Language Fri, 01 May 2026, Malta

SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (45)

Sat, 02 Jul 2022, 17:01:06, 1222 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)

Maharaja Harischandra (ID)

Oleh : Darmayasa

Melihat pesakitan dihadirkan di hadapannya adalah seorang wanita berpakaian begitu lusuh dan kotor, dengan wajah penuh kesedihan, Mahārāja Kāśinareśa menjadi tidak percaya jika wanita itu yang menculik dan membunuh putra mahkota. Raja juga melihat ciri-ciri seorang wanita mulia dan agung pada diri wanita pesakitan tersebut. Akan tetapi, mendengar kesaksian para penjaga istana dan juga tanpa pembelaan sedikit pun dari si pesaktian, yaitu Mahārāṇῑ Śaibya, maka Mahārāja Kāśinareśa menjatuhkan hukuman mati kepada permaisuri Śaibya. Raka Kāśinareśa memerintahkan agar hukuman pancung segera dilaksanakan malam itu juga.

Mendengar keputusan Raja untuk memenggal lehernya, Mahārāṇῑ Śaibya tidak merasakan kesedihan atau pun ketakutan atas hukuman pancung yang dijatuhkan pada dirinya tersebut. Maharani merasa sangat bersedih karena tidak bisa menyelesaikan upacara kematian untuk putranya. Mahārāṇῑ tidak mampu lagi meratap dengan kata dan tangis, tidak mampu lagi...karena segala kata dan tangis sudah habis....lenyap ditelan kedukaan demi kedukaan yang melampaui batas daya tahan manusia maha kuat dan maha tegar sekali pun... Permaisuri menangis dan meratap dalam kekeringan nafas dan jiwa.... Pandangan matanya kosong .... membantah sepi yang dipenuhi keramaian para penjaga istana yang menggiringnya menuju Smasana pembakaran mayat.

Sesampainya di Setra pembakaran mayat, para penjaga istana memberitahukan segera menyerahkan terhukum kepada Raja Smasana, Si Cāṇḍāla Wirabahu. Setelah menerima pelimpahan terhukum pancung, Wirabahu segera menyerahkan terhukum kepada pembantunya di tempat pembakaran mayat tersebut, yang tiada lain adalah Harischandra. Wirabahu memerintahkan Harischandra untuk sesegera mungkin melaksanakan perintah Raja Kāśinareśa, yaitu menjalankan hukuman pancung pada wanita yang dituduh membunuh putra mahkota Raja Banares.

Harischandra yang sudah mengabdikan dirinya penuh pada Wirabahu melaksanakan segala tugas yang diberikan tanpa mempergunakan pertimbangan apa pun lagi. Ia sudah menjadi alat “mati” di tangan Wirabahu. Harischandra pun bersiap melaksanakan hukuman pancung dengan pedang tajamnya. Namun, kali ini ia menjadi agak kaget karena begitu mendekat... dan mendekat..., Harischandra melihat seorang wanita menunduk lemah dengan rambut terurai menutupi wajahnya. Selama ini, ia tidak pernah menjalankan perintah hukuman mati kepada seorang wanita.

Harischandra mencoba memperhatikan wanita tersebut lebih dekat... lebih dekat.... dan... Harischandra menjadi kaget setengah mati.... karena wanita terhukum tersebut ternyata adalah istrinya..., ternyata ibu dari putranya, tidak lain adalah Mahārāṇῑ Śaibya. Ia pun tiada mampu menahan luapan dan letupan “berontak” hatinya terhadap cobaan demi cobaan maha berat yang diberikan terhadap diri dan keluarganya. Mahārāja Harischandra berteriak keras dan lantang, “Mahādevaaaaaaa........” (45)





Comments