Maharaja Harischandra (ID)
-
Oleh : Darmayasa Menyaksikan pemandangan menyedihkan seperti itu di hadapannya, Mahārāja Harischandra menjadi jatuh terduduk. Dadanya berguncang keras menandakan bagaimana ia menahan tangis agar tidak keluar...
-
Oleh : Darmayasa Semua yang hadir dan mendengarkan penuturan brāhmaṇa tua itu menjadi keheran-heranan serta menjadi prihatin melihat keadaan wanita pembantu rumah tangga tersebut. Bagaimana seorang wanita mulia
-
Oleh : Darmayasa Demikian halnya dengan apa yang sedang dihadapi oleh Mahārāja Harischandra..., bah kemuliaan pasti datang pada mereka yang menjaga keyakinan kuat pada karunia Hyang Maha Kuasa. Tiada berapa lama
-
Oleh : Darmayasa Semakin lama semakin padat kerumunan orang-orang yang mengitarinya. Akan tetapi, tidak seorang pun yang mengajukan tawaran untuk membeli istri Mahārāja Harischandra. Ada yang tidak berani membeli
-
Oleh : Darmayasa Kembali Mahārāja Harischandra melangkahkan kakinya menuju pasar Banares yang sangat padat dan ramai. Raja tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia bahkan tidak menyadari gerak langkah kakinya
-
Oleh : Darmayasa “Ayolah Tuanku Raja…, jangan banyak pertimbangan lagi. Ambillah keputusan dan lakukanlah segera. Juallah diri hamba dan lunasilah segera utang Anda. Hamba tidak ingin melihat Anda
-
Oleh : Darmayasa SATYAVADI MAHARAJA HARISCHANDRA (28): Mendengar kata-kata permaisuri, Mahārāja Harischandra merasa seperti mendapat semangat baru. Ada harapan baru tumbuh di dalam hatinya, bahwa istrinya sudah
-
Oleh : Darmayasa Mahārāja Harischandra yang sudah memastikan untuk menjual dirinya (svavikraya viniścitya) sudah terus menerus berteriak lantang menjajakan diri. Namun, tidak kunjung datang seorang pembeli yang
-
Oleh : Darmayasa Mahārāja Harischandra tetap mengelus-elus kepala permaisuri berusaha untuk menenangkan dan membesarkan hatinya, kemudian mencium keningnya dengan lembut. Mereka berdua saling pandang dan...,
-
Oleh : Darmayasa Mahārāja Harischandra sangat mengerti akan tekanan batin yang sedang dirasakan oleh permaisurinya. Perlahan-lahan beliau mendekati permaisuri yang sedang bersedih, membelai kepalanya dengan penuh



