SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (49)
Thu, 10 Sep 2020, 02:37:36, 1210 View Administrator, Category : Maharaja Harischandra (ID)
Maharaja Harischandra (ID)
Oleh : Darmayasa
Tiba-tiba..., keduanya dikejutkan oleh suara tinggi dan lantang, “Hara Hara Mahādeva...... Hara Hara Mahādeva....”, terdengar suara melengking tinggi memuji-muji keagungan Hyang Śiva Mahādeva. Bersamaan dengan pujian tersebut, muncullah Maharesi Viśvāmitra di hadapan Mahārāja Hariśchandra dan permaisuri Śaibya. Wajahnya bersinar cemerlang, berpakaian merah safron, tangan kanannya memegang tongkat suci, dan tangan kirinya memegang tempat tirtha suci, Kamandalu.
“Hara Hara Mahādeva...... Hara Hara Mahādeva..., wahai Rajadhiraja Maha Agung Harischandra...., apa yang terjadi?! Apakah benar kejadian yang sedang terjadi di hadapanku ini?! Seorang Raja Agung Bijaksana memenggal leher istrinya??? Hara Hara Mahādeva....”. tanya Maharesi Viśvāmitra kepada Raja Harischandra.
Melihat Maharesi datang, dan mendengar pertanyaan “protes” dari Maharesi Viśvāmitra seperti itu, Mahārāja Harischandra perlahan melepaskan permaisuri dari pelukannya, lalu mendekati Maharesi sambil menghaturkan sembah bhakti, diikuti oleh permaisuri Śaibya, “Om.... pranamāmi... hormat bhakti kami kepada Maharesi yang mulia...”. Maharesi Viśvāmitra mengangkat tangan kanannya, dalam sikap Aśirvāda-mudrā, yaitu sikap orang-orang suci bijaksana ketika memberikan karunianya kepada para śisyanya, atau kepada yang lain.
Mahārāja Harischandra perlahan berdiri tegak, menunjukkan sikap seorang Rajadhiraja, sikap seorang gagah bijaksana yang teguh di dalam kebenaran dan kejujuran, menjawab dengan suara pelan, jelas, tegas penuh wibawa, sambil sekali-sekali menunduk, dan juga sekali-sekali menatap wajah Maharesi Viśvāmitra, “Duhai Maharesi Viśvāmitra yang hamba hormati..., hamba sudah memastikan diri dalam sumpah, bahwa dalam segala keadaan, melalui segala cara..., hamba telah memastikan diri untuk berpikir, berkata-kata, dan berlaksana yang sepenuhnya jujur dalam kebenaran. Hamba tidak akan pernah mengingkarinya dalam alasan apa pun. Hamba sudah mematuhi ucapan sumpah hamba tersebut. Demi kesetiaan pada kejujuran dalam kebenaran, karena terpaksa, hamba sampai hati menjual anak dan istri hamba kepada seorang brāhmaṇa...., hamba akhirnya menjual diri hamba, demi melunasi uang Dākṣiṇā persembahan kepada Maharesi. Dan akhirnya, demi menjaga kepatuhan pada majikan hamba seorang pembakar mayat, dalam ketegaran hati yang demikian berat, hamba melaksanakan hukuman mati terhadap istri hamba. Maharesi yang hamba hormati..., hamba tidak akan pernah bergeming sedikit pun dari kejujuran dan kebenaran, dalam tawaran apa pun. Hamba tidak membunuh istri melainkan hamba menjaga kepatuhan sumpah hamba dalam melayani kejujuran dan kebenaran sejati....”
Tiba-tiba, Guru kerajaan dari Mahārāja Harischandra, yaitu Maharesi Vaśiṣṭha muncul di hadapan Maharesi Viśvāmitra dan Maharesi Viśvāmitra, “Hara Hara Mahādeva...., hiduplah dan jayalah selalu siswaku Mahārāja Harischandra...” Raja Harischandra dan permaisuri segera menghaturkan sembah sungkem kepada Guru Spiritual Kerajaannya. Setelah memberikan pemberkatan atau karunia kepada Raja dan Permaisuri, Maharesi Vaśiṣṭha segera menoleh kepada Maharesi Viśvāmitra sambil berkata, “Wahai Maharesi Agung Viśvāmitra...., bukankah sudah aku katakan dahulu bahwa muridku ini adalah murid yang begitu teguh dalam mempertahankan kejujuran dan kebenaran. Apakah anda sekarang sudah puas melihat siswaku yang begitu teguh dalam menjaga kejujuran dan kebenaran?”
“Wahai Maharesi Vaśiṣṭha yang maha mulia...., anda mengatakan Mahārāja Harischandra jujur, sedangkan aku sendiri membuktikan secara langsung Raja Harischandra sangat amat tangguh dalam menjaga kejujuran dan kebenaran. Aku sangat bangga dan memuji Mahārāja Harischandra atas kejujurannya ini. Oleh karena Mahārāja Harischandra sangat kuat dan teguh dalam mempertahankan kejujuran dan kebenaran, maka mulai sekarang, nama Raja Harischandra akan dikenal oleh dunia selamanya sebagai seorang Rajadhiraja yang Satyavadῑ, seorang Maharajadhiraja yang memegang teguh kebenaran dan kejujuran. Maharesi yang mulia..., Anda sangat beruntung mempunyai siswa sangat agung dan mulia seperti Mahārāja Harischandra. Ia adalah seorang Rajadhiraja yang sangat teguh dalam mempertahankan kejujuran dan kebenaran...”, Maharesi Viśvāmitra menjawab pertanyaan Maharesi Vaśiṣṭha dengan tenang, penuh damai, dan bijaksana.
Mendengar penuturan Maharesi Viśvāmitra seperti itu, dengan sangat segera Maharesi Vaśiṣṭha berkata, “Mulai sekarang..., siswaku Mahārāja Harischandra akan dikenal selamanya sebagai Satyavādῑ Mahārāja Harischandra. Muridku ini tidak akan pernah bergeming sedikit pun dari kejujuran dan kebenaran. Jayalah engkau wahai siswaku, Sang Satyavādῑ Mahārāja Harischandra.”
Tiba-tiba, Maharesi Viśvāmitra menoleh ke bawah satu pohon rindang. Semua pandangan pun tertuju ke arah Maharesi Viśvāmitra mengarahkan pandangannya. Semua melihat wajah Resi Viśvāmitra menjadi sangat serius, menakjubkan dan bersinar mengagumkan. Ternyata beliau memandang Putra Mahkota, Rahulaśva yang sedang berbaring tanpa nafas, yang meninggal karena dipatuk ular berbisa. Semua yang hadir menjadi terkagum-kagum karena mereka semua menyaksikan Maharesi Viśvāmitra sedang menghidupkan kembali Putra Mahkota, Rahulaśva yang tadinya sudah siap di-“aben”, upacara kematian “antyesti” pembakaran mayat. Putra mahkota tiba-tiba langsung bangun dan duduk. Ia melihat ke semua arah dalam keheranan. Sebelum putra mahkota menyadari sepenuhnya apa yang seadng terjadi di hadapannya, Mahārāṇῑ Śaibya segera berlari dan memeluk putranya sambil menangis bahagia, demikian pula Mahārāja Harischandra. Mereka bertiga; Raja Harischandra, permaisuri raja, dan putra mahkota saling berpelukan dan menangis gembira. Sedangkan dua orang tokoh suci dari Sapta Ṛṣi, yaitu Maharesi Viśvāmitra dan Maharesi Vaśiṣṭha saling pandang dan tersenyum menyaksikan ketiganya saling berpelukan dan menangis.
“Wahai Satyavādῑ Mahārāja...”, demikian Maharesi Viśvāmitra berkata dengan lembut tetapi tegas kepada Mahārāja Harischandra. Maharesi melanjutkan, “Anakku Harischandra...., lupakanlah segala apa yang sudah berlalu, baik itu suka maupun duka... karena ia hanyalah hitam-putihnya hidup, tidak ada insan di dunia ini yang terlepas dari sentuhan kuat dari kuasa “Rwa-bhinneda”, -- hitam dan putih, baik dan buruk, benar dan salah. Jangankan orang biasa, tokoh-tokoh agung bijaksana, Resi, Muni, Yogi pun mengalami kesulitan untuk mengatasi pengaruh putaran kuat dari Rwa-bhinneda, dua kekuatan maha dahsyat yang berbeda. Oleh karena itulah dunia dinamakan Jagat Samsāra, alam yang digerakkan secara sempurna oleh panas-dingin, baik-buruk, benar-salah, dan lain-lain. Sambil mengelus-elus punggung Raja Harischandra, Maharesi melanjutkan wejangannya, “Anakku..., janganlah terbingungkan oleh perputaran dua yang berbeda ini.... karena keduanya datang dan pergi, datang dan pergi... memberikan hembusan dan belaian halus, sekaligus juga hantaman dahsyat yang memporakporandakan segala rencana yang dibuat oleh manusia. Janganlah engkau tertipu anakku..., rwa-bhinneda ini terbingkai rapi dan indah dalam bingkai emas Deśa (tempat, daerah), Kāla (waktu, zaman), dan Pātra (orang, individu, atau kelompok masyarakat). Hadapilah dengan tenang dan damai dalam kesabaran...sebab ia merupakan putaran sempurna tanpa henti. “Sukhasyanantaram duhkham”, setelah kesenangan datang, maka segera pula ia akan disusul oleh kedukaan. Jika orang tidak bersabar menghadapi datangnya kesukaan, maka “sukhasyanuśayi rāgaḥ”, maka pikirannya akan dihinggapi oleh berbagai jenis kesenangan dan keinginan yang berseliweran, yang selanjutnya menaburkan lem pelekat keterikatan yang maha kuat dalam hidupnya. Ketika kesenangan dan kenikmatan datang..., janganlah engkau tertipu, lalu melonjak riang gembira dalam kesukaan. Jangan anakku... sabarlah dan ‘tontonlah’ kenikmatan dan kesukaan tersebut dengan tenang sebelum engkau mengalaminya. Sebab, sangat banyak...bahkan hampir semua kenikmatan dan kesenangan duniawi, bawaannya adalah kedukaan. Ia tidak kurang dan tidak lebih merupakan kata ‘bujukan’ dari kedukaan”.
Maharesi terdiam... sambil sekali-sekali melihat permaisuri dan putra mahkota yang sudah menjadi tenang dan berdiri di sebelah Maharaja Harischandra.
“Duhkhasyanantaram sukham”..., Maharesi melanjutkan wejangannya. “Anakku..., kedukaan datang pun selalu diikuti oleh kesukaan. Susulan kesenangan akan datang dengan baik menyapa setiap insan yang bersabar dan tabah ketika dilanda kedukaan dan masalah-masalah hidup. Ketika kedukaan datang, janganlah menunjukkan reaksi segera. Jika tidak, ‘duhkhasyanuśayi dveṣaḥ’ – kedukaan akan diikuti oleh kebencian dan fitnah. Engkau tidak akan mampu melihat kemuliaan yang bersembunyi di dalam kedukaan dan masalah-masalah. Kesabaran dalam kepasrahan akan membantu insan manusia selemah apa pun untuk berhasil melewati kedukaan tersebut, yang akan datang menyapanya dalam bentuk kesenangan dan kebahagiaan...duhkhasyanantaram sukham...”, Maharesi Viśvāmitra terdiam dalam kewibawaan ke-maharesian-nya.
Tiba-tiba..., wajah Maharesi Viśvāmitra kelihatan menjadi serius, berubah bersinar cemerlang, sambil tangannya menunjuk lembut, lalu berkata kepada Raja Harischandra, “Anakku....., lihatlah....” (49)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (TAMAT)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (55)
SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (54)



