SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (44)
Fri, 04 Sep 2020, 11:11:38, 1081 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)
Maharaja Harischandra (ID)
Oleh : Darmayasa
Tersebutlah keadaan di istana kerajaan Varanasi atau Banares. Seperti biasa, suasana istana kelihatan tenang dan damai. Terutama di malam hari, suasana sangat sepi, hening, dan damai. Udara pun sejuk, terutama pada bulan Oktober; pagi indah nan sejuk, siang pun sejuk, dan malam hari udara tidak terlalu dingin.
Malam ini, dalam ketenangan malam sekali-sekali terdengar bunyi ketukan tongkat para penjaga istana, menunjukkan mereka sedang berkeliling mengadakan ronda malam di sekeliling istana. Namun, dalam keheningan malam, tanpa diketahui oleh para penjaga istana, di dalam kegelapan terlihat ada orang mengendap-endap memasuki istana kerajaan. Ia berhasil melewati lapis demi lapis penjagaan istana yang ketat dan rapi. Akhirnya, orang mencurigakan tersebut sampailah di kamar putra mahkota kerajaan Varanasi. Ia mengendap tetapi sekali-sekali mengintip ke dalam kamar putra mahkota melalui celah-celah di antara jendela kamar.
Malam itu, putra mahkota sedang tertidur nyenyak di atas tempat tidurnya. Para pelayan pun pada tertidur lelap, sepertinya semua merasa kecapaian setelah melayani putra mahkota seharian. Lelaki yang mengendap itu ternyata adalah seorang pencuri. Ia berhasil dengan mudah masuk ke dalam kamar putra mahkota. Melihat perhiasan emas berlian yang dipakai oleh putra mahkota, perlahan-lahan ia segera mendekati putra mahkota, sambil sekali-sekali matanya menoleh ke arah para pembantu yang tertidur lelap. Perlahan sekali, dengan gerakan sangat halus dan berhati-hati pencuri mencoba melepaskan perhiasan berharga dari leher putra mahkota.
Merasa ada tangan yang meraba bagian lehernya, putra mahkota menjadi terbangun. Melihat tiba-tiba ada wajah tidak dikenal di depan matanya, putra mahkota menjadi sangat kaget. Sebelum sempat berteriak, si pencuri secepat kilat menangkap dan memegang kepala putra mahkota, menutup mulut putra mahkota lalu mendekapnya. Diam-diam sang pencuri membawanya ke luar ruangan menuju ke arah taman yang gelap di belakang istana. Putra mahkota meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari dekapan erat si pencuri. Walaupun ia berusaha keras untuk melepaskan diri, tetapi karena ia anak kecil, maka tenaganya tidak berarti apa-apa di hadapan si pencuri yang berbadan tegar dan kuat itu. Pencuri membawa putra mahkota ke bawah sebuah pohon di balik semak-semak. Ketika pencuri hendak mengambil perhiasan, putra mahkota kembali meronta-ronta sekuat tenaga dan berhasil melepaskan diri dari dekapan erat si pencuri. Begitu terlepas dari pencuri, putra mahkota segera berlari dan berteriak minta tolong. Pencuri pun menjadi ketakutan. Ia langsung mengejar dan menangkap putra mahkota yang melarikan diri. Perhiasan di leher putra mahkota dirampas dengan paksa oleh si pencuri. Akan tetapi, karena takut teriakan putra mahkota di dengar oleh penjaga, maka si pencuri segera mengeluarkan pisau dan menusukkan ke dada putra mahkota. Darah menyembur keluar dari dadanya dan putra mahkota berteriak lemah dalam kesakitan berusaha meminta tolong para para penjaga istana. Si pencuri tambah ketakutan. Ia segera menyelinap masuk ke dalam semak-semak dan secepat kilat melarikan diri dalam kegelapan.
Pada saat yang sama, permaisuri Śaibya yang sedang berusaha mencari orang yang mau menggadai kalung pernikahannya kebetulan sedang lewat di sana. Mendengar teriakan anak kecil, ia langsung teringat pada putranya, dan cepat-cepat ia menuju ke tempat datangnya suara itu. Dilihatnyalah seorang anak kecil sedang menggelepar-gelepar dalam keadaan berdarah, dan pisau menancap di dadanya. Kasih seorang ibu siapa yang tahu?! Permaisuri menjadi panik dan segera mendekat lalu mengangkat kepala anak itu diletakkan di atas pangkuannya. Ia berusaha mencabut pisau yang tertancap di dada anak itu. Namun malang, tiba-tiba pada detik yang sama muncullah para penjaga kerajaan. Mereka mendengar teriakan minta tolong, lalu segera berlarian menuju ke arah datangnya teriakan.
Melihat seorang wanita sedang memegang pisau yang tertancap di dada putra mahkota, maka para penjaga istana segera berteriak, “Pembunuh….pembunuh…”. Para penjaga istana menuduh permaisuri Śaibya merampas perhiasan putra mahkota dan membunuhnya. Tidak ada seorang pun diantara para penjaga istana tersebut bersedia mendengarkan bantahan permaisuri Raja Hairschandra. Mereka semua segera mengurung dan Permaisuri Śaibya pun ditangkap lalu di bawa ke istana dengan tuduhan membunuh putra mahkota. Para penjaga kerajaan langsung membawa Maharani Śaibya ke hadapan Mahārāja Kāśinareśa untuk diadili.
Sudah terjatuh tertimpa tangga, pepatah ini barangkali sangat tepat ditujukan kepada kejadian yang sedang menimpa permaisuri Śaibya dan Mahārāja Hariscandra. Kedukaan demi kedukaan datang silih berganti tanpa ampun. Benar dikatakan oleh para bijak bahwa semakin tinggi pencapaian orang di dalam penitian jalan spiritual, maka semakin besar dan berat pula masalah serta cobaan yang datang menghadang di hadapannya. Sering pula cobaan datang dari orang-orang dekat kesayangannya. Akan tetapi, senyatanya, Tuhan tidak memberikan cobaan melebihi kemampuan abdi-Nya, karena..., Tuhan tidak memberikan cobaan penggagalan melainkan cobaan-cobaan yang membawa bersamanya sebuah karunia tersembunyi berupa pemurnian abdi-Nya. (44)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (005EN)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (004EN)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (EN003)



