharma....”, kata-kata Maharaja Harischandra menjadi melemah.

“Tetapi Mahārāja..., apakah hati anda sudah begitu membantu?! Tidak ada sedikit pun kelembutan tersisa..., bahkan untuk buah hati anda...untuk anak anda yang akan meninggalkan kita selamanya?! Dimana hati seorang ayah ... wahai Mahārāja?!” Maharani tidak memahami sama sekali kata-kata yang disampaikan oleh suaminya yang meminta dirinya untuk membayar biaya pembakaran mayat anaknya.

Mahārāja Harischandra mengerti keadaan istrinya, dan ia juga mengerti keadaan dirinya. Raja Harischandra dengan perlahan melanjutkan..., “Maharani..., aku ini seorang budak, bukan pekerja... Upahku hanyalah beras untuk aku masak dan makan setiap hari. Aku tidak punya apa-apa di sini, dan aku bukan siapa-siapa di sini. Dalam keadaan kita sekarang ini, istriku... dalam keadaan kita seperti... Raja yang mempunyai segala...kini menjadi praja (rakyat) yang tidak mempunyai apa-apa..., maka yang dapat kulakukan adalah bagian untukku... yaitu beras yang seharusnya engkau bayarkan kepadaku... itulah yang bisa aku berikan... Engkau tetap harus membayar ongkos untuk atasanku. Aku seorang Satyawadi yang harus menjaga kata-kataku dan kesetiaanku pada tugasku, dan terutama pada atasanku. Setiap yang datang ke sini membayar mayat keluarganya, harus membayar ongkos kepada atasanku..., dan harus pula memberikan beras untukku. Jadi istriku.... pergilah... usahakanlah dapatkan ongkos itu...”.

“Tetapi Mahārāja..., hamba sudah sampaikan..., bahwa anda sudah melihat bahwa hamba tidak mempunyai apa-apa lagi, bagaimana hamba bisa membayar biaya pembakaran mayat anak kita?!” permaisuri menjawab lemah sambil menangis sedih. Ia tidak bersedih karena kata-kata suaminya, melainkan ia bersedih karena melihat keadaan dirinya yang tidak mampu menjaga kata-kata suaminya, dan juga tidak mampu melaksanakan pembakaran mayat putranya.

“Maharani..., bagaimana pun juga... engkau harus mengusahakannya, malam ini juga..., kalau tidak, maka engkau tidak bisa membakar mayat putra kita di sini,” Mahārāja Harischandra kembali menundukkan kepalanya, merasa sangat bersalah atas ketidakberdayaannya.

“Mahārāja...”. permaisuri menjatuhkan dirinya di kaki raja Hariscandra sambil menangis. “Maharaja.., suamiku..., bantulah hamba..., berikan hamba jalan, apa yang harus hamba lakukan?”

Raja Harischandra berusaha membesarkan hati istrinya. Sambil membelai-belai kepala istrinya, ia berkata, “Istriku.. Manggala Sutra itu, kalung pernikahan kita itu satu-satunya harta yang engkau miliki sekarang, itulah yang akan menyelamatkan kita sebagai orang tua, untuk kewajiban kita kepada putra kita. Istriku yang tabah..., pergilah sekarang dan usahakan mendapatkan uang dengan menggadaikannya, pergilah istriku...”.

Perlahan-lahan tanpa berkata apa pun lagi, setelah menyentuh kaki suaminya dengan kedua tangan lalu mengusapkan ke kepalanya, permaisuri Saibya melangkah perlahan-lahan keluar meninggalkan tempat itu, meninggalkan gelap, meninggalkan tempat di mana ia akan menyaksikan anaknya menghilang lenyap di dalam lalapan api. Permaisuri berjalan terus....tanpa mengetahui kemana kakinya akan melangkah.

Pepohonan tidak ada yang bergerak seakan-akan angin pun berhenti berhembus. Semua seperti ikut merasakan kepedihan hati permaisuri dan Mahārāja Harischandra. (43)





Comments