SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (46)
Tue, 08 Sep 2020, 02:53:13, 1161 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)
Maharaja Harischandra (ID)
Oleh : Darmayasa
Pedang tajam terjatuh dari tangannya yang kuat. Raja Harischandra bersimpuh di tanah... meratap..., “Wahai Mahādeva yang Maha Pengasih dan Penyayang.... apakah ini cobaan hidup?! Apakah ini hukuman?! Ataukah ini merupakan aba-aba bagi mereka yang memilih jalan kebenaran dan kejujuran?! Duhai Mahādeva..., apakah Anda mendengar rintihan dan jeritan ketidakmampuan hambaMu menerima beban kedukaan seberat ini...?!”
Mahārāja Hariśchandra melihat permaisuri yang wajahnya tertutupi rambutnya yang terurai ...., “Dewiku....., belahan jiwaku....., apakah hatimu terbuat dari besi baja kokoh tegar? Sehingga engkau mampu bertahan ... bertahan menahan beban duka menggunung...tanpa tangis dan rintihan sedikit pun?!”
Permaisuri mencoba memalingkan wajahnya untuk melihat suaminya. Akan tetapi, lehernya sudah menjadi kaku tertahan oleh tangis duka. Ia ingin mendekat dan merangkul suaminya, tetapi kaki dan tangannya terikat rantai besi yang berat.
Mahārāja Hariśchandra berusaha bangkit dan mendekat perlahan ke arah permaisuri yang sudah pasrah menunduk siap untuk dihukum pancung. Raja berbisik lemah, “Dewiku.... kekasih hatiku...., engkau sesungguhnya Dewi Surgawi yang maha agung nan mulia...., hadir turun ke dunia ini hanya demi menemani dan memberikan kekuatan kepadaku untuk menjalani segala cobaan serta kedukaan tanpa batas ini... engkau sungguh mulia....”
Permaisuri terdiam. Walau hatinya berbicara banyak namun bibirnya tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Sesekali nampak badannya berguncang, pertanda permaisuri raja menahan tangisnya. Raja Harischandra melanjutkan, “Istriku.... aku adalah orang yang terikat dalam sumpah kejujuran dan kesetiaan. Aku harus menjalankan perintah atasanku, yang juga menjalankan perintah Raja... istriku yang malang...., engkau sungguh salahmemilihku sebagai suamimu.... kini aku harus membunuh istri tercintaku... seorang Dewi surgawi yang mempunyai jiwa kemuliaan sempurna.... Dosa apakah yang aku lakukan pada kelahiran laluku sehingga aku harus menghadapi hukuman maha berat seperti sekarang ini...?”
Permaisuri Śaibya berusaha menenangkan RajaHarischandra, sambil tetap merunduk karena tangan dan kaki terantai… dan … dengan kalimat terpatah-patah meminta agar suaminya melanjutkan upacara pembakaran jasad putranya nanti setelah Harischandra melaksanakan hukuman pancung untuk dirinya.
Mendengar permintaan permaisuri seperti itu, Mahārāja Harischandra tidak ingin menunda pelaksanaan hukuman pancung untuk istrinya. Ia tidak ingin memperpanjang derita permaisuri. Raja mengambil kembali pedang yang terjatuh dari tangannya tadi dan segera maju mendekati istrinya yang sejak tadi sudah menundukkan kepala pasrah menerima hukuman mati.
Sambil berdoa kepada Mahādeva, Raja Harischandra memohon ampun pada istri dan pada Mahādeva. Raja Harischandra mengangkat pedangnya yang tajam dan mengayunkan ke arah leher permaisuri Śaibya, dan...... (46)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (TAMAT)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (55)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (54)



